Sunday, February 21, 2010

Catatan Malam

Cukup sering ketidakpuasan bertamu dan bertandang dengan semena mena dalam hidup. Dengan nyamannya dia menghampiri kita, menetap bahkan mengatur semua tindak tanduk dan tingkah laku yang seperti apapun besarnya dan sedahsyat apapun dampaknya, tetap saja bermuara pada satu definisi baku... Kerdil.

Namun ada yang lebih menyeramkan. Ketika kita sebagai tuan rumah yang memiliki hak serta otoritas lantas bersalah kaprah dengan suksesnya dan sebisa mungkin meminta menjamu bahkan melayani ketidakpuasan untuk lebih lama tinggal. Hingga pada akhirnya kita rela hidup kita diambil alih oleh ketidakpuasan dan berujung pada satu .... Sesal

Gak mencoba menjadi si Tuan Bijak, karena tingkah laku, polah serta cara pikir masih sangat jauh dari bijak. Tapi sedikit pengalaman yang pernah terjadi dalam hidup menggelitik Saya untuk menuangkan seberkas opini yang mungkin akan berguna bagi beberapa orang yang sedang mencari kepastian dalam bersikap. Pun, opini ini sangat pribadi. Kental dengan subjektifitas dan nilai nilai diri yang sangat saya.

Saat ini pun terlintas andai dalam pikiran. Apakah ini salah satu indikasi ketidakpuasan? Pun, Insya Allah, andai ini masih dalam batas aman. Secara manusia, tidak mungkin lekat dengan kesempurnaan... dan sepertinya tidak mungkin lepas dari Andai...

saat ini hanya mencoba menjalani pasti dalam hidup. Dengan mimpi sebagai acuan. Tempatkan andai di urutan terbelakang bila ingin maju ke depan. Atau jadikan Andai sebagai pamacu serta pemicu segala kebaikan dalam hidup serta pendorong dalam meraih mimpi untuk mendaratkannya di alam kenyataan.... Hmmm, hiduo yang nyaman bila itu terjadi....

Mudah mudahan andai tidak berujung pada ketidakpuasan...

Saturday, December 12, 2009

Sekedar Ungkapan Hati...

Paling benci sama yang namanya midnight struck…. Perasaan Mellow yang gak jelas mendadak dateng; Gak pake permisi, gak pake basa basi. Lagian kenapa juga sih harus sekarang?? Malem minggu gitu lho… Ato mungkin ini Cuma salah satu gejala akut para jomblo yang minim kegiatan berarti. Settttan!!

Gak tau juga sih ada hubungannya sama Setan ato enggak…. Tapi Less Midnight Struck ini (Yess, less midnight karena ini baru jam 10.45) mungkin terjadi karena beberapa alas an:
1. Kenal sama orang baru yang sepertinya menjanjikan untuk diprospek. Tapi sepertinya Gw jumping way to fast to conclusion. Masih berharap kalo dia memang prospektif, tapi sekarang gak mau terlalu berharap. Takut sakit ati…. Lagi!!
2. Ketemu orang yang berkali kali Gw sampein rasa suka Gw ke dia, and the result….. fall flat. Walaupun jujur, bahkan setelah beberapa tahun, Gw masih menyimpan harapan yang sama kepada Dia. Mungkin pathetic; atau mungkin Gw yang gak mau berhenti berharap…. Moga aja ada kesempatan bagi harapan Gw untuk jadi nyata… Amiin

Another feeling of being abandoned and repelled is coming again. Try my best to get rid of them, but the other part of me kind of like wanting “it” to stay. Am I a sadomasochist that enjoying, or even worse needing, pain to satisfy me??? Ooowwhhh….. it makes me shiver just by saying the word. No… I know that I’m not a sadomasochist; I just prefer to be mellow for a while. Maybe by having this moment will makes me realize how precious a love is; and having someone for you is a privilege for every human to get, to have and to achieve

Cliché perhaps, but I am now looking - and still looking for sincerity. It is somewhere to be found. What I don’t know is whether I am looking for it in the right place or not?? Can my heart still able to detect sincerity?? Do I sincere?? I can only say “ I guess so..”

Another dream to have; another goal to achieve: Another hope to keep. Hoping another way will be open, another opportunity will be given and finally, another victory will be won…

It’s not just a dream; for sure it’s not a wishful thinking. It’s a future projection, yet also a pray…
Tuhan….. Tolong dengar pintaku, kabulkan do’aku dan jadikan aku hamba hamba yang bersyukur….

Aku berserah, tapi tidak menyerah…

Nyata awal Mimpi

Berikut ini jarak antara nyata dan mimpi
Bagai rumput dengan awan
Atau laut dengan gunung
Mungkin semut di atas tanah
Yang menatap elang terbang

Tapi sepertinya bukan mimpi
Untuk rumput tumbuh di awan
Untuk laut aliri gunung
Untuk buat semut di tanah
Ikut terbang bersama elang

The difficult only takes a while;
While the impossible takes a little longer….

Tapak ini sedang menanjak
Sedikit terhambat, bukan berhenti
Hanya rehat, sebentar istirahat
Untuk kembali menapak, kembali menanjak

Sebentar lagi…
Sedikit lagi….
Mimpi teraih….

Monday, October 19, 2009

Dan Ketika Malam....

Aku pun terhanyut oleh suasana malam..... tenangnya.... misterinya... temaramnya.....

Ada indah dibalik gelap yang menyelimuti. Seakan aku memang dilahirkan dari malam dan untuk malam.... hidup dan bergaul dengan malam..... serta merasa hangat dalam dinginnya malam.....

Aneh mungkin.... setidaknya absudrd. TApi perasaan hanya bersikap dan berkata jujur.... Bahwa kutemukan damaiku dalam Malam.....

Mungkin di waktu malam, energi mimpi menguatkanku... khayal dan imajinasi lebih terasa nyata dan total.... Semua keluh kesah seperti hilang oleh heningnya malam..... digantikan dengan kelembutan semilir angin malam yang membawa nyaman di dalamnya....

Mungkin duniaku sudah terbalik, tak lagi berbanding lurus dengan kebanyakan orang. Tapi hati ini berkata sebenarnya.... Malam menyenangkanku....

Masih berandai bila malam ini aku di atas peraduanku.... ditemani sejuknya udara malam, sambil mendengarkan dendangan lagu manis pengantar tidur....

HAri ini hati penuh dengan kesal dan sedih..... Tapi seiring malam datang, perlahan tapi pasti hati menjadi lebih tenang.....

MAlam ini, aku ingin nikmati sendiri......

Terima kasih Malam.... Terima kasih Pencipta MAlam.....

DAn aku tersenyum kembali :)

Friday, October 9, 2009

View from the Top

Pemandangan Jakarta dari lantai 21 bisa jadi penyegaran tersendiri. Siapa sangka kalo macet bisa jadi pemandangan indah ketika dilihat dari atas?? Eksotisme Jakarta ternyata terletak pada indahnya pijaran lampu gedung dan kendaraan yang tersebar hampir di setiap sudutnya..... Cantik

Tapi semua itu gak bisa merubah bimbang menjadi yakin. Sulitnya memutuskan memberi beban tersendiri pada hati yang ruangnya sudah sesak dengan ragu. Terkadang ingin sekali melompat dari lantai yang tinggi ini dengan posisi kepala dibawah dan berteriak sekencang kencangnya. Walau konsekuensi badan hancur, paling nggak masalah Gw pun ikut hancur. Sayangnya, bunuh diri itu dosa. Tapi pernah gak terpikir kenapa bunuh diri itu dosa? Karena kita memutuskan menyelesaikan hidup sebelum waktu hidup kita selesai? Mungkin sih. Tapi menurut Gw, bunuh diri itu dosa karena itu cara paling efektif untuk kabur dari masalah; Dan kita sebagai muslim, dilarang keras untuk lari dari masalah. Setiap mahluk yang lahir di dunia terjadi karena kompetisi. Manusia bisa lahir juga karena kompetisi; kompetisi antara jutaan sperma yang pada akhirnya cuma ada satu yang berhak membuahi sel telur; Dan itu gak lain gak bukan adalah sperma yang paling pertama bertemu dengan sel telur. Walhasil, jadilah kita

Bukannya jorok yaa; Atau sok Biologi-Ilmiah gimanaaa gitu. Cuma ingin mengingatkan aja (terutama sih ke diri sendiri) kalo mahluk hidup itu dasarnya memang kompetitif. Jadi, kalo kata D'Masiv sih "Jangan Menyerah..."

Hidup itu gak pernah lepas dari pertimbangan. Yang Gw tau, kita selalu mencoba untuk mempertimbangkan yang terbaik sebagai keputusan. Tapi dalam keputusan yang terbaik pun tetap ada resiko. Tapi paling nggak resikonya cukup minimal

Dan saat ini pertimbangan yang terbaiklah yang coba Gw ambil. Berharap pertimbangan ini memang pertimbangan yang benar dan tepat. Gak boleh lagi berpaling ke belakang. Pokoknya gak boleh menyesal...

Saat ini, Gw cuma bisa mengucap satu kata

"Bismillahirrohmanirrohim..."

Tuesday, August 18, 2009

(Tak) Bisa ke Lain Hati...

Kompleksitas perasaan. Ini adalah Isu basi yang sebenarnya sering hinggap di hati tiap orang yang sudah berkomitmen dengan seorang pasangan; Baik Komitmen yang legal, ataupun belum. Perasaan menjadi kompleks ketika komitmen telah diikrarkan, tetapi serasa cukup sah untuk dilanggar dengan dalih gak bisa membohongi perasaan; Karena perasaan ternyata berbicara lain ketika ada insan lain yang tiba tiba hadir dan memberikan rasa yang lebih hebat dibanding dengan orang yang saat ini hati dan perasaannya tertaut dengan kita. Biasanya sih kata kata yang terus muncul di saat seperti ini “Sial… kenapa sih dia baru dateng sekarang? Coba dari dulu dulu, pasti Gw gak bakalan selingkuh!!” …. Yakin Lo?

Ketidaksempurnaan dalam menyayangi seseorang kerap ada di tiap manusia. Apalagi ketika kita masih belum yakin apakah pasangan kita memang calon jodoh masa depan yang memang hanya dengan dia kita akan menghabiskan sisa usia kita. Dalih lain yang biasanya muncul adalah “ Gw kan Cuma mencari yang terbaik. Yang bisa bikin hati dan perasaan tenang. Kalo pasangan kita memang bukan yang terbaik, yaa wajar kan kalo Gw berpaling ke orang lain?” Masalahnya, yang sering berbicara itu nafsu, bukan hati. Dan Gw yakin seyakin yakinnya kalo kita bisa ngebedain omongan nafsu sama omongan hati. Why? Karena kita emang udah dilengkapi sensor untuk bisa ngebedain 2 hal itu. Jadi, jangan bilang “Masa Sih??” Karena kalimat yang harusnya keluar itu “ Iya Sih…”

Tapi kita kerap gak peduli dan bodo amat dengan omongan hati dan lebih sering mengikuti omongan nafsu yang ujungnya kadang lebih sering bikin kecewa dan sakit hati. Gak harus kita yang sakit hati, tapi bisa aja orang lain yang merasakan itu. Buruknya, kalo ternyata orang yang sakit hati adalah orang yang sudah kita ajak untuk menjalin komitmen. Perasaan jadi campur aduk, dan menyesal adalah perasaan yang paling dominan. Tapi kadang kita gak jera juga dengan mengambil keputusan untuk bersama orang baru yang sudah sangat sukses mencuri perhatian dan hati kita dibanding untuk tetap bersama dengan orang yang sudah kita kenal lebih jauh. Ironis yaa… tapi apa memang cinta selalu ironis? Atau kita – selaku pemeran dan pengarah drama percintaan ini – yang mengarahkannya ke arah ironi? Jujur, Gw pribadi gak bisa jawab. Tapi, mencintai dan dicintai oleh orang yang sangat kita cinta dengan kadar sayang dan ketulusan yang optimal dari kedua belah pihak – sumpah, itu surga dunia. Tanpa bermaksud sotoy, Gw yakin semua orang sepakat dengan kalimat Gw yang terakhir ini. Gw – dan kita semua kali yaa - Cuma berharap jalannya gak usah berliku liku dan kompleks, apalagi miris dan merugikan pihak lain. Cukup cerita cerita kayak gitu ada di karyanya Shakespeare aja, gak usah sampe di kehidupan pribadi. Paling nggak Gw sih gak mau ada di kehidupan Gw.

Lagi lagi sebuah angan menggoda dan berlari lari kecil di pikiran; Hati berharap angan itu berujung di kenyataan. Do’a dipanjatkan, usaha dilaksanakan. Sekarang, tinggal menunggu hasil; Sambil terus berusaha, sambil terus berdo’a. Semoga bisa jadi nyata; Semoga gak ada hati yang terluka; Semoga gak ada tetesan air mata; Semoga…..

Thursday, July 16, 2009

Guarentee, I am now 100% Jomblo Free. Proven, Tried &Tested :)

Pernah gak denger kata kata “Indah pada waktunya” Mungkin itu yang Gue rasain sekarang. Satu kejadian indah yang udah lamaaaaaa buanget Gw idam idamkan untuk bisa kejadian dalam hidup Gw, akhirnya kejadian juga. Pedoman diatas yang ber genre pop mellow romantis bokis itu emang dimaksudkan buat orang orang yang punya mimpi dan belum juga kesampean ( Walaupun sih katanya cepet nggaknya suatu hal, tergantung niat sama kemauan serta do’a. And actually, it’s not supposed to be that serious Nyet!!)
Pacaran – yang konteks, konten serta kadar cintanya cukup niat serta gak melibatkan personifikasi binatang sebangsa Sun Go Kong – buat banyak orang mungkin udah dirasain sejak mereka kuliah di tingkat tingkat awal. Malahan gak jarang yang udah nyolong start dan mulai dari SMA. Well, I’m not of them. Ketika Gue kuliah, Gw udah dianjurkan untuk cari pacar. Tanggapan Gue?? “Jangan Gila Dooongg…” Why?? Secara waktu itu Gue masih resmi di cap, di stempel, di label dan di bar code sebagai anak alim – N it is something that I am very thankful for. Jadi kosakata pacaran itu agak gw remove sementara waktu dari kamus hidup Gw. Gak terasa, si anak alim ini sudah beranjak dewasa menjadi seorang laki laki tulen nan baik hati dan tidak sombong (secara gak ada juga yang bisa Gw sombongin), pekerja keras yang gak kenal waktu dan gak kenal malu, pemakan segala makanan yang bisa diutangin dan bisa dimintain, serta penganut gaya metroseksual modal pas pasan agak kekurangan. Well, perlahan tapi pasti, Gw merasa gelar anak alim mulai pudar dari diri Gw. Gak ada lagi tanggung jawab yang bersangkutan dengan dunia kealiman yang harus Gw emban – kecuali tanggung jawab Gw sebagai hamba Allah (Yes, this one is serious Guys). Tapi paling penting, Gak ada lagi yang jadiin Gw panutan, karena paling beban yaa disitu itu. Sebenernya sih gak bagus juga yaa, secara sewaktu Gw jadi anak alim, sifat petakilan bin pecicilan Gw yang gak beda jauh sama belatung nangka, bisa Gw tekan. Begitu juga dengan sifat sifat Gw yang lain yang katanya cukup negative, kayak ngerampas dompet nenek nenek jompo, ngejorokin orang buta ke jalan raya atau motong selang minyak rem di mobil orang. Tapi kan kalo bandelnya kayak gitu masih bisa dibilang wajar dong….
Eniwey, back to the topic. Ternyata pemikiran Gw bakalan jadi Jomblo sejati baru aja ditepiskan oleh kenyataan yang berbicara lain. Dia bilang “ Males Gw ngeliat Lo ngejomblo melulu, nih Gw kasih pacar. Hooeeek …. Cuuiiihh”. Akhirnya seorang pacar dilepehkan oleh kenyataan, khusus cuma buat Gw. Manisnyaa… (He..he..he.., Sori yaa Yang. Cuma bercanda ). Walhasil, sekarang Gw punya pacar deh. Kenapa tiba tiba ada kata kata JoTi (Jomblo Sejati) yang mendadak muncul? Karena Gw menyingkat semua perjalanan serta siksaan dan cobaan hidup dalam mencari pacar (lebaii deh…) yang emang sengaja Gw gak mau tulis secara detail. Males aja mengingat hal hal yang sedih, secara saat ini Gw sedang bahagia dengan konstannya. Tapi, there are moment of despair and uncertainty. Sewaktu Gw memutuskan untuk pengen punya pacar, kayaknya susssaaahhhh buanget untuk dapet 1 oraaaang aja dari jutaan orang yang ada di Jakarta. Yes, Jakarta. Coz I don’t do LDR - Both for Long Distance Relationship and Length Dick Reduction. Butuh waktu bertahun tahun lho untuk akhirnya Gw bisa dapet 1 orang ini. Gokilnya lagi, prosesnya yang selama ini gw pikir bakalan ribet, ternyata sama dia malah simple simple aja tuh. Bentuk bentuk penolakan yang sangat variatif dan kreatif seperti “Kita Jadi temen aja yaa”, “Gw Cuma mo have fun”, “Lobang Idung Lo terlalu gede”, “Jakun Lo eksis banget”, “Muka Lo mirip bokap Gw”, “Suara Lo sember kayak TOA mesjid” sampe “you’re a good guy, I’m a jerk. U better be with someone else” udah Gw alamin. Gw pikir dengan dia Gw akan ber De Javu ria dengan mengalami penolakan yang udah kesekian kalinya. Ternyata jawaban yang muncul dari mulut dia “Yes… Oh Yes… Oh Yes Baby, Yes… Yes… Yes” (Maksudnya, dia itu ngejawabnya dengan full of excitement. Pada Jorok aja sih pikiran Lo semua). Jujur aja, perasaan terbang melayang di awang awang yang Gw pikir bakalan Gw rasain setiap hari ketika Gw ada pacar, gak terlalu Gw rasain. Cuma yang Gw tau pasti, Gw sekarang ada tempat untuk sekedar Curhat, Cerita, minta support, minta saran, minta tolong, minta dibayarin dan minta dianter anter he..he..he..
Gw gak tau kenapa baru sekarang dan bukannya kemaren kemaren Gw dapet pacar. Gw juga gak tau kenapa harus melaui serangkaian penolakan,umpatan, cacian, hinaan serta siksaan yang membuat nasib Gw gak jauh beda nasibnya sama Manohara. Mungkin kalo Gw simpulkan dengan pikiran dan perasaan yang positif, semua pengalaman pahit serta hal hal negative yang Gw dapet dari orang lain, gak lebih gak bukan dimaksudkan untuk jadi bekal berharga Gw. Supaya nantinya Gw gak melakukan ini ke orang lain, apalagi ke pacar sendiri…. Good point kan . Selain itu, Gw rasa pengalaman itu datang juga sebagai pengkonfirmasi apakah Gw bener bener siap dan bener bener pengen untuk menjalin suatu hubungan yang namanya pacaran. Apapun hikmahnya, I’m glad with the outcome.
Saat ini, Gw punya pacar. Pacar yang suka bilang “ I Love U” ke Gw. Dan Gw Cuma bisa menjawab
“ I Love U More ”

Wednesday, July 1, 2009

Mulai Nulis lagi Deh...

Ternyata udah itungan bulan sejak posting tulisan yang terakhir. Bukannya gak mau posting apapun. Bukan juga karena gak ada kejadian atau gak ada cerita yang menarik untuk dibagi atau sekedar ditulis. Tapi emang lagi males aja. Mungkin karena perlahan tapi pasti Blog udah gak terlalu booming, tergantikan dengan gegap gempita dan meriahnya FaceBook dimana mana. Dari Emak Emak Metal, Nenek Nenek Lincah sampe anak kecil sotoy pada berebutan bikin FaceBook. Kayaknya jaman Friedster alias FS dulu gak segininya deh. Salut lah buat si FaceBook maker...

Alasan lain kenapa Gue vakum cukup lama dari dunia blogging, karena Gue punya keiniginan bikin blog en tulisan yang mirip sama Blog en Tulisannya Raditya Dika si Kambing jantan. Walaupun - berani sumpah deh - sekalipun belum pernah liat blognya dia kayak gimana (Bodohnya, kenapa juga gak Gue cari. Secara tinggal ke Google, ketik : Blognya Raditya Dika si Kambing Jantan, pasti ketemu). Tapi dipikir pikir lagi, kenapa juga harus dibuat mirip kalo emang bisa dibikin beda. Bukannya keunikan dan nilai jual itu ada di perbedaan?? Akhirnya Gue balik lagi ke taste awal dari Blog ini,yaitu - menurut Gue yaa - coba mengambil dan menguraikan sebuah atau beberapa kejadian yang terjadi di hidup Gue, coba cari maknanya, coba ambil hikmahnya dan coba memberi semangat - kalo emang itu issue yang butuh support. Intinya sih, I just want Me to Be Me. So start from now, I want to give Me opportunity to be more Me. To focus more on Me. MayB I'm selfish, But I know for now, this is what Me needs.

Pengen jadi seseorang yang beda, atau pengen jadi seperti orang lain emang bukan hal yang baru, dan bukan hal yang salah pastinya. Apalagi kalo banyak hal positif yang bisa diambil dari orang tersebut. Kayak Gue yang masih belajar untuk bisa menulis dan - mudah mudahan - bisa bikin novel dari apa yang gue tulis. Tapi pada akhirnya kita harus bisa proporsional. Seorang Dia bisa berhasil yaa karena dia menjadi dia dengan caranya dia sendiri yang sangat dia. Dia bisa eksis dan sangat menikmati apa yang dia kerjakan yaa karena dia menjadi dia, enjoy dengan apa apa yang jadi kesukaan dia, fokus dan tekun dengan semua kemampuan dia dan berhasil serta HAVING FUN dengan cara cara dia yang - lagi lagi - sangat amat dia. Jadi.... masih mau jadi seperti orang lain?? Mending sih jadi diri kita sendiri yang berkeinginan untuk sukses seperti orang orang yang lain yang juga jadi dirinya sendiri :). Kalo gitu kedengerannya kan lebih menyenangkan, Rasanya juga jauh lebih nyaman ... kan???

Awal mula tulisan ini bisa sampe ke posting lagi sih gak lebih dari:

1. Temen di FB yang mendadak ngasih "eheemmm...." compliment atas tulisan Gue (Jiaahh... mulai GR deh si dodol) Walhasil... nulis lagi ah, kali aja dipuji lagi he...he..he... *Najisss!!*

2. Hasil dari obrolan sama temen yang bisa ngeramal (Herannya, dia jarang banget ngasih ramalan yang bagus ke Gue. Kayak takdir idup gue cuma ditulis sama satu kata aja: SIAL!! - itu penjelasan, penegasan sekaligus umpatan) Dia bilang kalo Gue harus fokus sama keinginan Gue. Gue harus fokus sama diri gue sendiri. Fokus... Fokus... Fokus... Menurut Gue, kalo kita mau fokus sama diri kita sendiri, yaa kita harus tau apa yang kita mau. Kalo mau tau apa yang kita mau, kita harus jadi diri sendiri, biar kita ngeliat segala sesuatu dari persepsi dan kacamata kita dan dari posisi kita, bukan dari persepsi, kacamata dan posisi orang lain. Jadi, kalo nanti merenung tentang diri sendiri, kita harus egois... ngerti kan maksud Gue??

Kalo ditanya apa yang Gue mau, bisa bisa sampe subuh nanti gak kelar kelar. Secara namanya keinginan, gak ada abisnya. Tapi, secara umum sih, Saat ini gue mau hidup yang stabil, tinggal sendiri, karir dan pekerjaan yang jelas dan pasti, keuangan yang lebih dari cukup. Ada satu hal lagi yang Gue harap bisa kejadian dalam waktu dekat (kalo bisa sih sebelum Gue Ultah ) .... Gue pengen punya pacar :)

Pengen punya orang yang bikin Gue senyum waktu Gue sedih. Bikin Gue ketawa kalo Gue nangis. Bisa Gue peluk, Bisa Gue jadiin sandaran, Bisa ngasih ketenangan kalo Gue lagi kalut dan bisa bilang "Aku sayang kamu... "

Lalu Gue Jawab "Aku juga sayang banget sama kamu..."

Tuesday, March 10, 2009

Satu Hari, Banyak Drama...


Bener bener yang namanya hari esok itu misteri banget. Jangankan besok, nanti aja atau 10 menit ke depan, bisa jadi suatu misteri yang sangat gelap dan tidak terprediksi, sampe kadang gak bisa diterima sama akal sehat. Dahsyattt...

Seperti hari ini. Banyak kejadian diluar rencana, atau ahkan sama sekali gak pernah kepikiran untuk jadi suatu rencana, ternyata terjadi. Antara lain:

1. Kehilangan Teman

Atau lebih tepatnya menghilangkan teman. Kesannya saya jahat dan sombong banget yaa. PErcaya deh, tanpa bermaksud membela diri secara berlebihan, "teman" seperti mereka memang pantasnya cuma sebatas tau, bukannya kenal, apalagi akrab. Jadi ada 1 orang teman yang saya kenal secara OL, lewat media yang mungkin udah gak lagi asing di telinga kita, Friendster. TErnyata eh ternyata, kita bisa akrab. Telefon telefonan, sharing sampe curhat - tapi lebih tepatnya sih dia yang sering curhat ke saya. Padahal kita baru pernah ketemuan 1 kali. Dia masih muda dan sudah menoreh prestasi yang gak main main. Dia juga datang dari kalangan High End, dimana teman temannya kebanyakan bukan orang sembarangan. Beberapa kali saya merasa dimanfaatkan karena dia menelfon saya hanya pada saat dimana dia mau curhat. Saya sih gak merasa keberatan, secara temen kan. Tapi... dan ini yang bikin BT. Kalo saya telefon dia, dia most of the time selalu bilang sibuk lah, gak bisa terima telefon dulu lah, gak enak badan lah, while I wanted to do was just talk. Pengen say Hi aja, secara temen. Sampe Tadi saya kenal sama 1 orang yang ternyata temennya dia juga. Saya main ke kost dia. Waktu kita ngobrol ngobrol, lagi lagi kita ngomongin dia (Sebutlah si X). Akhirnya saya coba nelefon si X. Tapi ternyata sambutannya gak menyenangkan. Dia bilang dia gak bisa ngomong banyak karena lagi sakit gigi. Lebih parahnya, dia langsung tutup telefonnya even before I said goodbye. Lima menit kemudian, temen saya yang juga temen dia coba telefon si X lagi. Ternyata sama temen saya ini dia bawelnya bukan main. Sakit giginya sih gak bohong, cuma kenapa dia bisa ngobrol lama dan panjang lebar sama temen saya, tapi langsung nolak aja gitu sama saya?? padahal gak pernah sekalipun saya nolak atau males ngomong sama dia. Kalaupun iya, saya berusaha menanggapi dengan sopan. So enough is enough. Setelah sadar kalo saya gak lebih daripada keset kaki buat dia, saya apus nomer dia dari HP, apus YMnya, apus FBnya dan apus FSnya. Bubbye X...

2. Nambah Teman

Hilang satu, tumbuh seribu. Buktinya, ilang temen 1 yang menurut saya memang gak penting, saya kenal sama teman lain yang kenalnya langsung, face to face. Menariknya, saya kenal dia karena dia nyanyi di kereta. Bingung?? Begini ceritanya...

Saya naik kereta dari stasiun UI. Setelah Gondok bin Dongkol karena nunggu kereta dodol yang gak dateng dateng, akhirnya dateng juga kereta jurusan Jakarta. Naiklah saya. Kebetulan, Dia (si temen baru) lagi ngobrol sama kedua temennya. Dan sebenernya, tadinya saya merhatiin kedua temennya, bukan dia. Why? karena saya pikir mereka kok mirip banget. Saya perhatiin dari Stasiun sampe di dalam kereta. Baru sadar kalo mereka kembar waktu mereka standing side by side. Potongan rambutnya sih beda, makanya orang - or at least saya - gak langsung engeh. Anyway, gak lama ada seorang pengamen nyanyi. Itu hal biasa di kereta. Yang gak biasa, setelah 2 lagu dibawain sama si pengamen, si Temen Baru (Sebut aja A) tiba tiba ngomong ke si pengamen dan nyanyi bareng. N I was like... Wow, this boy got a gutz allright. Dua lagu dia nyanyiin. Suaranya sih gak terlalu spektakuler, pun gak jelek juga. Tapi PDnya itu lho, selangit boss. Padahal tampilan dia biasa aja. Secara saya juga suka banget nyanyi, saya langsung samperin n kenalan sama dia. Kali besok besok kita bisa duet bareng di kereta.

TApi sih, hari ini penuh dengan drama. Apa yang saya tulis disini pastinya belum semuanya. KEbanyakan aja kalo semua ditulis. Sampe sini aja pasti orang udah pada males baca. I know I do, n Im the 1 who wrote it..

Hikmahnya:

Lain kali kalo mau starting the day, baca Bismillah, biar yang kejadian yang bagus bagus aja. Kalopun ada kejadian buruk, kita bisa jadi orang yang ikhlas dan mengambil hikmah atas kejadian itu. Gak kayak gue sekarang, mutung kayak lutung...

Mungkin emang harus sholat dulu, biar hati sama otak adem...

Thursday, February 12, 2009

Kalo Berharap Jangan Ketinggian

Soalnya makin tinggi kita berharap, makin sakit juga kalo gak dapet apa yang kita harapin. Apalagi kalo tinggal dikiiiiitttt lagi dapetnya, tapi... dia malah lolos (lagi).

Sedih yaa, apalagi buat yang udah jutaan kali mencoba tapi tetep aja gak dapet apa yang selama ini diimpi impikan. Kalo kecewa mah sangat wajar banget. Asal jangan kelamaan dan berlarut larut aja. Bukan apa apa, kesian kitanya. Lagian, itu bisa bikin kita buta sama kenyaataan yang mungkin gak lama setelah kita kecewa, dateng kesempatan baru yang lebih baik. Cuma aja karena kita terlalu sedih, kita jadi gak aware.

Buat temen temen yang udah berulang kali mengalamai kekecewaan...
Hang In There yaa...

Buat yang berkali kali juga dikecewakan sama yang namanya Cinta (basi banget yaa)...
Sabar juga...
The Right Person is on the Way...

Meanwhile, please allow me to entertain U all with this Song

Khalil Fong - Sing Along Song





Cry If U want To...
But Don't Be to long...
Be Brave embracing the truth...
Than you'll Find Ur self as a winner
And U'll Shine :D

Tuesday, January 13, 2009

Trust Me, I try to make U Proud...

Hari ini Jakarta dan sekitarnya diguyur hujan, termasuk kepala dan badan saya. Untungnya sih gak pake kuyup, secara mau masuk kantor. Tengsin berat aja kalo sampe kuyup, karena AC di kantor berhembus dengan brutalnya. Kecuali kalo emang ada niatan untuk sakit. Ditambah hari ini telat (lagi), mana kemaren udah gak masuk karena macet n ujan. Beneran deh, yang namanya malu udah sampe di ubun ubun. Untung aja muka masih cukup tebel untuk nahan malu.

N Like it's not enough, there is this conversation... again!!

Pertentangan dalam memilih jalan hidup antara saya dengan Mamah lagi lagi diangkat oleh Mamah pada waktu dan tempat yang sangat tidak tepat. Sampe sini saya akan tampak seperti anak kurang ajar yang gak tau diri karena berani beraninya nyalahin Emak sendiri yang perduli terhadap sang anak. Beneran deh, saya gak berenti berentinya berterima kasih dan bersyukur pada ALLAH atas Ibu yang sampe umur saya segini masih sangat peduli sama saya. Cuma sekarang saya tau kalo yang namanya berlebihan itu emang gak baik, termasuk "perhatian" kepada anak. Karena menurut sang anak - n that is me - jadinya malah mengganggu dan terkesan intervensi. Padahal, prinsip saya sih, walopun para ortu berhak mencampuri urusan anaknya, kan tetep ada batasannya. Salah gak sih kalo saya menjadi tidak nyaman atas perhatian yang terlalu besar kepada saya, karena saya merasa she's invading ma space. Ibarat berdiri di atas kotak yang muatnya pas agak lebih sedikit untuk saya berdiri, tapi kemudian ada yang berusaha untuk ikutan berdiri juga di atas kotak saya. Pastinya kan sempit...

Not to point ma finger to her, surely not. Itu - lagi lagi - akan sangat kurang ajar. Cuma, saya ingin kotak saya dihuni saya sendiri aja, karena itu udah masuk ranah pribadi saya. Gak salah kan yaa?? Masa Iya anak gak boleh punya ruang pribadi.

YAng jadi permasalahan adalah rumusan "ruang pribadi" yang Pemaknaannya ternyata agak berbeda antara saya dan Mamah (Sigh). Lama lama perbedaan makna ini jadi benturan yang sulit untuk dielakkan dan selalu aja berujung pada konflik. Ironis aja, secara kita Ibu dan anak, tapi akhir akhir ini kita malah susah untuk diamprokin (bahasa betawinya buat diketemuin bareng). Sedih banget, dan si Mamah pasti merasa jauh lebih sedih daripada saya. Bukan gak berusaha untuk menghindari konfrontasi, secara saya bukan tipe orang yang suka jedotin kepala orang lain ketembok cuma karena muka dia yang saya anggap gak ada bagus bagusnya untuk diliat. Saya cinta damai Boss, sumpah deh. Cuma ada beberapa hal yang menurut saya udah jadi prinsip dan - paling nggak - bisa bersikap atas prinsip tersebut. Tapi kenapa endingnya malah selalu debat? Ato malah lebih ke menghujat. Sedihnya lagi, one is always try to "beat" the other party.

Sering banget dada saya sesak. Kalo udah gini biasanya saya suka ngebayangin enaknya dada bagian tengah, tepat di ulu hati ditembus panah ato tombak, biar segala beban dan perasaan gundah yang terasa bikin sesak dada bisa keluar. Sakit saya ambil sebagai konsekuensi. Lagian sepertinya gak bakal sebanding dengan lepasnya semua beban gundah yang selama ini bikin dada terasa penuh dan pepat.

Saya mencoba untuk menjadi anak yang baik dan selalu mencoba memberikan yang terbaik. Terutama untuk orang tua dan keluarga. Lebih terumata lagi Ibu alias Mamah. Tapi saya pun punya pendapat dan keinginan sendiri. Saya telah diberikan privellege oleh Tuhan untuk memilih jalan hidup saya sendiri. Maka tolong saya memilih jalan hidup saya...

Tentunya saya gak ingin jalan hidup yang saya pilih malah menjadi beban bagi keluarga, terutama orang tua - apalagi Ibu. Tapi saya juga ingin diberikan kesempatan.

Mudah mudahan kali ini Mamah bisa mengikhlaskan dan meridhoi saya atas jalan hidup dan keputusan yang saya ambil.

Jadi inget bagian terakhir di Film Sixth sense. Bagian dimana si anak yang punya indra keenam itu bertanya ke Ibunya " Apa yang Ibu tanyain sama Nenek waktu pemakamannya, karena Nenek bilang jawabannya setiap hari" Ternyata si Ibu bertanya "Apakah saya pernah bikin Ibu bangga?"

Dan itu pertanyaan yang selalu ada setiap hari di kepala dan hati saya terhadap Mamah, Papah, Adik adik saya dan seluruh keluarga saya.

Kalau memang belum, tolong kasih waktu, karena saya ingin buat semua bangga. Saya mau bikin KEluarga saya bangga kepada saya, SAya mau bikin Papah dan Adik Adik saya bangga terhadap saya, Saya mau bikin Mamah bangga terhadap saya.

Karena, saya sangat amat bangga sama Mamah. Sangat amat bangga Mah. Dan saya sangat amat sayang Mamah, Papah, Adek adek dan semua keluarga.


Tolong, kasih kesempatan sama saya untuk membanggakan kalian semua...

Kalo Ujan terus Curhat.... Gini deh Jadinya!!

Sebagai anak yang berpikiran normal dan dengan suasana di keluarga yang cukup kondusif, pasti gak akan ada pikiran untuk mengecewakan orang tua - terutama Ibu - dan saudara saudaranya. Yang ada sih, mereka akan berusaha sebaik mungkin untuk bisa berupaya mendapatkan yang terbaik, melakukan yang terbaik untuk 1 hal: Kebanggaan orang Tua. Karena kalo orang tua bangga, berarti orang tua bahagia. Kalo orang tua bahagia, berarti orang tua rela terhadap kita dan apa yang kita kerjain. Hmmmppphh, kalo aja semua semudah teori dan omongan...

Saya suka nonton E News: Behind the Stars. Itu semacam acara Biografi artis artis Hollywood. Emang sih gak terlalu penting, tapi tetap aja ada pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman hidup mereka. Apalagi para bintang Hollywood yang bener bener merangkak dan memulai karir dari bawah. Mereka rata rata bekerja keras, pantang menyerah, fighting spiritnya tinggi, cobaannya banyak - termasuk yang menentang - termasuk dari keluarga, tapi karena konsisten, mereka sukses. Hasilnya, ortu dan keluarga yang mungkin tadinya menentang, sekarang berbalik mendukung. It's the Cinderellay Story of reality. Endingnya manis, walaupun kehidupan gak berenti disitu. Tapi paling nggak, ada satu tahapan yang mereka udah selesaikan karena mereka udah bisa meraih dan mewujudkan mimpi mereka. PR selanjutnya sih mempertahankan apa yang udah didapat, tapi itu udah lain cerita.

What I wanna tell U all adalah, kenapa yaa orang tua selalu memaksakan pendapat dan keinginan mereka kepada anaknya. Saya yakin seyakin yakinnya kalo keinginan mereka pasti yang terbaik buat anaknya. Tapi yang terbaik buat anaknya kan belum tentu yang anaknya inginkan? Terus kalo kita punya jalan sendiri, biasanya selalu dicari kesalahan dan kelemahan trus dibalikin dengan versi yang lebih horror, lengkap dengan segala fakta yang biasanya dimulai dengan kata "Buktinya..."

Coba deh, kita dikasih kesempatan. Mungkin kita emang butuh waktu yang sedikit panjang. Kan kesian juga kalo kita jadi anak harus berhadapan dan bertentangan dengan orang tua, padahal untuk bisa sukses, kita harus berhadapan dan bertentangan juga dengan banyak orang dan banyak kendala. Kalo akhirnya kita jadi plin plan dan bingung karena bertentangan dengan ortu... gimana dong. Kalo mo nyalahin orang tua, dibilangnya anak kurang ajar. Langsung deh ada wanti wanti "Awas durhaka. Emang mau dikutuk jadi batu terus nemenin Malin Kundang ? Udah posenya si Malin Nggak benggetz lagi. Its not fierce... (Nonton America's Next Top Model kalo mau tau artinya "Fierce")

Pengen coba cari jalan tengah atas hal hal kayak gini, karena hal hal kayak gini yang saat ini sedang saya hadapi. Ribet deh. Tapi paling nggak saya jadi yakin kalo emang saya harus "berdamai" dengan ortu saya, kasih pengertian. N Kalo tetep gak mo ngerti juga, minta restunya aja - yang secara logika sih gak mungkin dikasih kalo ortu udah gak suka sama apa yang kita lakukan, walopun sebenarnya positif.

Tapi... Kita adem aja kali yaa. Kalem, gak usah nyolot. Apalagi sama Emak sendiri. Taon boleh 2009, tapi saya masih percaya sama yang namanya kualat sama ortu - terutama Ibu n bisa aja end up jadi batu. Jadi, cerita cerita Hidayah di TPI, walaupun cheessy, bukan berarti ngibul. Kebayang aja seremnya kalo kejadian sama kita. Nauzdubillahiminzalik... amit amit cabang bayi!!

Ternyata emang gak mudah yang namanya berkomunikasi. Selama ini saya anggap gampang karena saya gak terlalu sulit untuk berkomunkasi dengan orang. Tapi itu semua jadi gak berarti kalo ternyata komunkasi sama ortu malah amburadul ancur berantakan. Teorinya, dengan orang yang lebih dekat, harusnya bisa lebih mudah berkomunikasi karena kita udah lebih kenal karakter dan pribadi ortu. Jadi kalo ternyata malah dodol bin melorot komunikasi kita ke Ortu, than there's gotta B something wrong. N yes, I do dedicate this especially for ma self. Damn!!

Pada titik ini saya tetap berharap dan berusaha untuk mencari jalan tengah atas kengototan kedua belah pihak. Saya yakin kalo solusi itu ada, tapi tergantung siapa yang mau memulai untuk berjalan ke arah solusi. Kayaknya sih harus sang anak duluan kali yaa. Secara.... (please feel in the blank with ur most convinient answer)

Than Wish me Luck :)

Tuesday, December 16, 2008

Ayooo... Hidup Positif

Orang bilang kalo selalu ada hikmah di balik setiap musibah yang terjadi pada diri manusia. Kalo pribahasanya orang bule sih " Behind every cloud, there's always B a silver lining ".

Sampe sekarang pun saya masih percaya sama prinsip tersebut. Tapi ketika cobaan dirasa makin berat dan makin bertambah, mungkin gak manusia malah gak mau mencari hikmah dari musibah. Lama kelamaan persepsi positifnya tergeser dan hanya ada nuansa negatif yang kelam dan makin gelap di hadapan matanya.

Memang sih, saat saat seperti itu memang saat dimana kita gak boleh berhenti berharap. Karena harapan pada akhirnya akan menggiring ke arah solusi. Tapi menurut saya, cukup manusiawi juga bila pada saat saat itu harapan jadi kasat mata. Pertanyaannya, apakah sebenarnya solusi itu timbul - atau paling tidak berawal - dari harapan, atau murni intervensi campur tangan Tuhan atas nasib hamba hambanya. Jadi gak perlu berharap pun, kalo emang masalahnya harus selesai, yaa selesai lah. Tapi harapan kan juga pemicu do'a, n do'a kan salah satu persyaratan yang diminta Tuhan dari hamba hambanya biar - paling nggak - sekali sekali hambanya tau diri dan mau deket lagi sama Sang Khalik. Jadi malu hati gue...

Siang ini di area kantor ada acara dari Coca Cola, tapi sih bukan promosi produk. Mereka bikin kampanye tentang Live Positively. Inti dari kampanyenya apa juga saya gak ngerti. Tapi 1 hal, Mottonya itu lho... gokil. Maksudnya, susah aja 2 live positively. Kalo 2 think positive aja susah, apalagi 2 live positively?? Tapi mungkin saya yang terlalu pesimis.

Jujur, hari ini emang lagi ada masalah. Tapi acara Coca Cola ternyata memberikankontribusi positive. Hubungannya?? Salah satu cowok yang jadi maskot di acara itu tadi sempet ngomong ke saya waktu saya papasan sama dia "Live Positive yaa MAs"...

Emang sih dia sebenernya coba mensosialisasikan motto acara yang lagi digelar, cuma buat saya, itu semacam support. Mungkin itu pesan yang coba Tuhan saya sampaikan ke saya. Live Positively, coz there will B a Bright side in all of ma problems that Im having now...

At least Im hoping so...

N Im still hoping...

Saturday, October 11, 2008

Skak Mat!!

Ternyata begini rasanya salah perhitungan. Merasa rugi. Bila kehilangan Uang bisa membuat kita sangat kecewa, Apa jadinya kalo yang hilang ternyata seorang teman? Hanya akibat dari salah perhitungan. Tapi... Apa memang ini langkah yang harus diambil??

Ternyata menjadi tegas bisa sangat menyedihkan, bahkan ketika itu hal yang benar. Terlebih, bila emosi didahulukan daripada akal.

Seperti yang saat ini saya rasakan...

Sedih...
Kecewa...
Bersalah...

TOLOL!!

Monday, October 6, 2008

Beri Kesempatan pada Peluang

Kata orang jangan pernah menolak rejeki, karena itu sama saja dengan gak bersyukur kepada Tuhan. Selain itu, mungkin saja rejeki itu gak datang lagi. Tapi... apakah rejeki yang datang itu memang rejeki yang kita inginkan? Bagaimana bila ternyata peluang yang datang malah memberi rasa ragu, ambigu serta dilema yang sangat amat tidak nyaman? Di satu sisi, rejeki atau peluang menjadi solusi atas masalah yang mungkin sedang dihadapi ,tapi apakah tidak ada rejeki dan peluang lain selain peluang yang saat ini sedang Ia jalani?

Saya selalu percaya dengan pilihan. Walaupun saya bukan ahli agama dan tidak terlalu religius, tapi saya tau dan sangat amat yakin bahwa pilihan selalu disediakan, dan bahkan tersebar bagi semua manusia.

Mungkin pilihan ini pilihan yang paling baik, walaupun bukan pilihan yang paling nyaman. Bila ada yang berargumen bahwa hal yang baik memang diawali dengan ketidaknyamanan dan kerja keras, saya kurang setuju. Kerja keras betul bisa memberikan hasil yang baik, tapi tidak selalu harus diliputi ketidaknyamanan. Karena ketidaknyamanan hanya akan memberi tekanan pada orang tersebut dan membuat dia kurang bisa berekspresi dan berbuat optimal. Ataukah ini hanya pembenaran diri saya saja?

Pastinya saya berharap saya diberikan kesabaran oleh Tuhan untuk dapat melihat hikmah yang pasti akan muncul. Sampai waktunya tiba, mudah mudahan saya masih bisa bertahan.

Menjelang tengah malam. Saya rasa saya masih akan coba memberikan kesempatan pada peluang. Entah sampai kapan, entah untuk berapa lama....

Bismillahirrohmanirrohim....

Sunday, June 22, 2008

Write What U Know...

Today I just watched a movie with a title "And She Was". I didn't watch the movie from the beginning, but I think its about an actress thats trying to maintain her existence in the world of Cinema by trying to be a Script writer (Gue banget yaa... for the Scriptwriter part). Since she's an actress, she had read a lot of scripts, so she made a "phony" Script by taking the premise from an old movie and add it from another movie script. To make the story short, due to her act, her best friend that just got a promotion as a vice producer got fired. So to make things better, she really needs to make a good script, a real and original one that has never been published before. She was having a hard time at first, but when her brother came to her and said "U can do this, Its Ur passion. Ur good at this, U know it very well. Just write what U know..." And the end, well, its so predictable. But the moral of the story... Just do what U do best, Follow Ur heart. Reach Ur Dream... And that is exactly what Im intending to do.

I don't believe in coincidence, but I do believe in signs. It kinda confusing perhaps, but its true. I mean, in my perception, God does work in a mysterious way, but still God gave signs to us. Why? Coz Its just not God if he has to sending U letter, Email or Text U trough Ur Cell phone. For sure God wont talk to U directly, coz if it does happen, U can assure Ur self Ur no longer on earth.

Gak tau kenapa, tapi film tadi Saya anggap sebagai pertanda bahwa ... Lucky Andreadi, Just stick to Ur dream and to what U can do best. That is make things up... and put it as a story :D .... an interesting story of course. I take that as a sign - my sign. Other than a reminder or more as a warning that I have to finish a Script that already past the the deadline more than a week... yaaiiikkss.

Having a determination is like telling Ur self where to go. But In life, its just not that easy to find Ur destination. It takes some time. But this is a suggestion that might work. Spend some time with Ur self. Ask Ur self what do U really want? What do U want to do? What do U like to do? What do U wanna Be? Sometimes the answer is something that most people will find ridiculous, bizarre, unusual or impossible. Maybe U wanna be a Model while Ur almost 30? Or U wanna go round the world by backpacking? U wanna published books? U know what, hell with what other people say and just do it. Free Ur self from those obstacles. Im not gonna say that things will be easier afterward, but at least U already free Ur self from the chains that keeps U for all this time. Ur no longer tight up and attached with things that U consider as burdens. Im not saying U should be indifferent... No... but just embrace those dream for opportunity may not come again... and time is the biggest opportunity of all.

Semangat... Kata kata yang saya sering berharap datang dari orang lain. Tapi tetap saja pada akhirnya hanya diri kitalah sang penyemangat sejati, walaupun dukungan dari orang lain, apalagi orang tersayang, sangat ampuh untuk membentuk optimis.

Ada seorang teman yang pernah bilang "Orang sukses sebenarnya hanyalah orang biasa. Mereka sama sama bermimpi dan sama sama memiliki mimpi. Namun yang membedakan orak orang sukses dengan orang biasa adalah: Mereka bermimpi dan berusaha untuk meraih dan mewujudkan mimpi mereka, sedangkan orang biasa hanya mampu bermimpi dan berhenti sampai disitu" .... Bijak yaa. Dahsyat. Singkat tapi dalem...

Jadi.... Kamu termasuk yang mana? Orang sukses atau orang biasa? Satu hal yang saat ini saya akan lakukan dan selalu akan saya lakukan adalah menyemangati diri saya dan orang lain yang sedang berusaha meraih mimpi....

SEMANGAT YAA.... TETAP BERUSAHA... PANTANG MENYERAH TEMAN TEMAN... PERCAYA DEH, KITA BISA... :D


Norak yaa, but really, I dont give a damn. For me, iTS a new Start of A new Day ... Cheers ;D

Thursday, June 19, 2008

Kebodohan si Bodoh...

Keledai dibilang bodoh ketika dia masuk ke lubang yang sama untuk kedua kalinya, padahal keledai memang sudah diasosiasikan dengan kebodohan. Saya yakin kalau saja keledai bisa bicara dalam bahasa manusia, keledai pasti tidak mau dan tidak rela selalu dihubung hubungkan dengan kebodohan. Yang lebih tidak mengenakkan lagi, pernyataan keledai itu bodoh ternyata berlaku universal, tidak hanya di Indonesia saja. Sedihnya jadi keledai, salah apa dia. Tapi walau begitu, keledai tidak selalu masuk ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Itu mungkin usaha keledai untuk tidak lebih direndahkan lagi martabatnya. But guess what? Human does more stupid than a mule. Far more stupid for some people. They fell in to the same hole more than twice. Even though they realize it and see the hole right before their eyes. Yet, they still let them self fall in to that same hole... again!!

What a human... what an embarrassment... what a stupidity.... what a jerk!!! Worse, I happen to be one of them. Kalo aja bunuh diri itu halal, mungkin saya sudah bunuh diri saya sendiri sekarang. Bukan karena menyerah, cuma aja mencoba untuk mengurangi jumlah orang orang yang bodoh di dunia ini. Tapi kalo orang orang bodoh sadar diri bahwa mereka bodoh dan bunuh diri, bayangkan berapa jumlah populasi penduduk dunia saat ini. Pastinya sih, Over population is no longer an issue.

Tapi saya pikir kesempatan yang diberikan oleh TUHAN buat saya bukan hal sembarangan. Itu bukan main main dan pastinya bukan hal yang bodoh. Walaupun mungkin banyak orang yang bertanya tanya kenapa orang yang udah jelas jelas buruk, penjahat, busuk dan bajingan masih aja dikasih kesempatan lagi dan lagi dan lagi dan lagi? Saya gak bisa jawab kecuali ini: TUHAN MAHA PENYAYANG. Kelar... pastinya sih dengan satu harapan: Hambanya Tobat dan gak lagi jadi bodoh. Karena gak menggunakan otak dengan optimal adalah salah satu bentuk tidak bersyukurnya seorang hamba. Gak menggunakan kesempatan yang dikasih TUHAN? Itu sangat amat tidak bersyukur banget. Tapi walaupun begitu gak berarti TUHAN bodoh, tetep aja TUHAN MAHA ADIL... bikin dosa yaa dapet dosa. Kalo baik dapet pahala. Gak melakukan hal yang buruk aja dah dapet pahala. Tapi kalo kita niat untuk melakukan hal yang baik pahalanya udah dikasih. Baik yaa.... SUBHANALLAH.

Yang namanya penyesalan emang selalu aja dateng belakangan. Padahal kalo aja gak mau ikutin hawa nafsu pasti deh gak bakal bikin kita nyesel. Bahkan semuanya akan lebih baik. Tapi kalo ngikutin hawa nafsu, gak cuma nyesel tapi juga yang ada semuanya jadi berantakan, jadi ribet dan akhirnya kacau balau ancur berantakan. At least thats what happen to me. Tapi bodohnya saya, saya tetep aja mengulang hal yang sama.

Metode apa yang harus saya gunakan yaa biar semua keburukan dan kebodohan saya gak lagi terulang? Kalo aja malaikat di kanan kiri saya bener bener keliatan dan bisa disentuh, itu kayaknya bakalan ampuh banget buat bikin saya kapok dan langsung jadi baik bin alim. Tapi sepertinya memang itu tantangan sebagai manusia, gimana caranya kita tetep bisa bener dan lempeng jalannya tanpa ada yang ngawasin. Gak tepat juga sih kalo bilang gak ada yang ngawasin, secara TUHAN 24 hours a day always watching us from above. Tapi kita gak bisa ngeliat aja. (Yaa iyalah. Pernyataan yang Bodoh!!)

Berharap kali ini bisa jadi titik balik bukanlah nisbi, hanya tergantung sikap dan tindakan. Bila sikap bisa disatukan dengan niat dan keinginan serta kecerdasan berpikir, bukan hanya bisa menghindari bodoh, tetapi juga bisa meraih sukses. Ternyata meraih mimpi memang tidak mudah, namun juga tidak terlalu sulit. Beri usaha semampunya, pasti nanti kita akan dihampiri oleh keberuntungan. Itu hasil jerih payah dari usaha kita dalam tindakan apapun. Bila konsistensi bisa dijaga, maka mimpi pun bisa teraih. Sabar memang harus dipunya, walau sulit memang. Tapi Do'a sangat ampuh untuk membuat sabar berlari terbirit birit menghampiri kita.

Sekali lagi saya ingin mengadah dan bekata "Tuhan, beri aku kesempatan lagi... untuk memperbaiki diri, untuk meraih mimpi"

Dan masih saya berusaha...

Friday, April 11, 2008

Ketika Mulutku Rancu ....

It is better to have what U need rather than having what U want. Is it also better to say what U need to say rather than what U want to say? Should I just keep it all inside again, let it evaporate, let it gone with the wind and just pretend that nothing is happen?

Words are one of the world wonder. It has a magical power either to heal or to hurt someone's hart. If it heal so good, people are willing to give their lives for U. If it hurts so bad, people are willing to take Ur lives from U. Its a two side of coin.

I heard in a radio few days ago, two announcers was telling a story about a Kid an a Wise father. One day, the kid has a dream. In his dream, he saw two lions fighting again Each other. The first Lion look so clean. The fur was gold shiny, The claws look so sharp coz it relfecting a light from the tip of its claw. Its roar sounds so loud, yet also soothing. While the other Lion its the opposite of the first lion. It looks so dirty, the fur was ripped and not shiny at all. Smell so bad and it roars so loud, it makes U scared. Both Lions are fighting against each other and they just wont stop. The kid ask his father about his dream, hoping the father could give an answer of his confusion. After he explained it to his Wise father, his father was thinking for a while until he finally says " My dear Son, the both Lions represent both of Human side, our side, Thee Good side and The bad Side. So, they always try to conquer each other. Its a battle of eternity". The son seems to understand. Yet, he ask another question to his Father. "So .. who will win the Fight Daddy? The Good Side or The Bad Side?". The Wise father took another moment to think. This time, he took a longer time than before. After a few while, the wise father gives his son the answer with a smile adorn his face "It depends on which do U feed most?"

If Im telling what I want to say, is that mean Im feeding the Bad Lion? and If Im telling what I need to say, is that mean Im feeding the Good Lion? Bad how about the freedom of speech?

I watch Oprah Winfrey Show several days ago. In her show, she has a guest.A women who wrote a book (I forgot the title of the book) and who turned out to be an inspirational person coz she can makes people turn their life to a better way. One of the tips from her is just to write down the happy things in Ur life and to put away the bad things. That's make sense. She also said and asked everyone in the studio and at home to be great full for everything, coz that will makes Ur life feel so much better. I agree.

But,everyone can not and shall not forget about the past. Past - for me - is a path that wee need to see and have a look, just to make us aware of our journey.

Its an effort for me to have a turning point. I am willing and trying to write down only happy things and happy plan in ma life. Since after I read ma Blog, Most of ma articles are sad sad story. Is ma life that sad? Or am I just to melancholic? I mean, I want ma Blog to be inspiring too.

As I am now listening SUGABABES song - RUN FOR COVER, it reminds me how I always consider ma Blog as a place for me to run, to search for a cover. For I finally have something to channeling ma sadness. I am finally able to say what I want to say without most people knowing who I am. If I cry in a dark corner of ma room, it inspired me to write. If I feel like wanna scream, it inspired me to write. When somebody or some people break me and get me down, I tend to write. Its ma place, its ma runaway. Its ma sanctuary, So shall I change it?

Mulut ini hanya bisa tergugu ketika hati pun menjadi gagu. Perubahan memang absolut, namun apakah salah bila memilih tidak berbeda? Ketika sayapku lagi lagi dipatahkan, apakah masih bisa aku terbang?

Mulut Rancu, atas sikap hati yang terlalu Lugu
Bagai robot dengan antena kendali di atas kepala, aku berjalan bukan atas keinginanku
Apa itu kebebasan? Apakah merdeka punya arti atas diri yang memilih untuk bersembunyi?

Cahayaku sudah redup, jiwaku mulai terkatup. Tertutup ragu yang mulai membuat nyaman seperti dendangan lagu.

Bila ... Kapankah Bila menjadi pasti untukku?

Mohon maaf Bila, saat ini aku mencoba untuk menyingkirkanmu. Aku ingin menggantimu dengan pasti.

Ragu ... tolong enyah dariku. Pintu keluarnya sudah kau tau ... silahkan, sebelum aku melemparmu.

Hanya satu pertanyaanku bila semua akhirnya terjadi. Singa mana yang sedang kuberi makan?

Tuesday, April 1, 2008

Tuhan ... Ijinkan Aku Bertanya ...

Tuhan ... Bila dalam kesulitan Hamba Mu menangis dan ragu kepada Mu karena keinginan Ku yang tidak juga tercapai, salahkah Aku ...?

Tuhan ... Bila Aku ingin meraih Mimpi namun tidak juga tergapai, lalu aku marah dan kesal kepada Mu hingga aku enggan menghadap Mu, salahkah Aku ...?

Tuhan ... Bila aku sadar pilihan Ku salah, namun hatiku tak kuasa untuk berpaling, paling tidak belum untuk saat ini dan membuat Aku malu untuk menyapa Mu ... salahkah Aku ...?

Tuhan ... Bila harapan yang aku punya tetap berupa harapan belaka lalu aku kecewa kepada Mu dan berprasangka buruk tentang Mu, salahkah Aku ...?

Tuhan ... Bila aku berpaling dan bergantung pada Hamba Mu yang lain sebagai penenang hati dan penyejuk jiwa, salahkah Aku ...?

Tuhan ... bila saja ada jawaban dari semua kebingungan dan kebingungan Ku yang selalu saja membuat Ku gamang, bimbang dan tidak tenang, dimana harus ku cari ...?

Tuhan ... Bila memang ada Do'a yang dapat membuat semua keinginan dan mimpi mimpi Ku tercapai, dimana harus ku dapat ...?



Betul Tuhan ... aku sedang kecewa
Betul Tuhan ... aku sedang marah

Betul Tuhan ... aku memang berprasangka
Dan betul Tuhan ... aku memang curiga

Kecewa atas semua do'a yang Ku rasa tak pernah terlaksana
Marah atas kesulitan yang menimpa dan solusi tak nampak ada
Prasangka bahwa akulah satu satunya Hamba yang tak pernah ingin Kau sapa
Curiga bahwa peduli Mu untuk Ku tak lagi nyata

Aku ini sedang buta ... butuh bimbingan bijaksana ... butuh semangat ... butuh juga belaian hangat ... serta kata kata sejuk penuh manfaat ...

Tuhan ... mengapa Kau biarkan Aku tersesat? Apakah Aku tak lagi kau genggam erat? Aku butuh jawaban Tuhan ... Jangan palingkan wajah Mu dan kau tutup pintu hati Mu rapat ...

Aku mungkin hina dan laknat, tapi bukankah tiap Hamba berhak dapat kesempatan dan limpahan rahmat?

Lihat wajah Ku Tuhan .... Jamah diriku .... Berikan jawaban, jangan biarkan aku sesat.

Tuhan ... apakah aku masih kau beri Kesempatan?

Wednesday, February 6, 2008

Sayap Patah Manusia Lemah

Bukan Malaikat memang, namun aku juga punya sayap. Aku bisa terbang kemanapun aku mau, kapanpun aku mau. Sayapku indah, putih, lebar terbentang. Bila Malaikat melihat sayapku, mereka mungkin akan iri. Sayapku beda dengan sayap mereka. Sayapku tidak dimiliki mereka. Sayapku sayap harapan. Ia yang selama ini membawaku terbang mengarungi angkasa mimpi, meraih bintang cita cita, menembus kabut ragu, menerjang angin cobaan dan kemudian kembali membawaku ke daratan kenyataan. Aku bangga dengan sayapku. Sayapku bisa membuatku melakukan apapun yang aku mau. Tapi ... saat ini sayapku terluka; sepertinya patah. Terluka oleh parang prasangka dan panah amarah. Aku terjatuh dari terbangku dan terperosok ke dalam lubang putus asa.

Sudah lama aku disini, di lubang ini. Bahkan terlalu lama. Ku coba gerakan sayapku tapi tak bisa. Sayapku terluka, aku terluka. Dan di sekelilingku hanya ada gelap dan hampa. Di lubang ini tidak kulihat adanya cahaya, bahkan ketika aku melihat ke atas. Tetap gelap. Sepertinya disini tak pernah ada pagi dan hangatnya matahari. Selalu malam dengan sedikit temaram. Aku meringkuk di sudut lubang, aku menangis hinga tergugu. Berharap ada keajaiban sembuhkan sayapku. Biar aku bisa bebas, terbang keluar dari lubang sialan ini. Usahaku tinggal do'a. Pun, aku tidak tau apakah diijabah.

Tunggu ... Aku mendengar suara. Mungkin ada orang di atas sana. Mungkin mereka bisa melihat dan menolongku. Dan aku benar. Aku melihat beberapa orang. Aku kenal mereka, sangat kenal. Mereka para kerabat dekatku. Aku tersenyum dan mengucap syukur. Pertolongan akhirnya tiba. Namun ... aku salah. Mereka hanya melihat dengan tatapan iba, lalu menggelengkan kepala sambil mengelus dada. Kenapa? Apakah aku mahluk hina? Lalu mereka pergi. Kenapa mereka pergi? Harusnya mereka menolong aku. Teriakanku sepertinya hanyalah sunyi bagi mereka. Sayapku makin sakit ... sakit sekali. Kembali aku mencari sudut gelap di dalam lubang gelap untuk sembunyi. Aku menangis lagi. Lagi lagi tergugu. Meringkuk di sudut sambil mendekap sayapku yang terluka. Aku kecewa, aku ingin tiada. Seperti embun yang menguap kala fajar datang. Ia hilang ... tanpa jejak, tak terlacak.

Tiba tiba aku melihat satu sosok di dalam lubang. Seorang anak kecil berwajah lugu namun bermata sayu. Ia menghampiriku lalu mendekapku. Ia hapuskan air mata dari wajahku, lalu Ia berkata "Sayapmu bisa sembuh". Aku terkejut, lalu aku bertanya "Bagaimana bisa, aku tak temukan obat untuk sayapku. Mungkin ada di luar sana, tapi saat ini aku terperangkap dalam lubang jahanam ini. Mana mungkin aku bisa sembuhkan sayapku?". Anak kecil menjawab dengan tetap bermata sayu "Keyakinan!!" Bila kau yakin, maka pasti kau bisa keluar dari sini. Keyakinan bisa sembuhkan sayapmu. Selama ini kau sulit yakinkan dirimu untuk bisa keluar dari sini dengan usahamu sendiri". Aku terkejut lagi. Anak ini, muncul tiba tiba dan langsung menasihatiku. Memangnya siapa dia?. Berusaha tenang aku lalu bertanya "Sebenarnya siapa dirimu anak kecil?" Dan jawabannya menyentakan aku "Aku nuranimu, hati kecilmu. Aku adalah kamu, maka dengarkanlah aku, percaya aku."

Aku terdiam. Mencoba untuk memahami semua kejadian ini. Namun sebelum nalarku menemukan jawab, anak itu perlahan menghilang sambil bertanya "Mengapa selama ini kau punggungi Tuhanmu?" Lalu Ia menghilang. Betul betul hilang. Menyatu dengan udara yang kuhirup, melebur dengan gelap yang tetap pekat. Lagi lagi aku terdiam, namun kali ini aku berdiri dan berjalan menuju dinding pinggir lubang. Aku menunduk dan berkata " Nurani, Aku tak punggungi Tuhanku. Aku hanya malu atas jutaan khilafku." Aku terdiam sebentar, lalu kuhadapkan wajahku ke atas "Aku pasti bisa, aku yakin bisa!!" Sayapku terasa sakit, aku pun berasa lemah. Namun aku ingin coba panjati dinding hingga tiba di mulut lubang. Aku inign keluar dari sini .

Aku terperosok. Sekali, Dua kali,Tiga kali. Belum berhasil. Sulit ... sangat sulit. Apa aku menyerah saja? Tidak, nuraniku yakin aku mampu, maka aku harus terus berusaha. Saat ini aku hanya berpikir tentang kebebasan. Lepas dan keluar dari lubang terkutuk. Bila nanti aku berhasil, aku kan berjalan dan mencari obat untuk sembuhkan sayapku. Agar aku bisa kembali terbang dan meraih bintang cita citaku. Bintang impianku. Aku mendongak, sudah bisa kulihat bintang bintang mimpi bersinar. Aku masih memanjat lubang, belum juga separoh jalan. Tapi nanti aku pasti keluar. Nurani, percaya padaku. Tuhan ... bimbing hambaMu.

" When Things go wrong and they sometimes will; when the road your trudging seems all up hill; when the funds are low and you want to smile buat you have to sigh; when care is pressing you down a bit; Rest if you must, but don't you quit!! "
(Author Unknown)

Garis Takdir telah ditentukan, namun bukan berarti kepastian. Merubah takdir bukan hal mungkir. Walaupun sulitnya sangat dan sangat amat.

Ini Selasa, Aku tetap berusaha ...