It is better to have what U need rather than having what U want. Is it also better to say what U need to say rather than what U want to say? Should I just keep it all inside again, let it evaporate, let it gone with the wind and just pretend that nothing is happen?
Words are one of the world wonder. It has a magical power either to heal or to hurt someone's hart. If it heal so good, people are willing to give their lives for U. If it hurts so bad, people are willing to take Ur lives from U. Its a two side of coin.
I heard in a radio few days ago, two announcers was telling a story about a Kid an a Wise father. One day, the kid has a dream. In his dream, he saw two lions fighting again Each other. The first Lion look so clean. The fur was gold shiny, The claws look so sharp coz it relfecting a light from the tip of its claw. Its roar sounds so loud, yet also soothing. While the other Lion its the opposite of the first lion. It looks so dirty, the fur was ripped and not shiny at all. Smell so bad and it roars so loud, it makes U scared. Both Lions are fighting against each other and they just wont stop. The kid ask his father about his dream, hoping the father could give an answer of his confusion. After he explained it to his Wise father, his father was thinking for a while until he finally says " My dear Son, the both Lions represent both of Human side, our side, Thee Good side and The bad Side. So, they always try to conquer each other. Its a battle of eternity". The son seems to understand. Yet, he ask another question to his Father. "So .. who will win the Fight Daddy? The Good Side or The Bad Side?". The Wise father took another moment to think. This time, he took a longer time than before. After a few while, the wise father gives his son the answer with a smile adorn his face "It depends on which do U feed most?"
If Im telling what I want to say, is that mean Im feeding the Bad Lion? and If Im telling what I need to say, is that mean Im feeding the Good Lion? Bad how about the freedom of speech?
I watch Oprah Winfrey Show several days ago. In her show, she has a guest.A women who wrote a book (I forgot the title of the book) and who turned out to be an inspirational person coz she can makes people turn their life to a better way. One of the tips from her is just to write down the happy things in Ur life and to put away the bad things. That's make sense. She also said and asked everyone in the studio and at home to be great full for everything, coz that will makes Ur life feel so much better. I agree.
But,everyone can not and shall not forget about the past. Past - for me - is a path that wee need to see and have a look, just to make us aware of our journey.
Its an effort for me to have a turning point. I am willing and trying to write down only happy things and happy plan in ma life. Since after I read ma Blog, Most of ma articles are sad sad story. Is ma life that sad? Or am I just to melancholic? I mean, I want ma Blog to be inspiring too.
As I am now listening SUGABABES song - RUN FOR COVER, it reminds me how I always consider ma Blog as a place for me to run, to search for a cover. For I finally have something to channeling ma sadness. I am finally able to say what I want to say without most people knowing who I am. If I cry in a dark corner of ma room, it inspired me to write. If I feel like wanna scream, it inspired me to write. When somebody or some people break me and get me down, I tend to write. Its ma place, its ma runaway. Its ma sanctuary, So shall I change it?
Mulut ini hanya bisa tergugu ketika hati pun menjadi gagu. Perubahan memang absolut, namun apakah salah bila memilih tidak berbeda? Ketika sayapku lagi lagi dipatahkan, apakah masih bisa aku terbang?
Mulut Rancu, atas sikap hati yang terlalu Lugu
Bagai robot dengan antena kendali di atas kepala, aku berjalan bukan atas keinginanku
Apa itu kebebasan? Apakah merdeka punya arti atas diri yang memilih untuk bersembunyi?
Cahayaku sudah redup, jiwaku mulai terkatup. Tertutup ragu yang mulai membuat nyaman seperti dendangan lagu.
Bila ... Kapankah Bila menjadi pasti untukku?
Mohon maaf Bila, saat ini aku mencoba untuk menyingkirkanmu. Aku ingin menggantimu dengan pasti.
Ragu ... tolong enyah dariku. Pintu keluarnya sudah kau tau ... silahkan, sebelum aku melemparmu.
Hanya satu pertanyaanku bila semua akhirnya terjadi. Singa mana yang sedang kuberi makan?
Friday, April 11, 2008
Tuesday, April 1, 2008
Tuhan ... Ijinkan Aku Bertanya ...
Tuhan ... Bila dalam kesulitan Hamba Mu menangis dan ragu kepada Mu karena keinginan Ku yang tidak juga tercapai, salahkah Aku ...?
Tuhan ... Bila Aku ingin meraih Mimpi namun tidak juga tergapai, lalu aku marah dan kesal kepada Mu hingga aku enggan menghadap Mu, salahkah Aku ...?
Tuhan ... Bila aku sadar pilihan Ku salah, namun hatiku tak kuasa untuk berpaling, paling tidak belum untuk saat ini dan membuat Aku malu untuk menyapa Mu ... salahkah Aku ...?
Tuhan ... Bila harapan yang aku punya tetap berupa harapan belaka lalu aku kecewa kepada Mu dan berprasangka buruk tentang Mu, salahkah Aku ...?
Tuhan ... Bila aku berpaling dan bergantung pada Hamba Mu yang lain sebagai penenang hati dan penyejuk jiwa, salahkah Aku ...?
Tuhan ... bila saja ada jawaban dari semua kebingungan dan kebingungan Ku yang selalu saja membuat Ku gamang, bimbang dan tidak tenang, dimana harus ku cari ...?
Tuhan ... Bila memang ada Do'a yang dapat membuat semua keinginan dan mimpi mimpi Ku tercapai, dimana harus ku dapat ...?
Betul Tuhan ... aku sedang kecewa
Betul Tuhan ... aku sedang marah
Betul Tuhan ... aku memang berprasangka
Dan betul Tuhan ... aku memang curiga
Kecewa atas semua do'a yang Ku rasa tak pernah terlaksana
Marah atas kesulitan yang menimpa dan solusi tak nampak ada
Prasangka bahwa akulah satu satunya Hamba yang tak pernah ingin Kau sapa
Curiga bahwa peduli Mu untuk Ku tak lagi nyata
Aku ini sedang buta ... butuh bimbingan bijaksana ... butuh semangat ... butuh juga belaian hangat ... serta kata kata sejuk penuh manfaat ...
Tuhan ... mengapa Kau biarkan Aku tersesat? Apakah Aku tak lagi kau genggam erat? Aku butuh jawaban Tuhan ... Jangan palingkan wajah Mu dan kau tutup pintu hati Mu rapat ...
Aku mungkin hina dan laknat, tapi bukankah tiap Hamba berhak dapat kesempatan dan limpahan rahmat?
Lihat wajah Ku Tuhan .... Jamah diriku .... Berikan jawaban, jangan biarkan aku sesat.
Tuhan ... apakah aku masih kau beri Kesempatan?
Tuhan ... Bila Aku ingin meraih Mimpi namun tidak juga tergapai, lalu aku marah dan kesal kepada Mu hingga aku enggan menghadap Mu, salahkah Aku ...?
Tuhan ... Bila aku sadar pilihan Ku salah, namun hatiku tak kuasa untuk berpaling, paling tidak belum untuk saat ini dan membuat Aku malu untuk menyapa Mu ... salahkah Aku ...?
Tuhan ... Bila harapan yang aku punya tetap berupa harapan belaka lalu aku kecewa kepada Mu dan berprasangka buruk tentang Mu, salahkah Aku ...?
Tuhan ... Bila aku berpaling dan bergantung pada Hamba Mu yang lain sebagai penenang hati dan penyejuk jiwa, salahkah Aku ...?
Tuhan ... bila saja ada jawaban dari semua kebingungan dan kebingungan Ku yang selalu saja membuat Ku gamang, bimbang dan tidak tenang, dimana harus ku cari ...?
Tuhan ... Bila memang ada Do'a yang dapat membuat semua keinginan dan mimpi mimpi Ku tercapai, dimana harus ku dapat ...?
Betul Tuhan ... aku sedang kecewa
Betul Tuhan ... aku sedang marah
Betul Tuhan ... aku memang berprasangka
Dan betul Tuhan ... aku memang curiga
Kecewa atas semua do'a yang Ku rasa tak pernah terlaksana
Marah atas kesulitan yang menimpa dan solusi tak nampak ada
Prasangka bahwa akulah satu satunya Hamba yang tak pernah ingin Kau sapa
Curiga bahwa peduli Mu untuk Ku tak lagi nyata
Aku ini sedang buta ... butuh bimbingan bijaksana ... butuh semangat ... butuh juga belaian hangat ... serta kata kata sejuk penuh manfaat ...
Tuhan ... mengapa Kau biarkan Aku tersesat? Apakah Aku tak lagi kau genggam erat? Aku butuh jawaban Tuhan ... Jangan palingkan wajah Mu dan kau tutup pintu hati Mu rapat ...
Aku mungkin hina dan laknat, tapi bukankah tiap Hamba berhak dapat kesempatan dan limpahan rahmat?
Lihat wajah Ku Tuhan .... Jamah diriku .... Berikan jawaban, jangan biarkan aku sesat.
Tuhan ... apakah aku masih kau beri Kesempatan?
Wednesday, February 6, 2008
Sayap Patah Manusia Lemah
Bukan Malaikat memang, namun aku juga punya sayap. Aku bisa terbang kemanapun aku mau, kapanpun aku mau. Sayapku indah, putih, lebar terbentang. Bila Malaikat melihat sayapku, mereka mungkin akan iri. Sayapku beda dengan sayap mereka. Sayapku tidak dimiliki mereka. Sayapku sayap harapan. Ia yang selama ini membawaku terbang mengarungi angkasa mimpi, meraih bintang cita cita, menembus kabut ragu, menerjang angin cobaan dan kemudian kembali membawaku ke daratan kenyataan. Aku bangga dengan sayapku. Sayapku bisa membuatku melakukan apapun yang aku mau. Tapi ... saat ini sayapku terluka; sepertinya patah. Terluka oleh parang prasangka dan panah amarah. Aku terjatuh dari terbangku dan terperosok ke dalam lubang putus asa.
Sudah lama aku disini, di lubang ini. Bahkan terlalu lama. Ku coba gerakan sayapku tapi tak bisa. Sayapku terluka, aku terluka. Dan di sekelilingku hanya ada gelap dan hampa. Di lubang ini tidak kulihat adanya cahaya, bahkan ketika aku melihat ke atas. Tetap gelap. Sepertinya disini tak pernah ada pagi dan hangatnya matahari. Selalu malam dengan sedikit temaram. Aku meringkuk di sudut lubang, aku menangis hinga tergugu. Berharap ada keajaiban sembuhkan sayapku. Biar aku bisa bebas, terbang keluar dari lubang sialan ini. Usahaku tinggal do'a. Pun, aku tidak tau apakah diijabah.
Tunggu ... Aku mendengar suara. Mungkin ada orang di atas sana. Mungkin mereka bisa melihat dan menolongku. Dan aku benar. Aku melihat beberapa orang. Aku kenal mereka, sangat kenal. Mereka para kerabat dekatku. Aku tersenyum dan mengucap syukur. Pertolongan akhirnya tiba. Namun ... aku salah. Mereka hanya melihat dengan tatapan iba, lalu menggelengkan kepala sambil mengelus dada. Kenapa? Apakah aku mahluk hina? Lalu mereka pergi. Kenapa mereka pergi? Harusnya mereka menolong aku. Teriakanku sepertinya hanyalah sunyi bagi mereka. Sayapku makin sakit ... sakit sekali. Kembali aku mencari sudut gelap di dalam lubang gelap untuk sembunyi. Aku menangis lagi. Lagi lagi tergugu. Meringkuk di sudut sambil mendekap sayapku yang terluka. Aku kecewa, aku ingin tiada. Seperti embun yang menguap kala fajar datang. Ia hilang ... tanpa jejak, tak terlacak.
Tiba tiba aku melihat satu sosok di dalam lubang. Seorang anak kecil berwajah lugu namun bermata sayu. Ia menghampiriku lalu mendekapku. Ia hapuskan air mata dari wajahku, lalu Ia berkata "Sayapmu bisa sembuh". Aku terkejut, lalu aku bertanya "Bagaimana bisa, aku tak temukan obat untuk sayapku. Mungkin ada di luar sana, tapi saat ini aku terperangkap dalam lubang jahanam ini. Mana mungkin aku bisa sembuhkan sayapku?". Anak kecil menjawab dengan tetap bermata sayu "Keyakinan!!" Bila kau yakin, maka pasti kau bisa keluar dari sini. Keyakinan bisa sembuhkan sayapmu. Selama ini kau sulit yakinkan dirimu untuk bisa keluar dari sini dengan usahamu sendiri". Aku terkejut lagi. Anak ini, muncul tiba tiba dan langsung menasihatiku. Memangnya siapa dia?. Berusaha tenang aku lalu bertanya "Sebenarnya siapa dirimu anak kecil?" Dan jawabannya menyentakan aku "Aku nuranimu, hati kecilmu. Aku adalah kamu, maka dengarkanlah aku, percaya aku."
Aku terdiam. Mencoba untuk memahami semua kejadian ini. Namun sebelum nalarku menemukan jawab, anak itu perlahan menghilang sambil bertanya "Mengapa selama ini kau punggungi Tuhanmu?" Lalu Ia menghilang. Betul betul hilang. Menyatu dengan udara yang kuhirup, melebur dengan gelap yang tetap pekat. Lagi lagi aku terdiam, namun kali ini aku berdiri dan berjalan menuju dinding pinggir lubang. Aku menunduk dan berkata " Nurani, Aku tak punggungi Tuhanku. Aku hanya malu atas jutaan khilafku." Aku terdiam sebentar, lalu kuhadapkan wajahku ke atas "Aku pasti bisa, aku yakin bisa!!" Sayapku terasa sakit, aku pun berasa lemah. Namun aku ingin coba panjati dinding hingga tiba di mulut lubang. Aku inign keluar dari sini .
Aku terperosok. Sekali, Dua kali,Tiga kali. Belum berhasil. Sulit ... sangat sulit. Apa aku menyerah saja? Tidak, nuraniku yakin aku mampu, maka aku harus terus berusaha. Saat ini aku hanya berpikir tentang kebebasan. Lepas dan keluar dari lubang terkutuk. Bila nanti aku berhasil, aku kan berjalan dan mencari obat untuk sembuhkan sayapku. Agar aku bisa kembali terbang dan meraih bintang cita citaku. Bintang impianku. Aku mendongak, sudah bisa kulihat bintang bintang mimpi bersinar. Aku masih memanjat lubang, belum juga separoh jalan. Tapi nanti aku pasti keluar. Nurani, percaya padaku. Tuhan ... bimbing hambaMu.
" When Things go wrong and they sometimes will; when the road your trudging seems all up hill; when the funds are low and you want to smile buat you have to sigh; when care is pressing you down a bit; Rest if you must, but don't you quit!! "
(Author Unknown)
Garis Takdir telah ditentukan, namun bukan berarti kepastian. Merubah takdir bukan hal mungkir. Walaupun sulitnya sangat dan sangat amat.
Ini Selasa, Aku tetap berusaha ...
Sudah lama aku disini, di lubang ini. Bahkan terlalu lama. Ku coba gerakan sayapku tapi tak bisa. Sayapku terluka, aku terluka. Dan di sekelilingku hanya ada gelap dan hampa. Di lubang ini tidak kulihat adanya cahaya, bahkan ketika aku melihat ke atas. Tetap gelap. Sepertinya disini tak pernah ada pagi dan hangatnya matahari. Selalu malam dengan sedikit temaram. Aku meringkuk di sudut lubang, aku menangis hinga tergugu. Berharap ada keajaiban sembuhkan sayapku. Biar aku bisa bebas, terbang keluar dari lubang sialan ini. Usahaku tinggal do'a. Pun, aku tidak tau apakah diijabah.
Tunggu ... Aku mendengar suara. Mungkin ada orang di atas sana. Mungkin mereka bisa melihat dan menolongku. Dan aku benar. Aku melihat beberapa orang. Aku kenal mereka, sangat kenal. Mereka para kerabat dekatku. Aku tersenyum dan mengucap syukur. Pertolongan akhirnya tiba. Namun ... aku salah. Mereka hanya melihat dengan tatapan iba, lalu menggelengkan kepala sambil mengelus dada. Kenapa? Apakah aku mahluk hina? Lalu mereka pergi. Kenapa mereka pergi? Harusnya mereka menolong aku. Teriakanku sepertinya hanyalah sunyi bagi mereka. Sayapku makin sakit ... sakit sekali. Kembali aku mencari sudut gelap di dalam lubang gelap untuk sembunyi. Aku menangis lagi. Lagi lagi tergugu. Meringkuk di sudut sambil mendekap sayapku yang terluka. Aku kecewa, aku ingin tiada. Seperti embun yang menguap kala fajar datang. Ia hilang ... tanpa jejak, tak terlacak.
Tiba tiba aku melihat satu sosok di dalam lubang. Seorang anak kecil berwajah lugu namun bermata sayu. Ia menghampiriku lalu mendekapku. Ia hapuskan air mata dari wajahku, lalu Ia berkata "Sayapmu bisa sembuh". Aku terkejut, lalu aku bertanya "Bagaimana bisa, aku tak temukan obat untuk sayapku. Mungkin ada di luar sana, tapi saat ini aku terperangkap dalam lubang jahanam ini. Mana mungkin aku bisa sembuhkan sayapku?". Anak kecil menjawab dengan tetap bermata sayu "Keyakinan!!" Bila kau yakin, maka pasti kau bisa keluar dari sini. Keyakinan bisa sembuhkan sayapmu. Selama ini kau sulit yakinkan dirimu untuk bisa keluar dari sini dengan usahamu sendiri". Aku terkejut lagi. Anak ini, muncul tiba tiba dan langsung menasihatiku. Memangnya siapa dia?. Berusaha tenang aku lalu bertanya "Sebenarnya siapa dirimu anak kecil?" Dan jawabannya menyentakan aku "Aku nuranimu, hati kecilmu. Aku adalah kamu, maka dengarkanlah aku, percaya aku."
Aku terdiam. Mencoba untuk memahami semua kejadian ini. Namun sebelum nalarku menemukan jawab, anak itu perlahan menghilang sambil bertanya "Mengapa selama ini kau punggungi Tuhanmu?" Lalu Ia menghilang. Betul betul hilang. Menyatu dengan udara yang kuhirup, melebur dengan gelap yang tetap pekat. Lagi lagi aku terdiam, namun kali ini aku berdiri dan berjalan menuju dinding pinggir lubang. Aku menunduk dan berkata " Nurani, Aku tak punggungi Tuhanku. Aku hanya malu atas jutaan khilafku." Aku terdiam sebentar, lalu kuhadapkan wajahku ke atas "Aku pasti bisa, aku yakin bisa!!" Sayapku terasa sakit, aku pun berasa lemah. Namun aku ingin coba panjati dinding hingga tiba di mulut lubang. Aku inign keluar dari sini .
Aku terperosok. Sekali, Dua kali,Tiga kali. Belum berhasil. Sulit ... sangat sulit. Apa aku menyerah saja? Tidak, nuraniku yakin aku mampu, maka aku harus terus berusaha. Saat ini aku hanya berpikir tentang kebebasan. Lepas dan keluar dari lubang terkutuk. Bila nanti aku berhasil, aku kan berjalan dan mencari obat untuk sembuhkan sayapku. Agar aku bisa kembali terbang dan meraih bintang cita citaku. Bintang impianku. Aku mendongak, sudah bisa kulihat bintang bintang mimpi bersinar. Aku masih memanjat lubang, belum juga separoh jalan. Tapi nanti aku pasti keluar. Nurani, percaya padaku. Tuhan ... bimbing hambaMu.
" When Things go wrong and they sometimes will; when the road your trudging seems all up hill; when the funds are low and you want to smile buat you have to sigh; when care is pressing you down a bit; Rest if you must, but don't you quit!! "
(Author Unknown)
Garis Takdir telah ditentukan, namun bukan berarti kepastian. Merubah takdir bukan hal mungkir. Walaupun sulitnya sangat dan sangat amat.
Ini Selasa, Aku tetap berusaha ...
Wednesday, January 30, 2008
Kisah Sepanjang Rel Kereta
Kesialan seseorang adalah keberuntungan orang lain. Atau kalo mau diartiin dengan bahasa yang lebih ekstrim, Musibah seseorang adalah Rejeki bagi orang lain. Mau contoh? Penggali kuburan, Dokter, Pemadam Kebakaran, Tukang bunga sampe Supir Metro Mini (kan suka nganterin rombongan orang meninggal). Kalo udah berpikir seperti ini, mau gak mau kita harus bilang " Tuhan itu adil yaa... " Sama seperti yang baru aja saya alami hari ini. REncana mau tiba di kampus sore hari cuma jadi cita cita aja. Gimana enggak, Setelah nganterin Mamah n Adek muter muter kesana kemari, akhirnya baru bisa ke Stasiun Kota sekitar jam 6 sore. Lengkap dengan basahan gerimis yang sama sekali gak diundang, bikin rambut lepek dan keringat berlebih karena gerah. Jangan tanya penampilan, udah gak peduli juga. Yang penting sampe di kampus. Walau sebenernya dah telat n bingung harus ngapain nanti disana. Seperti biasa, Jakarta pasti NgeHang bin Ngadat kalo basah dikit. Gak cuma mobil aja yang macet, kereta pun ikutan macet. Jadwal kereta jadi berantakan karena kereta terlambat datang. Why? dont ask me. Dont wanna know anyway. Saya pikir, daripada saya gak jelas juntrungannya, mendingan sholat. Dah maghrib pula, N udah kewajiban juga sih. Selain bisa bikin sejuk badan, sangat ampuh untuk bikin sejuk hati n menjernihkan pikiran. Biar nanti gak maen gampar orang cuma gara gara mukanya gak enak diliat. Saya naik kereta kedua yang datang ke Stasiun Kota. Buat yang sering naik kereta pasti tau alasannya kenapa. Gak lain gak bukan karena yang pertama lebih penuh N lebih sesak (Kenapa .... Yaa karena kereta datengnya telat. Kan tadi dah dibilangin!!). Itu juga berarti mengurangi resiko dicopet, dijambret, dirampok sampe digrepe grepe (Cowok juga berpotensi jadi korban grepean lho ... mending sama cewek, nah kalo cowok? Mending kalo ganteng ... LHO!!). Jujur yaa, kereta kedua sebenarnya gak terlalu lapang juga, tapi paling nggak masih bisa regangin kaki dikit, lampu keretanya masih nyala, tukang jualan masih bisa lewat (walaupun jualannya maksa banget. Alesannya ... butuh duit. Yah ... siapa yang gak butuh. Hare gennneee!!). Tapi pastinya di kereta kedua saya gak sampe diketekin. MAaf yaa kalo kata katanya gak sopan, tapi menurut saya itu salah satu pelanggaran HAM yang agak sulit untuk diperkarain. Anyway, kereta berangkat. LEga lah perasaan. Jalannya lambat tapi pasti ... pasti bikin telat, pasti bikin pegel, pasti bikin dongkol n pasti bikin mo buru buru sampe. Tapi ternyata eh ternyata sodara sodara yang dikasihi Tuhan ... Di Kalibata kereta tiba tiba Mogok (Yaa iyalah Tiba Tiba. Bego aja kalo udah tau kereta bakal mogok tapi tetep naek). N it takes almost one hour untill the train moved again. The machine was still broken. So to make the broken train moving, the other train had to pushed the train from behind. By the time we arrived in PAsar Minggu Station, we have to switched train. Apakah kereta selanjutnya penuh ... Well, U can guess lah. Untill I decided to take the last train to Bogor, which was -again - not too spacious, but better than the other train before it. Di Stasiun Pasar Minggu, penumpang sudah pasti menumpuk. Dan rencana orang orang yang mau pulang ke rumah mereka dengan cepat - minimal jam pulangnya gak barengan sama jam keluarnya banci - sudah pasti Gagal Total. Mereka sial (Mereka itu termasuk gue yaa!!). Tapi kebanyakan dari para penjual makanan dan minuman di Stasiun Pasar Minggu mendapat rejeki yang sedikit lebih dari biasanya. Para penumpang yang kelelahan dan pastinya hausssss berat karena kegerahan yang tiada tara di dalam gerbong, membeli minuman yang mereka jual. Again, termasuk Gue!! Mereka pun keliatan begitu repot melayani beberapa pembeli yang memang mau dilayani secepat mungkin. Gak bisa dipungkiri, mereka pasti senang dengan kejadian ini. Gak mau nuduh kalo mereka rame rame berdo'a supaya kereta hari ini mogok jadi mereka bisa dapet rejeki lebih (berlebihan yaa). Pastinya KEsialan para penumpang kereta di hari ini adalah keberuntungan para penjual di Stasiun Pasar Minggu. See, Tuhan Memang Adil.
Tapi ... Keadilan bisa jadi hal yang rancu, bahkan semu bagi beberapa orang. Bagi mereka yang memang sudah dalam kesulitan, tapi ternyata masih ada kesulitan lain yang bertamu. Padahal mereka mendamba solusi. Tragis? Gak berani ngomong gitu juga. Pastinya sih, ada hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari kondisi seperti ini. Sabar lagi lagi harus digunakan sebagai jurus pamungkas sekaligus pijakan. Dan salut buat orang orang yang masih bisa tersenyum dalam himpitan tragedi. Kalo ada yang kenal dengan orang yang seperti itu, tolong dikenalin. Saya mau belajar banyak dari dia. Belajar menggunakan dan mengoptimalkan sabar. Lagi lagi persis seperti kejadian hari ini. Tadi siang saya, Mamah dan Adek pergi ke Pasar Baru. Di samping Bank Mandiri ada seorang penjual Soto dan penjual minuman botol. Tadinya lokasi mereka gak persis disitu, tapi karena di Pasar Baru mau dibangun Apartemen, Jadilah posisi mereka digeser sedikit. Walhasil, mereka jadi kurang terekspose dari biasanya. Dampaknya ... yaa kurangnya pendapatan. Orang jadi banyak yang gak engeh dengan mereka. Saya aja yang sebelumnya pernah makan disitu sempat mengira kalo mereka udah gak jualan lagi. Singkat cerita, makanlah kita disana. Tiga soto dan Tiga teh botol. Selesai makan, kita pergi dan gak lupa bilang terima kasih ke Penjual soto dan penjual teh botol. Si penjual soto menanggapi ucapan terima kasih kita. Tapi, si penjual teh botol menanggapi ucapan terima kasih kita agak sedikit berlebihan. Bukan berlebihan yang norak, tapi berlebihan yang didasari kegetiran dan kepahitan hidup. Dia bilang terima kasih ke setiap orang dari kita. Artinya, dia 3 kali ngucapin terima kasih sewaktu kita lewat di depan si penjual teh botol. Pertama ke Mamah. Dia bilang " Terima kasih yaa Bu ... Ucapan kedua dialamatkan ke Adek ... " Terima kasih Dek ... Dan yang terakhir dialamatkan ke saya " Terima kasih yaa Dek ... sambil mengelus pundak saya. Terenyuh ... sumpah. Raut wajah tua si Bapak dan Uban putih di kepalanya menyimpan berjuta cerita. Mungkin juga beban hidup yang buat dia terasa berat untuk dipikul, tapi dia tetap bertahan. Saya tau di kepalanya ada pikiran bila nanti dia digusur. Dia pasti gak ada daya apapun untuk mempertahankan tempat yang sudah bertahun tahun mungkin jadi sumber rejeki bagi dia dan keluarganya. Malu ... ternyata daya juang saya gak ada seujung kukunya si Bapak penjual teh botol. Saya yakin ada keadilan bagi si Bapak tadi dan orang orang yang bernasib sama. Paling tidak, kesulitan mereka akan diganjar dengan pahala dan dihapuskannya dosa. Hari ini memang melelahkan, tapi paling tidak ada pelajaran yang bisa saya petik. Cuma sekedar ingin bercerita. Intinya sih mo mengajak untuk sedikit berlapang dada dan berpikir positif aja dalam melihat suatu kegetiran. Pastinya sih mencoba mengajak diri sendiri dulu. Ingin Coba melihat dengan sudut pandang yang berbeda, biar bisa sedikit bersyukur.
Sudah larut ... tapi mata malas terpejam. Biar saya merenung sebentar. Mungkin akan ada hikmah lain yang bisa saya petik. Agar pikiran tidak tumpul. Agar hati tidak tumpul.
Tapi ... Keadilan bisa jadi hal yang rancu, bahkan semu bagi beberapa orang. Bagi mereka yang memang sudah dalam kesulitan, tapi ternyata masih ada kesulitan lain yang bertamu. Padahal mereka mendamba solusi. Tragis? Gak berani ngomong gitu juga. Pastinya sih, ada hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari kondisi seperti ini. Sabar lagi lagi harus digunakan sebagai jurus pamungkas sekaligus pijakan. Dan salut buat orang orang yang masih bisa tersenyum dalam himpitan tragedi. Kalo ada yang kenal dengan orang yang seperti itu, tolong dikenalin. Saya mau belajar banyak dari dia. Belajar menggunakan dan mengoptimalkan sabar. Lagi lagi persis seperti kejadian hari ini. Tadi siang saya, Mamah dan Adek pergi ke Pasar Baru. Di samping Bank Mandiri ada seorang penjual Soto dan penjual minuman botol. Tadinya lokasi mereka gak persis disitu, tapi karena di Pasar Baru mau dibangun Apartemen, Jadilah posisi mereka digeser sedikit. Walhasil, mereka jadi kurang terekspose dari biasanya. Dampaknya ... yaa kurangnya pendapatan. Orang jadi banyak yang gak engeh dengan mereka. Saya aja yang sebelumnya pernah makan disitu sempat mengira kalo mereka udah gak jualan lagi. Singkat cerita, makanlah kita disana. Tiga soto dan Tiga teh botol. Selesai makan, kita pergi dan gak lupa bilang terima kasih ke Penjual soto dan penjual teh botol. Si penjual soto menanggapi ucapan terima kasih kita. Tapi, si penjual teh botol menanggapi ucapan terima kasih kita agak sedikit berlebihan. Bukan berlebihan yang norak, tapi berlebihan yang didasari kegetiran dan kepahitan hidup. Dia bilang terima kasih ke setiap orang dari kita. Artinya, dia 3 kali ngucapin terima kasih sewaktu kita lewat di depan si penjual teh botol. Pertama ke Mamah. Dia bilang " Terima kasih yaa Bu ... Ucapan kedua dialamatkan ke Adek ... " Terima kasih Dek ... Dan yang terakhir dialamatkan ke saya " Terima kasih yaa Dek ... sambil mengelus pundak saya. Terenyuh ... sumpah. Raut wajah tua si Bapak dan Uban putih di kepalanya menyimpan berjuta cerita. Mungkin juga beban hidup yang buat dia terasa berat untuk dipikul, tapi dia tetap bertahan. Saya tau di kepalanya ada pikiran bila nanti dia digusur. Dia pasti gak ada daya apapun untuk mempertahankan tempat yang sudah bertahun tahun mungkin jadi sumber rejeki bagi dia dan keluarganya. Malu ... ternyata daya juang saya gak ada seujung kukunya si Bapak penjual teh botol. Saya yakin ada keadilan bagi si Bapak tadi dan orang orang yang bernasib sama. Paling tidak, kesulitan mereka akan diganjar dengan pahala dan dihapuskannya dosa. Hari ini memang melelahkan, tapi paling tidak ada pelajaran yang bisa saya petik. Cuma sekedar ingin bercerita. Intinya sih mo mengajak untuk sedikit berlapang dada dan berpikir positif aja dalam melihat suatu kegetiran. Pastinya sih mencoba mengajak diri sendiri dulu. Ingin Coba melihat dengan sudut pandang yang berbeda, biar bisa sedikit bersyukur.
Sudah larut ... tapi mata malas terpejam. Biar saya merenung sebentar. Mungkin akan ada hikmah lain yang bisa saya petik. Agar pikiran tidak tumpul. Agar hati tidak tumpul.
Friday, November 30, 2007
Bila Saja ...
Malam ini benar benar dingin. Cukup dingin hingga terasa menusuk tulang. Tapi aku tidak berharap akan kehangatan. Malah, aku ingin dingin tetap tinggal dan temani aku. Hati ini sedang luka ... bukan hal yang baru. Aku hanya berpikir dingin bisa menandingi nyerinya hati karena angan yang sepertinya kembali pupus dan harapan kembali hampa.
Berat kuseret langkahku ... menuju kemana aku pun tak tau. Pulang ... saat ini rumah hanya sekedar bangunan pelindung, tidak lebih. It's just a House, not a Home. Not anymore ... Maybe it will be Home again someday. But surely not now ... nor tommorow. Not for sometime near. Saat ini aku terus berusaha mencoba untuk menerka nerka siapa yang akan menjadi peredam gundah, cahaya hati. Siapa yang akan memberi hangat pada jiwa yang tersudut di dalam dinginnya sepi. Melow .... Cengeng .... Picisan ... Norak ... Tapi aku Jujur.
Sudahlah, angan tidak boleh diperlakukan seperti nyata. Angan hanyalah acuan dan pemicu bagi harap yang terus menyemangati jiwa untuk maju dan meraih mimpi. Bila angan tidak teraih, maafkan takdir. Wajar bila sedih ... tak apa bila kecewa. Namun jangan terlalu lama. Biarkan saja semua berjalan apa adanya. Ada kala dimana kita memang harus membiarkan semua berjalan seperti yang telah digariskan ... dan kita tidak perlu bahkan tidak boleh untuk turut campur. Sadarlah ... Inilah hidup dan segala peraturannya. Lepaskan, angan bukan beban. Maka jangan jadikan itu beban. Tidak meraih angan bukan berarti kalah atau pecundang. Mungkin waktunya saja yang belum tepat ... angan pun perlu waktu. Semua perlu waktu. Walau terdengar klise namun sabar adalah kunci. Jadikan sabar pijakan.
Aku tetap muram .... hati tetap temaram. Mungkin karena angan dan harap yang dimiliki sudah terlalu lama mendekam dan tidak juga berubah jadi nyata. Bila memang tidak akan pernah jadi nyata, apa salah untuk tetap berharap dan berusaha? Takdir bisa diubah kan? Ataukah aku memang harus jalani garis yang sudah terbuat tanpa sebelumnya ada kompromi dan mufakat? Saat ini aku terduduk dan mencoba untuk kembali berkhayal akan hal yang sama, akan angan yang sama, akan orang yang sama. Haruskah aku menangis ...? Salahkah bila aku menangis hanya karena aku lelaki? Urusan hati tidak bisa dipukul rata, jadi aku tak peduli.
Bila saja bintang jatuh bisa mengabulkan harap, maka aku berharap ... pertemukan aku dengan kekasihku.
Saat ini, lagi lagi aku sedih ....
Berat kuseret langkahku ... menuju kemana aku pun tak tau. Pulang ... saat ini rumah hanya sekedar bangunan pelindung, tidak lebih. It's just a House, not a Home. Not anymore ... Maybe it will be Home again someday. But surely not now ... nor tommorow. Not for sometime near. Saat ini aku terus berusaha mencoba untuk menerka nerka siapa yang akan menjadi peredam gundah, cahaya hati. Siapa yang akan memberi hangat pada jiwa yang tersudut di dalam dinginnya sepi. Melow .... Cengeng .... Picisan ... Norak ... Tapi aku Jujur.
Sudahlah, angan tidak boleh diperlakukan seperti nyata. Angan hanyalah acuan dan pemicu bagi harap yang terus menyemangati jiwa untuk maju dan meraih mimpi. Bila angan tidak teraih, maafkan takdir. Wajar bila sedih ... tak apa bila kecewa. Namun jangan terlalu lama. Biarkan saja semua berjalan apa adanya. Ada kala dimana kita memang harus membiarkan semua berjalan seperti yang telah digariskan ... dan kita tidak perlu bahkan tidak boleh untuk turut campur. Sadarlah ... Inilah hidup dan segala peraturannya. Lepaskan, angan bukan beban. Maka jangan jadikan itu beban. Tidak meraih angan bukan berarti kalah atau pecundang. Mungkin waktunya saja yang belum tepat ... angan pun perlu waktu. Semua perlu waktu. Walau terdengar klise namun sabar adalah kunci. Jadikan sabar pijakan.
Aku tetap muram .... hati tetap temaram. Mungkin karena angan dan harap yang dimiliki sudah terlalu lama mendekam dan tidak juga berubah jadi nyata. Bila memang tidak akan pernah jadi nyata, apa salah untuk tetap berharap dan berusaha? Takdir bisa diubah kan? Ataukah aku memang harus jalani garis yang sudah terbuat tanpa sebelumnya ada kompromi dan mufakat? Saat ini aku terduduk dan mencoba untuk kembali berkhayal akan hal yang sama, akan angan yang sama, akan orang yang sama. Haruskah aku menangis ...? Salahkah bila aku menangis hanya karena aku lelaki? Urusan hati tidak bisa dipukul rata, jadi aku tak peduli.
Bila saja bintang jatuh bisa mengabulkan harap, maka aku berharap ... pertemukan aku dengan kekasihku.
Saat ini, lagi lagi aku sedih ....
Tuesday, November 6, 2007
Catatan Perasaan di Kala Hujan
Takdir ... banyak yang menganggap bahwa itu adalah sebaris garis lurus tanpa lengkung dan sudut dimana kita berjalan di atasnya. Pilihan adalah nihil, perubahan itu mustahil. Takdir populer dengan pasti dan harusnya. Tidak kompromi dan tidak basa basi.
Hari ini hujan ... tiap tetes airnya membuatku merenung tentang takdir. Hembusan angin dingin membawa aku ke alam pikir untuk mencari satu kesimpulan. Sebuah hipotesa dari banyaknya teori yang diutarakan orang mengenai takdir. Heran ... mengapa lembab udara malah membuat aku ingin terawangi takdir? Mungkin perpaduan sejuk, gelap dan semilir sangat kondusif menghadirkan melankolis ke dalam kepalaku. Atau mungkin karena situasi diri akhir akhir ini yang terasa lepas dari pasti. Gantung ... di ayun oleh tali galau yang kian erat. Kucoba sekuat tenaga mencari harap, agar bisa terlepas dari galau. Tapi ... aku belum menemukan harap. Lelah juga lama lama ... dan aku pun terduduk hingga akhirnya rebah dan tertidur. Masih diikat oleh tali galau. Bahkan sekarang aku mulai diselimuti oleh kabut ragu. Atau mungkin itu hanyalah fatamorgana yang diciptakan oleh parasit putus asa yang perlahan namun pasti datang dan bersarang di hati juga pikiranku.
Masih hujan ... kelas pun tidak ada tanda tanda untuk bubar. Sang dosen masih terlihat semangat untuk berbicara di depan kelas sebagai moderator dari teman teman lain yang sedang presentasi. Banyak yang bertanya, walau menurutku topiknya tidak terlalu menarik. Bukan salah mereka, tetapi hasil undian yang ditulis di kertas, dimasukan ke dalam sedotan, diamsukan lagi ke dalam gelas kosong yang di atasnya ditutupi kertas yang dibolongi. Seperti arisan, kelompok itu mengambil kertas yang dilapisi sedotan itu untuk melihat tema mereka, dan itulah yang mereka dapat. Topik yang membosankan. Entah karena aku tidak terlalu suka atau memang aku tidak menyimak. Tapi yang pasti ada 1 orang teman yang sangat mencari perhatian dosen. Mencoba bermain aman sepertinya. Aku terdiam dan berpikir. Salah satu cara untuk merubah takdirkah? Karena dia itu mengulang mata kuliah yang ini. Takdir ... kenapa topik itu yang muncul di kepalaku? Seperti orang yang tidak bersyukur saja. Tapi apa salah kalau berkesah karena lelah?
Sudah sudah ... usaha adalah cara efektif untuk memanggil dan mengundang harap untuk datang. Semakin besar usaha, maka semakin besar harap. Agak berbanding lurus, bukannya pasti. Walaupun kemungkinan besarnya seperti itu. Namun tidak selalu. Pun, ada hal yang bisa menguatkan harap untuk makin cepat datang. Do'a. Sayang ... Tuhan saat ini sedang aku kebelakangkan. Suatu kebodohan terlalu tolol. Tapi ternyata aku bukan satu satunya orang yang melakukan kebodohan macam itu. Bukan tak ingin kembali, hanya saja ada malu dan sungkan menutupi hidayah dan cahaya Tuhan yang diperuntukkan pada hati.
Masih saja hujan. Ku ambil HP yang Aku selipkan di dalam kantong celana. Jam 8 kurang. Masih lama sekali kita akan dibubarkan. Di dalam kelas aku mulai tidak merasa nyaman. Bukan karena aku duduk di pojokan, sendirian dan diasingkan. Aku malah duduk di barisan tengah agak ke belakang, dan di apit oleh beberapa teman di kanan dan di kiri Ku. Namun, saat ini aku sedang ingin sendiri, tidak lebih. Berharap bisa mengadu kepada yang mau mendengar, namun sepertinya tidak ada.
Akhirnya kelas bubar. Hujan juga mulai reda. Aku mulai berpikir untuk menghubungi Ibu, karena Ibu sedang berada di rumah Bude, kakak Ibu. Ibu meminta aku untuk kesana untuk menjemput dia. Namun sewaktu Ibu menghubungi aku, percakapan terhenti. Baterai Ku habis. Dua buah HP yang aku miliki semuan baterainya habis. Apa ini juga bagian takdir? Atau hanya kecerobohan karena tidak memprediksikan situasi yang mungkin hadir. Hasilnya ketika aku menghubungi Bude, sepupuku yang mengangkat telefon Ku. Dia tidak marah, namun aku merasakan ada kekesalan karena baru menghubungi setelah sekian lama. Selain juga karena Ibu sudah pulang dengan Taksi seorang diri ke rumah yang jaraknya jauh dari rumah Bude.
Aku mencoba merubah takdir, namun sulit. Ataukah memang tidak bisa lagi diubah? Atau aku telah membuat pilihan salah? Ingin rasanya terbang ke angkasa dengan sayap merentang lebar. Seperti Malaikat. Namun, saat ini aku hanya merenung dan mencoba mencari privasi dalam sendiri. Khayal, tolong temani aku. Sepi, tolong lindungi aku. Sedih, kamu boleh lagi bertamu. Air mata, silahkan kau basahkan pipiku .... temani tetesan hujan yang mulai lagi menyapa bumi.
Hari ini hujan ... tiap tetes airnya membuatku merenung tentang takdir. Hembusan angin dingin membawa aku ke alam pikir untuk mencari satu kesimpulan. Sebuah hipotesa dari banyaknya teori yang diutarakan orang mengenai takdir. Heran ... mengapa lembab udara malah membuat aku ingin terawangi takdir? Mungkin perpaduan sejuk, gelap dan semilir sangat kondusif menghadirkan melankolis ke dalam kepalaku. Atau mungkin karena situasi diri akhir akhir ini yang terasa lepas dari pasti. Gantung ... di ayun oleh tali galau yang kian erat. Kucoba sekuat tenaga mencari harap, agar bisa terlepas dari galau. Tapi ... aku belum menemukan harap. Lelah juga lama lama ... dan aku pun terduduk hingga akhirnya rebah dan tertidur. Masih diikat oleh tali galau. Bahkan sekarang aku mulai diselimuti oleh kabut ragu. Atau mungkin itu hanyalah fatamorgana yang diciptakan oleh parasit putus asa yang perlahan namun pasti datang dan bersarang di hati juga pikiranku.
Masih hujan ... kelas pun tidak ada tanda tanda untuk bubar. Sang dosen masih terlihat semangat untuk berbicara di depan kelas sebagai moderator dari teman teman lain yang sedang presentasi. Banyak yang bertanya, walau menurutku topiknya tidak terlalu menarik. Bukan salah mereka, tetapi hasil undian yang ditulis di kertas, dimasukan ke dalam sedotan, diamsukan lagi ke dalam gelas kosong yang di atasnya ditutupi kertas yang dibolongi. Seperti arisan, kelompok itu mengambil kertas yang dilapisi sedotan itu untuk melihat tema mereka, dan itulah yang mereka dapat. Topik yang membosankan. Entah karena aku tidak terlalu suka atau memang aku tidak menyimak. Tapi yang pasti ada 1 orang teman yang sangat mencari perhatian dosen. Mencoba bermain aman sepertinya. Aku terdiam dan berpikir. Salah satu cara untuk merubah takdirkah? Karena dia itu mengulang mata kuliah yang ini. Takdir ... kenapa topik itu yang muncul di kepalaku? Seperti orang yang tidak bersyukur saja. Tapi apa salah kalau berkesah karena lelah?
Sudah sudah ... usaha adalah cara efektif untuk memanggil dan mengundang harap untuk datang. Semakin besar usaha, maka semakin besar harap. Agak berbanding lurus, bukannya pasti. Walaupun kemungkinan besarnya seperti itu. Namun tidak selalu. Pun, ada hal yang bisa menguatkan harap untuk makin cepat datang. Do'a. Sayang ... Tuhan saat ini sedang aku kebelakangkan. Suatu kebodohan terlalu tolol. Tapi ternyata aku bukan satu satunya orang yang melakukan kebodohan macam itu. Bukan tak ingin kembali, hanya saja ada malu dan sungkan menutupi hidayah dan cahaya Tuhan yang diperuntukkan pada hati.
Masih saja hujan. Ku ambil HP yang Aku selipkan di dalam kantong celana. Jam 8 kurang. Masih lama sekali kita akan dibubarkan. Di dalam kelas aku mulai tidak merasa nyaman. Bukan karena aku duduk di pojokan, sendirian dan diasingkan. Aku malah duduk di barisan tengah agak ke belakang, dan di apit oleh beberapa teman di kanan dan di kiri Ku. Namun, saat ini aku sedang ingin sendiri, tidak lebih. Berharap bisa mengadu kepada yang mau mendengar, namun sepertinya tidak ada.
Akhirnya kelas bubar. Hujan juga mulai reda. Aku mulai berpikir untuk menghubungi Ibu, karena Ibu sedang berada di rumah Bude, kakak Ibu. Ibu meminta aku untuk kesana untuk menjemput dia. Namun sewaktu Ibu menghubungi aku, percakapan terhenti. Baterai Ku habis. Dua buah HP yang aku miliki semuan baterainya habis. Apa ini juga bagian takdir? Atau hanya kecerobohan karena tidak memprediksikan situasi yang mungkin hadir. Hasilnya ketika aku menghubungi Bude, sepupuku yang mengangkat telefon Ku. Dia tidak marah, namun aku merasakan ada kekesalan karena baru menghubungi setelah sekian lama. Selain juga karena Ibu sudah pulang dengan Taksi seorang diri ke rumah yang jaraknya jauh dari rumah Bude.
Aku mencoba merubah takdir, namun sulit. Ataukah memang tidak bisa lagi diubah? Atau aku telah membuat pilihan salah? Ingin rasanya terbang ke angkasa dengan sayap merentang lebar. Seperti Malaikat. Namun, saat ini aku hanya merenung dan mencoba mencari privasi dalam sendiri. Khayal, tolong temani aku. Sepi, tolong lindungi aku. Sedih, kamu boleh lagi bertamu. Air mata, silahkan kau basahkan pipiku .... temani tetesan hujan yang mulai lagi menyapa bumi.
Monday, September 24, 2007
Kisi Kisi Sisi
Sudah semakin jelas saja ... sekuat apapun usaha untuk memaklumi, mengerti, bahkan berempati, tetap tidak bisa untuk merubah kenyataan yang ada. Memang sebaiknya berhenti menjadi naif, karena tidak akan mengubah paham. Bahkan bisa membuat salah paham. Status adalah acuan awal kebanyakan orang ketika mengenal seseorang. Bahkan Ia selalu terlintas ketika kita melihat orang lain, walau sekilas. Statuslah yang membuat perbedaan perlakuan, perbedaan tanggapan, perbedaan perhatian hingga perbedaan kesempatan. Suatu hal yang harusnya bisa dan sangat boleh untuk dirasakan dan didapatkan serta diberikan secara adil dan rata. Memang Manusia bukan Malaikat, Dewa apalagi Tuhan. Wajar jika manusia tidak bisa berada di tengah. Namun paling tidak mereka punya pilihan untuk bersikap. Sayang, lebih banyak yang memilih untuk bersikap memihak; memihak pada yang berstatus lebih elit, lebih mapan, lebih populer. Ada pamrih tersembunyi di balik sikap ramah dan senyum manis; harapan agar bisa masuk ke dalam lingkaran orang orang pujaan. Sangat palsu, tak ubahnya badut dengan make up tebalnya yang selalu saja dianggap lucu. Padahal wajah aslinya terletak di balik senyum lebar dan baju gombrongnya. Siapa yang tau ekspresi asli si Badut? Siapa yang bisa menebak ukuran tubuh si Badut?
Lebih sedih, pandangan sinis yang diiringi sikap cemooh dan ucapan hardik adalah paket lengkap yang dialamatkan bagi para pemilik status dengan kondisi cukup dan kurang. Seolah mereka adalah kelompok kasta rendahan, penyakitan dan parasit bagi orang di sekitarnya. Padahal usaha keras dan banting tulang adalah kegiatan mereka sehari hari. Mungkin kebanyakan dari mereka lebih banyak menggunakan otot daripada otak, tetapi bukan berarti mereka tidak pernah berpikir. Picik ternyata lebih sering datang dan bersarang pada orang orang yang bertitel dan berpendidikan. Ironi sekaligus refleksi betapa moral telah di peti es kan oleh banyak pribadi. Walaupun tiap pribadi masih punya hati, tetapi hati telah ditempatkan di balik jeruji iri, dengki dan serakah. Kepalsuan adalah wajah populer, dimana basa basi dan formalitas harus diutamakan. Curang adalah tindak profesional, karena sangat sah untuk berhasil dengan segala cara.
Tidak adil bila saya memukul rata semua orang dari sudut pandang ini. Itu pikiran yang sangat dangkal. Namun sekedar ekspresi kesal yang terlalu memuncak atas sikap kebanyakan. Mungkin saya yang sudah jauh dari orang orang yang masih menggunakan wajah asli dan berprinsip pada moral. Mungkin Saya terdampar di antara orang orang palsu dan picik, bahkan licik. Mungkin tanpa sadar saya sudah menjadi seperti mereka. Ataukah memang ini wajah kenyataan? Mungkin ini adalah fase yang harus dilalui oleh tiap individu, semacam tahapan sebelum bisa melanjutkan ke tahapan yang lebih serius. Untuk tetap Netral adalah sulit. Untuk bisa mengubah mereka menjadi baik jauh lebh sulit. Namun, itu ternyata tuntutan pada tiap manusia. Apakah kita cukup peduli dan mau beraksi? Pertanyaan yang bila ditujukan ke saya akan saya respon dengan diam atau saya alihkan pada topik yang lain. Berat memang, namun mulia telah dijanjikan pada manusia yang peduli dan beraksi.
Macam macam bentuk usaha ... ini hanya salah satu bentuk yang termudah dan terletak di urutan paling bawah. Namun mungkin saja bisa dijadikan penambah wacana. Terlalu Naif bila berharap Dunia akan bebas dari orang orang palsu nan picik dan licik, namun paling tidak kita bisa berusaha untuk tidak terbawa dan terwarnai. Lebih baik lagi, kita memberi warna. Warna warni kebenaran yang dilukis dengan kuas moral, dihias dengan malu dan dibingkai dengan santun. Semoga ....
Lebih sedih, pandangan sinis yang diiringi sikap cemooh dan ucapan hardik adalah paket lengkap yang dialamatkan bagi para pemilik status dengan kondisi cukup dan kurang. Seolah mereka adalah kelompok kasta rendahan, penyakitan dan parasit bagi orang di sekitarnya. Padahal usaha keras dan banting tulang adalah kegiatan mereka sehari hari. Mungkin kebanyakan dari mereka lebih banyak menggunakan otot daripada otak, tetapi bukan berarti mereka tidak pernah berpikir. Picik ternyata lebih sering datang dan bersarang pada orang orang yang bertitel dan berpendidikan. Ironi sekaligus refleksi betapa moral telah di peti es kan oleh banyak pribadi. Walaupun tiap pribadi masih punya hati, tetapi hati telah ditempatkan di balik jeruji iri, dengki dan serakah. Kepalsuan adalah wajah populer, dimana basa basi dan formalitas harus diutamakan. Curang adalah tindak profesional, karena sangat sah untuk berhasil dengan segala cara.
Tidak adil bila saya memukul rata semua orang dari sudut pandang ini. Itu pikiran yang sangat dangkal. Namun sekedar ekspresi kesal yang terlalu memuncak atas sikap kebanyakan. Mungkin saya yang sudah jauh dari orang orang yang masih menggunakan wajah asli dan berprinsip pada moral. Mungkin Saya terdampar di antara orang orang palsu dan picik, bahkan licik. Mungkin tanpa sadar saya sudah menjadi seperti mereka. Ataukah memang ini wajah kenyataan? Mungkin ini adalah fase yang harus dilalui oleh tiap individu, semacam tahapan sebelum bisa melanjutkan ke tahapan yang lebih serius. Untuk tetap Netral adalah sulit. Untuk bisa mengubah mereka menjadi baik jauh lebh sulit. Namun, itu ternyata tuntutan pada tiap manusia. Apakah kita cukup peduli dan mau beraksi? Pertanyaan yang bila ditujukan ke saya akan saya respon dengan diam atau saya alihkan pada topik yang lain. Berat memang, namun mulia telah dijanjikan pada manusia yang peduli dan beraksi.
Macam macam bentuk usaha ... ini hanya salah satu bentuk yang termudah dan terletak di urutan paling bawah. Namun mungkin saja bisa dijadikan penambah wacana. Terlalu Naif bila berharap Dunia akan bebas dari orang orang palsu nan picik dan licik, namun paling tidak kita bisa berusaha untuk tidak terbawa dan terwarnai. Lebih baik lagi, kita memberi warna. Warna warni kebenaran yang dilukis dengan kuas moral, dihias dengan malu dan dibingkai dengan santun. Semoga ....
Tuesday, August 14, 2007
Harapan di ujung Pasrah
Pada akhirnya, seseorang cuma bisa pasrah ketika usaha yang diiringi tetesan keringat juga airmata telah dikeluarkannya. Suatu hal yang sama sekali bukan masalah bagi orang lain, ternyata bisa menjadi masalah yang sangat besar bagi yang lainnya. Menyebalkan memang ketika itu terjadi, tapi salah satu hikmahnya adalah kembalinya bulir air mata di ujung sajadah, menyertai do'a.
Mungkin sudah waktunya memang untuk mengadahkan tangan dan mendongakan wajah kepada Tuhan, setelah sekian lama IA dipecundangi dengan ketidakpedulian. Mungkin Tuhan marah. Pun bila benar, sangatlah pantas. Tapi sepertinya ini hanya teguran untuk kembali mawas dengan keadaan dan kenyataan bahwa ada Tuhan. Buktinya, di pojokan jalan buntu yang gelap, pengap dan bau, dengan keadaaan lemah, lemas, hancur dan tidak berdaya, nama Tuhan yang disebut.
Kesadaran bahwa gak seharusnya kesombongan menjadi pakaian sehari - hari memang tidak selalu datang dari kesadaran diri sendiri. Pun hati nurani telah berkali - kali memperingati. Kejadian dahsyat yang membuat kita terpelanting, terjatuh dan tersungkurlah yang mampu merobek jubah kesombongan. Berharap bisa menyingkap pakaian iman didalamnya. Tetapi, itu semua tidak lepas dari penyikapan.
Akan ada titik terang di ujung lorong kelam. Usaha menjadi tongkat penuntun, do'a menjadi pelita dan sabar menjadi bekal. Cahaya di ujung lorong ... sungguh melegakan.
Mungkin sudah waktunya memang untuk mengadahkan tangan dan mendongakan wajah kepada Tuhan, setelah sekian lama IA dipecundangi dengan ketidakpedulian. Mungkin Tuhan marah. Pun bila benar, sangatlah pantas. Tapi sepertinya ini hanya teguran untuk kembali mawas dengan keadaan dan kenyataan bahwa ada Tuhan. Buktinya, di pojokan jalan buntu yang gelap, pengap dan bau, dengan keadaaan lemah, lemas, hancur dan tidak berdaya, nama Tuhan yang disebut.
Kesadaran bahwa gak seharusnya kesombongan menjadi pakaian sehari - hari memang tidak selalu datang dari kesadaran diri sendiri. Pun hati nurani telah berkali - kali memperingati. Kejadian dahsyat yang membuat kita terpelanting, terjatuh dan tersungkurlah yang mampu merobek jubah kesombongan. Berharap bisa menyingkap pakaian iman didalamnya. Tetapi, itu semua tidak lepas dari penyikapan.
Akan ada titik terang di ujung lorong kelam. Usaha menjadi tongkat penuntun, do'a menjadi pelita dan sabar menjadi bekal. Cahaya di ujung lorong ... sungguh melegakan.
Tuesday, July 31, 2007
Lelaki di Barisan Sakit Hati
Pada akhirnya, setiap orang akan berakhir merentas hidupnya sendiri. Tidak lagi dituntun, tidak lagi dikawal. Mungkin - tapi mungkin juga tidak - ada yang memperhatikan dari jauh dan menolong bila memang kita dianggap benar - benar membutuhkan bantuan. Tetapi, tidak jarang akhirnya kita harus berjalan sendiri. Benar - benar sendiri. Jangan lagi mengharapkan bantuan, dorongan, tuntunan, contoh, bimbingan ataupun dukungan dari orang lain. Cukup diri sendiri, tidak lebih.
Lelaki; Figur yang selalu dielukkan sebagai sosok yang kuat dan harus kuat karena diproyeksikan sebagai pelindung keluarga dan dirinya sendiri. Tidak salah memang. Namun persepsi tersebut sering menyimpang ketika lelaki diibaratkan seperti batu yang tidak lagi perlu orang lain di sekitarnya, karena dia dianggap mampu berdiri sendiri. Padahal kemandirian tidak selalu dan tidak pernah boleh diartikan sebagai kesendirian. Karena manusia - pria atau wanita - pada dasarnya mahluk sosial. Pasti mereka butuh kehadiran orang lain di sekitar mereka. Bila Ia ditinggalkan sendiri, maka akan terjadi pernyimpangan pada pribadinya. Namun penyimpangan yang terjadi tidak jarang dijadikan pembenaran dan bukti atas kelaki-lakiannya. Padahal lelaki tidak harus bersikap kasar, brutal dan beringas hanya untuk sekedar dibilang jantan dan macho.
Banyak lelaki yang pada akhirnya kelelahan dan mencoba keluar dari kekangan opini yang mengikat terlalu kencang dan membuat sesak nafas hidup mereka. Mereka protes, berkelahi, bergulat, sengit, untuk melawan derasnya arus pemikiran yang sudah selama berabad - abad mengalir deras dan memaksa mereka untuk mengarungi sungai budaya yang membawa mereka ke muara yang sudah dapat ditebak akhirannya. Pun, tidak semua nilai salah. Tidak semuanya mengintimidasi. Tetapi kurangnya toleransi, tidak adanya pengertian membuat kebanyakan orang menanggapi dengan dengan cara yang salah, bahkan cenderung berlebihan. Akhirnya mereka memilih untuk beralih ke muara yang lain. Sebuah muara alternatif yang selalu dianggap salah. Atau mungkin memang salah. Namun kenyamanan ada disana. Mereka kerasan didalamnya. Dan sekarang mereka membuat arus baru untuk mengajak lainnya ke muara mereka. Salahkan? Salah siapa?
Mungkin ini hanya sebuah prosa yang berisi pembenaran atas suatu nilai yang dianggap devian. Atau pembelaan atas suatu pilihan yang tidak seragam. Walaupun banyak orang berabggapan pilihan tersebut mengerikan, namun bagi mereka pilihan itu adalah nirwana. Taman Firdaus yang dikelilingi telaga berair jernih dan berhawa sejuk. Mereka serasa terbang seperti para malaikat bersayap. Terbang di dalam nirwana dan membuat mereka nyaris berada di dalam surga. Nyaris, karena ternyata di angkasa nirwana banyak panah tajam berujung api dan racun melesat ke arah mereka. Merekalah tergetnya. Lalu mereka melindungi diri dengan melilitkan sayap ke seluruh tubuh. Namun bagaimanapun caranya, mereka tetap terluka. Ada yang gugur, ada yang menyerah, ada yang mencoba untuk bertahan, bahkan melawan. Walau mereka sadar itu akan sia - sia. Karena terlalu banyak jumlah panah buruk sangka yang dilapisi racun kebencian lalu disulut dengan api amarah dan dilepaskan dengan semangat membabi buta.
Katakanlah mereka salah. Atau memang mereka salah. Tetapi apakah caranya harus seperti itu? Bila saja yang datang adalah para Bidadari berparas sejuk, bertatapan teduh dengan tutur yang lembut dan senyum yang menenangkan, maka situasinya pasti akan berbeda. Pasti, karena bidadari berbicara dengan hati, bukan dengan emosi. Para bidadari senang berdiskusi dan senantiasa sabar dalam menanti dan sabar dalam memberi. Menanti mereka untuk kembali, memberi nasihat tanpa membuat sakit hati. Ah ... bila saja jumlah bidadari cukup berlimpah, maka mereka pasti akan menyerah dengan sukarela. Karena bagaimanapun juga hati tidak pernah berdusta. Salah adalah salah, bagaimanapun nikmatnya terasa.
Ini dunia nyata. Pada akhirnya hanya kita yang harus berusaha untuk perubahan. Namun tidak jarang diri mengharap bantuan, bahkan merintih kesakitan. Kesakitan karena tekanan, kesakitan karena direndahkan, kesakitan karena sendirian. Mungkin sudah saatnya kita kembali mendongak ke wajah Tuhan.
Lelaki; Figur yang selalu dielukkan sebagai sosok yang kuat dan harus kuat karena diproyeksikan sebagai pelindung keluarga dan dirinya sendiri. Tidak salah memang. Namun persepsi tersebut sering menyimpang ketika lelaki diibaratkan seperti batu yang tidak lagi perlu orang lain di sekitarnya, karena dia dianggap mampu berdiri sendiri. Padahal kemandirian tidak selalu dan tidak pernah boleh diartikan sebagai kesendirian. Karena manusia - pria atau wanita - pada dasarnya mahluk sosial. Pasti mereka butuh kehadiran orang lain di sekitar mereka. Bila Ia ditinggalkan sendiri, maka akan terjadi pernyimpangan pada pribadinya. Namun penyimpangan yang terjadi tidak jarang dijadikan pembenaran dan bukti atas kelaki-lakiannya. Padahal lelaki tidak harus bersikap kasar, brutal dan beringas hanya untuk sekedar dibilang jantan dan macho.
Banyak lelaki yang pada akhirnya kelelahan dan mencoba keluar dari kekangan opini yang mengikat terlalu kencang dan membuat sesak nafas hidup mereka. Mereka protes, berkelahi, bergulat, sengit, untuk melawan derasnya arus pemikiran yang sudah selama berabad - abad mengalir deras dan memaksa mereka untuk mengarungi sungai budaya yang membawa mereka ke muara yang sudah dapat ditebak akhirannya. Pun, tidak semua nilai salah. Tidak semuanya mengintimidasi. Tetapi kurangnya toleransi, tidak adanya pengertian membuat kebanyakan orang menanggapi dengan dengan cara yang salah, bahkan cenderung berlebihan. Akhirnya mereka memilih untuk beralih ke muara yang lain. Sebuah muara alternatif yang selalu dianggap salah. Atau mungkin memang salah. Namun kenyamanan ada disana. Mereka kerasan didalamnya. Dan sekarang mereka membuat arus baru untuk mengajak lainnya ke muara mereka. Salahkan? Salah siapa?
Mungkin ini hanya sebuah prosa yang berisi pembenaran atas suatu nilai yang dianggap devian. Atau pembelaan atas suatu pilihan yang tidak seragam. Walaupun banyak orang berabggapan pilihan tersebut mengerikan, namun bagi mereka pilihan itu adalah nirwana. Taman Firdaus yang dikelilingi telaga berair jernih dan berhawa sejuk. Mereka serasa terbang seperti para malaikat bersayap. Terbang di dalam nirwana dan membuat mereka nyaris berada di dalam surga. Nyaris, karena ternyata di angkasa nirwana banyak panah tajam berujung api dan racun melesat ke arah mereka. Merekalah tergetnya. Lalu mereka melindungi diri dengan melilitkan sayap ke seluruh tubuh. Namun bagaimanapun caranya, mereka tetap terluka. Ada yang gugur, ada yang menyerah, ada yang mencoba untuk bertahan, bahkan melawan. Walau mereka sadar itu akan sia - sia. Karena terlalu banyak jumlah panah buruk sangka yang dilapisi racun kebencian lalu disulut dengan api amarah dan dilepaskan dengan semangat membabi buta.
Katakanlah mereka salah. Atau memang mereka salah. Tetapi apakah caranya harus seperti itu? Bila saja yang datang adalah para Bidadari berparas sejuk, bertatapan teduh dengan tutur yang lembut dan senyum yang menenangkan, maka situasinya pasti akan berbeda. Pasti, karena bidadari berbicara dengan hati, bukan dengan emosi. Para bidadari senang berdiskusi dan senantiasa sabar dalam menanti dan sabar dalam memberi. Menanti mereka untuk kembali, memberi nasihat tanpa membuat sakit hati. Ah ... bila saja jumlah bidadari cukup berlimpah, maka mereka pasti akan menyerah dengan sukarela. Karena bagaimanapun juga hati tidak pernah berdusta. Salah adalah salah, bagaimanapun nikmatnya terasa.
Ini dunia nyata. Pada akhirnya hanya kita yang harus berusaha untuk perubahan. Namun tidak jarang diri mengharap bantuan, bahkan merintih kesakitan. Kesakitan karena tekanan, kesakitan karena direndahkan, kesakitan karena sendirian. Mungkin sudah saatnya kita kembali mendongak ke wajah Tuhan.
Wednesday, July 25, 2007
I Love U but I Can Not Marry U ...
Woooowww .... satu statement yang dalem tapi Absudrd. At least I use to think that it was absurd. How can U love someone but U'r not Marry them? How absurd can that be? Well ma friend, before we get to the bottom of it, do pay attention of these two cases.
Case Number 1
Saya ada teman yang sudah pacaran selama 9 tahun. Rencananya dia akan menikah tahun ini. Beberapa minggu yang lalu saya OL dengan dia. Sebut aja dia MR. A. I thought I was gonna have a good laugh with him. Instead, I got a bad news. Dia gak jadi nikah tahun ini. Dan begitu saya tanya kenapa, well pastinya, mereka putus. Saya pikir sang Cewek lah yang mutusin si Mr. A, ternyata malah sebaliknya. Saya cukup tau temen saya. So it is come to my surprise kalo keadaannya seperti itu. Ketika saya tanya kenapa, jawabannya benar - benar di luar dugaan. Dia bilang sebelum memutuskan untuk menikah, dia jadi rajin sholat dan sholat malam. Ceritanya sih minta petunjuk sekaligus harapan dia bisa jadi suami yang baik, Ayah yang baik. That kinda stuff. Ternyata setelah dia sholat dan sholat malam untuk minta petunjuk, dia ngerasa kalo Sang Cewek yang udah dipacarin selama 9 tahun ini bukanlah orang yang tepat untuk dia jadiin pendamping hidup. Dengan kata lain, pacar dia bukan jodoh dia. but after 9 whole long years. C'mon dong man ... gak masuk logika gue deh. Was ... But now ...
Case Number 2
Sepupu perempuan saya yang sudah menikah menceritakan tentang temannya yang sudah 10 tahun pacaran tapi akhirnya mereka gak nikah. Sebenernya sih dari dia akhirnya saya punya paham tentang sebuah persepsi baru "I Love U but I Can Not Marry U". Tapi itu nanti aja. Anyway, Temen Sepupu perempuan saya, let just call them Mr.B and Mrs.C, udah pacaran selama 10 tahun. Tapi ternyata si Mr.B ini seorang "Player" - another word for PlayBoy. Dia sering banget ngedate sama cewek lain, bahkan - menurut sepupu saya - sampe kissing segala. Or even more? Dunno. Ternyata eh ternyata, Si Mrs.C udah tau kebiasaan buruk si Mr.B and sering nge gap si Mr.B ini berkali - kali dengan cewek lain. Si Mr.B sering minta maaf dan sering dimaafin sama si Mrs.C, tapi emang dasar "Player" dia tetep aja gak kapok.
Saya sempet menyela cerita sepupu perempuan saya dengan bilang "Kenapa gak dia tinggalin aja si cowok, secara cowoknya dah kurang ajar kayak gitu?" Dan sepupu saya menjawab dengan jawaban simpe " Si Ceweknya cinta sama cowoknya?" Dengan polos dan naifnya saya bilang "Iya gitu? Sampe segitunya? Kok kesannya si Cewek bodoh banget yaa? " Lalu sepupu perempuan saya menjawab pertanyaan saya dengan jawaban yang membuat saya malas untuk menanggapinya " Yaa emang gitu. Susah deh dijelasin, Kamu belam pernah pacaran kan? Mangkanya gih sana cari pacar, nanti juga bakalan ngerti." Damn!!
Lanjut dengan Si Mr.B dan si Mrs.C - sampai setelah 10 tahun pacaran dan keluarga masing - masing juga sudah mengenal mereka berdua dengan baik, akhirnya keluarga mulai menanyakan kapan mereka akan menikah. Mrs.C lalu mengutarakan hal tersebut ke Mr.B. Dia bilang bahwa Mrs.C ingin menikah dengan Mr.B asalkan Mr.B mau berhenti dari kebiasaan buruknya. Mr.B pun berjanji ke Mrs. C bahwa dia akan berhenti. Tapi ... Well, U can guess lah, Mr.B ngelanggar lagi janjinya. Dengan sedih akhirnya Mrs.C memutuskan untuk menikahi orang lain. Setelah Mrs.C menikah, Mr.b jadi frustasi n akhirnya mulai bisa berhenti menjadi seorang "Player". Short story, si Mr.B sekarang pun sudah menikah n sudah ada keluarga. Dan ternyata mereka berdua masih lumayan sering ketemu untuk sekedar makan bareng atau apapun. Lalu sepupu perempuan sayan bilang bahwa si Mrs.C masih dan akan tetap cinta kepada Si Mr.B, walaupun dia menikahi lelaki lain yang saat ini menjadi suaminya.
Owkay ... panjang yaa ceritanya. Pada saat itu saya jadi berdebat dengan sepupu perempuan saya. Saya masih dengan persepsi saya, yaitu " Kalo orang pacaran dah lama dan memang cinta, trus kenapa mereka gak nikah?" Dan sepupu perempuan saya - yang memang sudah menikah dan memiliki satu anak perempuan yang lucu - bilang " Kita bisa aja pacara sama Drug user. Kita bisa aja pacaran sama orang yang kasar. Kita bahkan bisa aja pacaran sama pembunuh. Tapi kalo persepsinya nikah, membangun keluarga, visinyda udah beda. Mungkin banget kita masih cinta sama mantan pacar yang gak dinikahin, tapi kita gak bisa ngejadiin dia suami ato istri karena ada kekhawatiran gak akan bisa tercipta keluarga yang harmonis. Nikah itu kan gak cuma nyatuin dua orang aja, tapi juga dua keluarga."
Wow .... suatu jawaban yang sepertinya saya cari - cari selama ini. Dan akhirnya saya bisa menerima fakta bahwa Cinta tak Harus memiliki. Walaupun mungkin akan sangat sakit. Dalam kasus saya, mungkin itu juga sebabnya kenapa saya sangat sulit mendapatkan pacar. Karena persepsi saya adalah mencari calon istri. Sehingga dia harus memenuhi standar tertentu yang kalo ditelaah lagi, sangat banyak dan sangat tinggi. Wajar, calon istri. Tapi mungkin akan berbeda kalo saya pake persepsi Cari Pacar.
He..he.. Jadi Curhat colongan nih. Sebenarnya tujuan saya posting topik ini adalah untuk membantu orang - orang yang mungkin pernah atau masih mengalami kebingungan seperti saya dulu. Mungkin aja artikel ini bisa sedikit membantu. Emang bener, jodoh gak akan kemana. Jodoh emang di tangan Tuhan. Tapi kalo mereka emang jodoh, kenapa harus ada perceraian? Duuuh ... ribet lagi ngejawabnya. Yang ini saya masih gak tau harus gimana menjawabnya. Kalo ada yang bisa bantu sih monggo ...
Yaa udahlah ... Buat para high quality jomblo, Be patient Ma fellow, the Jodoh is out there. Apa siiiih !!!
Case Number 1
Saya ada teman yang sudah pacaran selama 9 tahun. Rencananya dia akan menikah tahun ini. Beberapa minggu yang lalu saya OL dengan dia. Sebut aja dia MR. A. I thought I was gonna have a good laugh with him. Instead, I got a bad news. Dia gak jadi nikah tahun ini. Dan begitu saya tanya kenapa, well pastinya, mereka putus. Saya pikir sang Cewek lah yang mutusin si Mr. A, ternyata malah sebaliknya. Saya cukup tau temen saya. So it is come to my surprise kalo keadaannya seperti itu. Ketika saya tanya kenapa, jawabannya benar - benar di luar dugaan. Dia bilang sebelum memutuskan untuk menikah, dia jadi rajin sholat dan sholat malam. Ceritanya sih minta petunjuk sekaligus harapan dia bisa jadi suami yang baik, Ayah yang baik. That kinda stuff. Ternyata setelah dia sholat dan sholat malam untuk minta petunjuk, dia ngerasa kalo Sang Cewek yang udah dipacarin selama 9 tahun ini bukanlah orang yang tepat untuk dia jadiin pendamping hidup. Dengan kata lain, pacar dia bukan jodoh dia. but after 9 whole long years. C'mon dong man ... gak masuk logika gue deh. Was ... But now ...
Case Number 2
Sepupu perempuan saya yang sudah menikah menceritakan tentang temannya yang sudah 10 tahun pacaran tapi akhirnya mereka gak nikah. Sebenernya sih dari dia akhirnya saya punya paham tentang sebuah persepsi baru "I Love U but I Can Not Marry U". Tapi itu nanti aja. Anyway, Temen Sepupu perempuan saya, let just call them Mr.B and Mrs.C, udah pacaran selama 10 tahun. Tapi ternyata si Mr.B ini seorang "Player" - another word for PlayBoy. Dia sering banget ngedate sama cewek lain, bahkan - menurut sepupu saya - sampe kissing segala. Or even more? Dunno. Ternyata eh ternyata, Si Mrs.C udah tau kebiasaan buruk si Mr.B and sering nge gap si Mr.B ini berkali - kali dengan cewek lain. Si Mr.B sering minta maaf dan sering dimaafin sama si Mrs.C, tapi emang dasar "Player" dia tetep aja gak kapok.
Saya sempet menyela cerita sepupu perempuan saya dengan bilang "Kenapa gak dia tinggalin aja si cowok, secara cowoknya dah kurang ajar kayak gitu?" Dan sepupu saya menjawab dengan jawaban simpe " Si Ceweknya cinta sama cowoknya?" Dengan polos dan naifnya saya bilang "Iya gitu? Sampe segitunya? Kok kesannya si Cewek bodoh banget yaa? " Lalu sepupu perempuan saya menjawab pertanyaan saya dengan jawaban yang membuat saya malas untuk menanggapinya " Yaa emang gitu. Susah deh dijelasin, Kamu belam pernah pacaran kan? Mangkanya gih sana cari pacar, nanti juga bakalan ngerti." Damn!!
Lanjut dengan Si Mr.B dan si Mrs.C - sampai setelah 10 tahun pacaran dan keluarga masing - masing juga sudah mengenal mereka berdua dengan baik, akhirnya keluarga mulai menanyakan kapan mereka akan menikah. Mrs.C lalu mengutarakan hal tersebut ke Mr.B. Dia bilang bahwa Mrs.C ingin menikah dengan Mr.B asalkan Mr.B mau berhenti dari kebiasaan buruknya. Mr.B pun berjanji ke Mrs. C bahwa dia akan berhenti. Tapi ... Well, U can guess lah, Mr.B ngelanggar lagi janjinya. Dengan sedih akhirnya Mrs.C memutuskan untuk menikahi orang lain. Setelah Mrs.C menikah, Mr.b jadi frustasi n akhirnya mulai bisa berhenti menjadi seorang "Player". Short story, si Mr.B sekarang pun sudah menikah n sudah ada keluarga. Dan ternyata mereka berdua masih lumayan sering ketemu untuk sekedar makan bareng atau apapun. Lalu sepupu perempuan sayan bilang bahwa si Mrs.C masih dan akan tetap cinta kepada Si Mr.B, walaupun dia menikahi lelaki lain yang saat ini menjadi suaminya.
Owkay ... panjang yaa ceritanya. Pada saat itu saya jadi berdebat dengan sepupu perempuan saya. Saya masih dengan persepsi saya, yaitu " Kalo orang pacaran dah lama dan memang cinta, trus kenapa mereka gak nikah?" Dan sepupu perempuan saya - yang memang sudah menikah dan memiliki satu anak perempuan yang lucu - bilang " Kita bisa aja pacara sama Drug user. Kita bisa aja pacaran sama orang yang kasar. Kita bahkan bisa aja pacaran sama pembunuh. Tapi kalo persepsinya nikah, membangun keluarga, visinyda udah beda. Mungkin banget kita masih cinta sama mantan pacar yang gak dinikahin, tapi kita gak bisa ngejadiin dia suami ato istri karena ada kekhawatiran gak akan bisa tercipta keluarga yang harmonis. Nikah itu kan gak cuma nyatuin dua orang aja, tapi juga dua keluarga."
Wow .... suatu jawaban yang sepertinya saya cari - cari selama ini. Dan akhirnya saya bisa menerima fakta bahwa Cinta tak Harus memiliki. Walaupun mungkin akan sangat sakit. Dalam kasus saya, mungkin itu juga sebabnya kenapa saya sangat sulit mendapatkan pacar. Karena persepsi saya adalah mencari calon istri. Sehingga dia harus memenuhi standar tertentu yang kalo ditelaah lagi, sangat banyak dan sangat tinggi. Wajar, calon istri. Tapi mungkin akan berbeda kalo saya pake persepsi Cari Pacar.
He..he.. Jadi Curhat colongan nih. Sebenarnya tujuan saya posting topik ini adalah untuk membantu orang - orang yang mungkin pernah atau masih mengalami kebingungan seperti saya dulu. Mungkin aja artikel ini bisa sedikit membantu. Emang bener, jodoh gak akan kemana. Jodoh emang di tangan Tuhan. Tapi kalo mereka emang jodoh, kenapa harus ada perceraian? Duuuh ... ribet lagi ngejawabnya. Yang ini saya masih gak tau harus gimana menjawabnya. Kalo ada yang bisa bantu sih monggo ...
Yaa udahlah ... Buat para high quality jomblo, Be patient Ma fellow, the Jodoh is out there. Apa siiiih !!!
Subscribe to:
Posts (Atom)