Kata orang jangan pernah menolak rejeki, karena itu sama saja dengan gak bersyukur kepada Tuhan. Selain itu, mungkin saja rejeki itu gak datang lagi. Tapi... apakah rejeki yang datang itu memang rejeki yang kita inginkan? Bagaimana bila ternyata peluang yang datang malah memberi rasa ragu, ambigu serta dilema yang sangat amat tidak nyaman? Di satu sisi, rejeki atau peluang menjadi solusi atas masalah yang mungkin sedang dihadapi ,tapi apakah tidak ada rejeki dan peluang lain selain peluang yang saat ini sedang Ia jalani?
Saya selalu percaya dengan pilihan. Walaupun saya bukan ahli agama dan tidak terlalu religius, tapi saya tau dan sangat amat yakin bahwa pilihan selalu disediakan, dan bahkan tersebar bagi semua manusia.
Mungkin pilihan ini pilihan yang paling baik, walaupun bukan pilihan yang paling nyaman. Bila ada yang berargumen bahwa hal yang baik memang diawali dengan ketidaknyamanan dan kerja keras, saya kurang setuju. Kerja keras betul bisa memberikan hasil yang baik, tapi tidak selalu harus diliputi ketidaknyamanan. Karena ketidaknyamanan hanya akan memberi tekanan pada orang tersebut dan membuat dia kurang bisa berekspresi dan berbuat optimal. Ataukah ini hanya pembenaran diri saya saja?
Pastinya saya berharap saya diberikan kesabaran oleh Tuhan untuk dapat melihat hikmah yang pasti akan muncul. Sampai waktunya tiba, mudah mudahan saya masih bisa bertahan.
Menjelang tengah malam. Saya rasa saya masih akan coba memberikan kesempatan pada peluang. Entah sampai kapan, entah untuk berapa lama....
Bismillahirrohmanirrohim....
Monday, October 6, 2008
Sunday, June 22, 2008
Write What U Know...
Today I just watched a movie with a title "And She Was". I didn't watch the movie from the beginning, but I think its about an actress thats trying to maintain her existence in the world of Cinema by trying to be a Script writer (Gue banget yaa... for the Scriptwriter part). Since she's an actress, she had read a lot of scripts, so she made a "phony" Script by taking the premise from an old movie and add it from another movie script. To make the story short, due to her act, her best friend that just got a promotion as a vice producer got fired. So to make things better, she really needs to make a good script, a real and original one that has never been published before. She was having a hard time at first, but when her brother came to her and said "U can do this, Its Ur passion. Ur good at this, U know it very well. Just write what U know..." And the end, well, its so predictable. But the moral of the story... Just do what U do best, Follow Ur heart. Reach Ur Dream... And that is exactly what Im intending to do.
I don't believe in coincidence, but I do believe in signs. It kinda confusing perhaps, but its true. I mean, in my perception, God does work in a mysterious way, but still God gave signs to us. Why? Coz Its just not God if he has to sending U letter, Email or Text U trough Ur Cell phone. For sure God wont talk to U directly, coz if it does happen, U can assure Ur self Ur no longer on earth.
Gak tau kenapa, tapi film tadi Saya anggap sebagai pertanda bahwa ... Lucky Andreadi, Just stick to Ur dream and to what U can do best. That is make things up... and put it as a story :D .... an interesting story of course. I take that as a sign - my sign. Other than a reminder or more as a warning that I have to finish a Script that already past the the deadline more than a week... yaaiiikkss.
Having a determination is like telling Ur self where to go. But In life, its just not that easy to find Ur destination. It takes some time. But this is a suggestion that might work. Spend some time with Ur self. Ask Ur self what do U really want? What do U want to do? What do U like to do? What do U wanna Be? Sometimes the answer is something that most people will find ridiculous, bizarre, unusual or impossible. Maybe U wanna be a Model while Ur almost 30? Or U wanna go round the world by backpacking? U wanna published books? U know what, hell with what other people say and just do it. Free Ur self from those obstacles. Im not gonna say that things will be easier afterward, but at least U already free Ur self from the chains that keeps U for all this time. Ur no longer tight up and attached with things that U consider as burdens. Im not saying U should be indifferent... No... but just embrace those dream for opportunity may not come again... and time is the biggest opportunity of all.
Semangat... Kata kata yang saya sering berharap datang dari orang lain. Tapi tetap saja pada akhirnya hanya diri kitalah sang penyemangat sejati, walaupun dukungan dari orang lain, apalagi orang tersayang, sangat ampuh untuk membentuk optimis.
Ada seorang teman yang pernah bilang "Orang sukses sebenarnya hanyalah orang biasa. Mereka sama sama bermimpi dan sama sama memiliki mimpi. Namun yang membedakan orak orang sukses dengan orang biasa adalah: Mereka bermimpi dan berusaha untuk meraih dan mewujudkan mimpi mereka, sedangkan orang biasa hanya mampu bermimpi dan berhenti sampai disitu" .... Bijak yaa. Dahsyat. Singkat tapi dalem...
Jadi.... Kamu termasuk yang mana? Orang sukses atau orang biasa? Satu hal yang saat ini saya akan lakukan dan selalu akan saya lakukan adalah menyemangati diri saya dan orang lain yang sedang berusaha meraih mimpi....
SEMANGAT YAA.... TETAP BERUSAHA... PANTANG MENYERAH TEMAN TEMAN... PERCAYA DEH, KITA BISA... :D
Norak yaa, but really, I dont give a damn. For me, iTS a new Start of A new Day ... Cheers ;D
I don't believe in coincidence, but I do believe in signs. It kinda confusing perhaps, but its true. I mean, in my perception, God does work in a mysterious way, but still God gave signs to us. Why? Coz Its just not God if he has to sending U letter, Email or Text U trough Ur Cell phone. For sure God wont talk to U directly, coz if it does happen, U can assure Ur self Ur no longer on earth.
Gak tau kenapa, tapi film tadi Saya anggap sebagai pertanda bahwa ... Lucky Andreadi, Just stick to Ur dream and to what U can do best. That is make things up... and put it as a story :D .... an interesting story of course. I take that as a sign - my sign. Other than a reminder or more as a warning that I have to finish a Script that already past the the deadline more than a week... yaaiiikkss.
Having a determination is like telling Ur self where to go. But In life, its just not that easy to find Ur destination. It takes some time. But this is a suggestion that might work. Spend some time with Ur self. Ask Ur self what do U really want? What do U want to do? What do U like to do? What do U wanna Be? Sometimes the answer is something that most people will find ridiculous, bizarre, unusual or impossible. Maybe U wanna be a Model while Ur almost 30? Or U wanna go round the world by backpacking? U wanna published books? U know what, hell with what other people say and just do it. Free Ur self from those obstacles. Im not gonna say that things will be easier afterward, but at least U already free Ur self from the chains that keeps U for all this time. Ur no longer tight up and attached with things that U consider as burdens. Im not saying U should be indifferent... No... but just embrace those dream for opportunity may not come again... and time is the biggest opportunity of all.
Semangat... Kata kata yang saya sering berharap datang dari orang lain. Tapi tetap saja pada akhirnya hanya diri kitalah sang penyemangat sejati, walaupun dukungan dari orang lain, apalagi orang tersayang, sangat ampuh untuk membentuk optimis.
Ada seorang teman yang pernah bilang "Orang sukses sebenarnya hanyalah orang biasa. Mereka sama sama bermimpi dan sama sama memiliki mimpi. Namun yang membedakan orak orang sukses dengan orang biasa adalah: Mereka bermimpi dan berusaha untuk meraih dan mewujudkan mimpi mereka, sedangkan orang biasa hanya mampu bermimpi dan berhenti sampai disitu" .... Bijak yaa. Dahsyat. Singkat tapi dalem...
Jadi.... Kamu termasuk yang mana? Orang sukses atau orang biasa? Satu hal yang saat ini saya akan lakukan dan selalu akan saya lakukan adalah menyemangati diri saya dan orang lain yang sedang berusaha meraih mimpi....
SEMANGAT YAA.... TETAP BERUSAHA... PANTANG MENYERAH TEMAN TEMAN... PERCAYA DEH, KITA BISA... :D
Norak yaa, but really, I dont give a damn. For me, iTS a new Start of A new Day ... Cheers ;D
Thursday, June 19, 2008
Kebodohan si Bodoh...
Keledai dibilang bodoh ketika dia masuk ke lubang yang sama untuk kedua kalinya, padahal keledai memang sudah diasosiasikan dengan kebodohan. Saya yakin kalau saja keledai bisa bicara dalam bahasa manusia, keledai pasti tidak mau dan tidak rela selalu dihubung hubungkan dengan kebodohan. Yang lebih tidak mengenakkan lagi, pernyataan keledai itu bodoh ternyata berlaku universal, tidak hanya di Indonesia saja. Sedihnya jadi keledai, salah apa dia. Tapi walau begitu, keledai tidak selalu masuk ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Itu mungkin usaha keledai untuk tidak lebih direndahkan lagi martabatnya. But guess what? Human does more stupid than a mule. Far more stupid for some people. They fell in to the same hole more than twice. Even though they realize it and see the hole right before their eyes. Yet, they still let them self fall in to that same hole... again!!
What a human... what an embarrassment... what a stupidity.... what a jerk!!! Worse, I happen to be one of them. Kalo aja bunuh diri itu halal, mungkin saya sudah bunuh diri saya sendiri sekarang. Bukan karena menyerah, cuma aja mencoba untuk mengurangi jumlah orang orang yang bodoh di dunia ini. Tapi kalo orang orang bodoh sadar diri bahwa mereka bodoh dan bunuh diri, bayangkan berapa jumlah populasi penduduk dunia saat ini. Pastinya sih, Over population is no longer an issue.
Tapi saya pikir kesempatan yang diberikan oleh TUHAN buat saya bukan hal sembarangan. Itu bukan main main dan pastinya bukan hal yang bodoh. Walaupun mungkin banyak orang yang bertanya tanya kenapa orang yang udah jelas jelas buruk, penjahat, busuk dan bajingan masih aja dikasih kesempatan lagi dan lagi dan lagi dan lagi? Saya gak bisa jawab kecuali ini: TUHAN MAHA PENYAYANG. Kelar... pastinya sih dengan satu harapan: Hambanya Tobat dan gak lagi jadi bodoh. Karena gak menggunakan otak dengan optimal adalah salah satu bentuk tidak bersyukurnya seorang hamba. Gak menggunakan kesempatan yang dikasih TUHAN? Itu sangat amat tidak bersyukur banget. Tapi walaupun begitu gak berarti TUHAN bodoh, tetep aja TUHAN MAHA ADIL... bikin dosa yaa dapet dosa. Kalo baik dapet pahala. Gak melakukan hal yang buruk aja dah dapet pahala. Tapi kalo kita niat untuk melakukan hal yang baik pahalanya udah dikasih. Baik yaa.... SUBHANALLAH.
Yang namanya penyesalan emang selalu aja dateng belakangan. Padahal kalo aja gak mau ikutin hawa nafsu pasti deh gak bakal bikin kita nyesel. Bahkan semuanya akan lebih baik. Tapi kalo ngikutin hawa nafsu, gak cuma nyesel tapi juga yang ada semuanya jadi berantakan, jadi ribet dan akhirnya kacau balau ancur berantakan. At least thats what happen to me. Tapi bodohnya saya, saya tetep aja mengulang hal yang sama.
Metode apa yang harus saya gunakan yaa biar semua keburukan dan kebodohan saya gak lagi terulang? Kalo aja malaikat di kanan kiri saya bener bener keliatan dan bisa disentuh, itu kayaknya bakalan ampuh banget buat bikin saya kapok dan langsung jadi baik bin alim. Tapi sepertinya memang itu tantangan sebagai manusia, gimana caranya kita tetep bisa bener dan lempeng jalannya tanpa ada yang ngawasin. Gak tepat juga sih kalo bilang gak ada yang ngawasin, secara TUHAN 24 hours a day always watching us from above. Tapi kita gak bisa ngeliat aja. (Yaa iyalah. Pernyataan yang Bodoh!!)
Berharap kali ini bisa jadi titik balik bukanlah nisbi, hanya tergantung sikap dan tindakan. Bila sikap bisa disatukan dengan niat dan keinginan serta kecerdasan berpikir, bukan hanya bisa menghindari bodoh, tetapi juga bisa meraih sukses. Ternyata meraih mimpi memang tidak mudah, namun juga tidak terlalu sulit. Beri usaha semampunya, pasti nanti kita akan dihampiri oleh keberuntungan. Itu hasil jerih payah dari usaha kita dalam tindakan apapun. Bila konsistensi bisa dijaga, maka mimpi pun bisa teraih. Sabar memang harus dipunya, walau sulit memang. Tapi Do'a sangat ampuh untuk membuat sabar berlari terbirit birit menghampiri kita.
Sekali lagi saya ingin mengadah dan bekata "Tuhan, beri aku kesempatan lagi... untuk memperbaiki diri, untuk meraih mimpi"
Dan masih saya berusaha...
What a human... what an embarrassment... what a stupidity.... what a jerk!!! Worse, I happen to be one of them. Kalo aja bunuh diri itu halal, mungkin saya sudah bunuh diri saya sendiri sekarang. Bukan karena menyerah, cuma aja mencoba untuk mengurangi jumlah orang orang yang bodoh di dunia ini. Tapi kalo orang orang bodoh sadar diri bahwa mereka bodoh dan bunuh diri, bayangkan berapa jumlah populasi penduduk dunia saat ini. Pastinya sih, Over population is no longer an issue.
Tapi saya pikir kesempatan yang diberikan oleh TUHAN buat saya bukan hal sembarangan. Itu bukan main main dan pastinya bukan hal yang bodoh. Walaupun mungkin banyak orang yang bertanya tanya kenapa orang yang udah jelas jelas buruk, penjahat, busuk dan bajingan masih aja dikasih kesempatan lagi dan lagi dan lagi dan lagi? Saya gak bisa jawab kecuali ini: TUHAN MAHA PENYAYANG. Kelar... pastinya sih dengan satu harapan: Hambanya Tobat dan gak lagi jadi bodoh. Karena gak menggunakan otak dengan optimal adalah salah satu bentuk tidak bersyukurnya seorang hamba. Gak menggunakan kesempatan yang dikasih TUHAN? Itu sangat amat tidak bersyukur banget. Tapi walaupun begitu gak berarti TUHAN bodoh, tetep aja TUHAN MAHA ADIL... bikin dosa yaa dapet dosa. Kalo baik dapet pahala. Gak melakukan hal yang buruk aja dah dapet pahala. Tapi kalo kita niat untuk melakukan hal yang baik pahalanya udah dikasih. Baik yaa.... SUBHANALLAH.
Yang namanya penyesalan emang selalu aja dateng belakangan. Padahal kalo aja gak mau ikutin hawa nafsu pasti deh gak bakal bikin kita nyesel. Bahkan semuanya akan lebih baik. Tapi kalo ngikutin hawa nafsu, gak cuma nyesel tapi juga yang ada semuanya jadi berantakan, jadi ribet dan akhirnya kacau balau ancur berantakan. At least thats what happen to me. Tapi bodohnya saya, saya tetep aja mengulang hal yang sama.
Metode apa yang harus saya gunakan yaa biar semua keburukan dan kebodohan saya gak lagi terulang? Kalo aja malaikat di kanan kiri saya bener bener keliatan dan bisa disentuh, itu kayaknya bakalan ampuh banget buat bikin saya kapok dan langsung jadi baik bin alim. Tapi sepertinya memang itu tantangan sebagai manusia, gimana caranya kita tetep bisa bener dan lempeng jalannya tanpa ada yang ngawasin. Gak tepat juga sih kalo bilang gak ada yang ngawasin, secara TUHAN 24 hours a day always watching us from above. Tapi kita gak bisa ngeliat aja. (Yaa iyalah. Pernyataan yang Bodoh!!)
Berharap kali ini bisa jadi titik balik bukanlah nisbi, hanya tergantung sikap dan tindakan. Bila sikap bisa disatukan dengan niat dan keinginan serta kecerdasan berpikir, bukan hanya bisa menghindari bodoh, tetapi juga bisa meraih sukses. Ternyata meraih mimpi memang tidak mudah, namun juga tidak terlalu sulit. Beri usaha semampunya, pasti nanti kita akan dihampiri oleh keberuntungan. Itu hasil jerih payah dari usaha kita dalam tindakan apapun. Bila konsistensi bisa dijaga, maka mimpi pun bisa teraih. Sabar memang harus dipunya, walau sulit memang. Tapi Do'a sangat ampuh untuk membuat sabar berlari terbirit birit menghampiri kita.
Sekali lagi saya ingin mengadah dan bekata "Tuhan, beri aku kesempatan lagi... untuk memperbaiki diri, untuk meraih mimpi"
Dan masih saya berusaha...
Friday, April 11, 2008
Ketika Mulutku Rancu ....
It is better to have what U need rather than having what U want. Is it also better to say what U need to say rather than what U want to say? Should I just keep it all inside again, let it evaporate, let it gone with the wind and just pretend that nothing is happen?
Words are one of the world wonder. It has a magical power either to heal or to hurt someone's hart. If it heal so good, people are willing to give their lives for U. If it hurts so bad, people are willing to take Ur lives from U. Its a two side of coin.
I heard in a radio few days ago, two announcers was telling a story about a Kid an a Wise father. One day, the kid has a dream. In his dream, he saw two lions fighting again Each other. The first Lion look so clean. The fur was gold shiny, The claws look so sharp coz it relfecting a light from the tip of its claw. Its roar sounds so loud, yet also soothing. While the other Lion its the opposite of the first lion. It looks so dirty, the fur was ripped and not shiny at all. Smell so bad and it roars so loud, it makes U scared. Both Lions are fighting against each other and they just wont stop. The kid ask his father about his dream, hoping the father could give an answer of his confusion. After he explained it to his Wise father, his father was thinking for a while until he finally says " My dear Son, the both Lions represent both of Human side, our side, Thee Good side and The bad Side. So, they always try to conquer each other. Its a battle of eternity". The son seems to understand. Yet, he ask another question to his Father. "So .. who will win the Fight Daddy? The Good Side or The Bad Side?". The Wise father took another moment to think. This time, he took a longer time than before. After a few while, the wise father gives his son the answer with a smile adorn his face "It depends on which do U feed most?"
If Im telling what I want to say, is that mean Im feeding the Bad Lion? and If Im telling what I need to say, is that mean Im feeding the Good Lion? Bad how about the freedom of speech?
I watch Oprah Winfrey Show several days ago. In her show, she has a guest.A women who wrote a book (I forgot the title of the book) and who turned out to be an inspirational person coz she can makes people turn their life to a better way. One of the tips from her is just to write down the happy things in Ur life and to put away the bad things. That's make sense. She also said and asked everyone in the studio and at home to be great full for everything, coz that will makes Ur life feel so much better. I agree.
But,everyone can not and shall not forget about the past. Past - for me - is a path that wee need to see and have a look, just to make us aware of our journey.
Its an effort for me to have a turning point. I am willing and trying to write down only happy things and happy plan in ma life. Since after I read ma Blog, Most of ma articles are sad sad story. Is ma life that sad? Or am I just to melancholic? I mean, I want ma Blog to be inspiring too.
As I am now listening SUGABABES song - RUN FOR COVER, it reminds me how I always consider ma Blog as a place for me to run, to search for a cover. For I finally have something to channeling ma sadness. I am finally able to say what I want to say without most people knowing who I am. If I cry in a dark corner of ma room, it inspired me to write. If I feel like wanna scream, it inspired me to write. When somebody or some people break me and get me down, I tend to write. Its ma place, its ma runaway. Its ma sanctuary, So shall I change it?
Mulut ini hanya bisa tergugu ketika hati pun menjadi gagu. Perubahan memang absolut, namun apakah salah bila memilih tidak berbeda? Ketika sayapku lagi lagi dipatahkan, apakah masih bisa aku terbang?
Mulut Rancu, atas sikap hati yang terlalu Lugu
Bagai robot dengan antena kendali di atas kepala, aku berjalan bukan atas keinginanku
Apa itu kebebasan? Apakah merdeka punya arti atas diri yang memilih untuk bersembunyi?
Cahayaku sudah redup, jiwaku mulai terkatup. Tertutup ragu yang mulai membuat nyaman seperti dendangan lagu.
Bila ... Kapankah Bila menjadi pasti untukku?
Mohon maaf Bila, saat ini aku mencoba untuk menyingkirkanmu. Aku ingin menggantimu dengan pasti.
Ragu ... tolong enyah dariku. Pintu keluarnya sudah kau tau ... silahkan, sebelum aku melemparmu.
Hanya satu pertanyaanku bila semua akhirnya terjadi. Singa mana yang sedang kuberi makan?
Words are one of the world wonder. It has a magical power either to heal or to hurt someone's hart. If it heal so good, people are willing to give their lives for U. If it hurts so bad, people are willing to take Ur lives from U. Its a two side of coin.
I heard in a radio few days ago, two announcers was telling a story about a Kid an a Wise father. One day, the kid has a dream. In his dream, he saw two lions fighting again Each other. The first Lion look so clean. The fur was gold shiny, The claws look so sharp coz it relfecting a light from the tip of its claw. Its roar sounds so loud, yet also soothing. While the other Lion its the opposite of the first lion. It looks so dirty, the fur was ripped and not shiny at all. Smell so bad and it roars so loud, it makes U scared. Both Lions are fighting against each other and they just wont stop. The kid ask his father about his dream, hoping the father could give an answer of his confusion. After he explained it to his Wise father, his father was thinking for a while until he finally says " My dear Son, the both Lions represent both of Human side, our side, Thee Good side and The bad Side. So, they always try to conquer each other. Its a battle of eternity". The son seems to understand. Yet, he ask another question to his Father. "So .. who will win the Fight Daddy? The Good Side or The Bad Side?". The Wise father took another moment to think. This time, he took a longer time than before. After a few while, the wise father gives his son the answer with a smile adorn his face "It depends on which do U feed most?"
If Im telling what I want to say, is that mean Im feeding the Bad Lion? and If Im telling what I need to say, is that mean Im feeding the Good Lion? Bad how about the freedom of speech?
I watch Oprah Winfrey Show several days ago. In her show, she has a guest.A women who wrote a book (I forgot the title of the book) and who turned out to be an inspirational person coz she can makes people turn their life to a better way. One of the tips from her is just to write down the happy things in Ur life and to put away the bad things. That's make sense. She also said and asked everyone in the studio and at home to be great full for everything, coz that will makes Ur life feel so much better. I agree.
But,everyone can not and shall not forget about the past. Past - for me - is a path that wee need to see and have a look, just to make us aware of our journey.
Its an effort for me to have a turning point. I am willing and trying to write down only happy things and happy plan in ma life. Since after I read ma Blog, Most of ma articles are sad sad story. Is ma life that sad? Or am I just to melancholic? I mean, I want ma Blog to be inspiring too.
As I am now listening SUGABABES song - RUN FOR COVER, it reminds me how I always consider ma Blog as a place for me to run, to search for a cover. For I finally have something to channeling ma sadness. I am finally able to say what I want to say without most people knowing who I am. If I cry in a dark corner of ma room, it inspired me to write. If I feel like wanna scream, it inspired me to write. When somebody or some people break me and get me down, I tend to write. Its ma place, its ma runaway. Its ma sanctuary, So shall I change it?
Mulut ini hanya bisa tergugu ketika hati pun menjadi gagu. Perubahan memang absolut, namun apakah salah bila memilih tidak berbeda? Ketika sayapku lagi lagi dipatahkan, apakah masih bisa aku terbang?
Mulut Rancu, atas sikap hati yang terlalu Lugu
Bagai robot dengan antena kendali di atas kepala, aku berjalan bukan atas keinginanku
Apa itu kebebasan? Apakah merdeka punya arti atas diri yang memilih untuk bersembunyi?
Cahayaku sudah redup, jiwaku mulai terkatup. Tertutup ragu yang mulai membuat nyaman seperti dendangan lagu.
Bila ... Kapankah Bila menjadi pasti untukku?
Mohon maaf Bila, saat ini aku mencoba untuk menyingkirkanmu. Aku ingin menggantimu dengan pasti.
Ragu ... tolong enyah dariku. Pintu keluarnya sudah kau tau ... silahkan, sebelum aku melemparmu.
Hanya satu pertanyaanku bila semua akhirnya terjadi. Singa mana yang sedang kuberi makan?
Tuesday, April 1, 2008
Tuhan ... Ijinkan Aku Bertanya ...
Tuhan ... Bila dalam kesulitan Hamba Mu menangis dan ragu kepada Mu karena keinginan Ku yang tidak juga tercapai, salahkah Aku ...?
Tuhan ... Bila Aku ingin meraih Mimpi namun tidak juga tergapai, lalu aku marah dan kesal kepada Mu hingga aku enggan menghadap Mu, salahkah Aku ...?
Tuhan ... Bila aku sadar pilihan Ku salah, namun hatiku tak kuasa untuk berpaling, paling tidak belum untuk saat ini dan membuat Aku malu untuk menyapa Mu ... salahkah Aku ...?
Tuhan ... Bila harapan yang aku punya tetap berupa harapan belaka lalu aku kecewa kepada Mu dan berprasangka buruk tentang Mu, salahkah Aku ...?
Tuhan ... Bila aku berpaling dan bergantung pada Hamba Mu yang lain sebagai penenang hati dan penyejuk jiwa, salahkah Aku ...?
Tuhan ... bila saja ada jawaban dari semua kebingungan dan kebingungan Ku yang selalu saja membuat Ku gamang, bimbang dan tidak tenang, dimana harus ku cari ...?
Tuhan ... Bila memang ada Do'a yang dapat membuat semua keinginan dan mimpi mimpi Ku tercapai, dimana harus ku dapat ...?
Betul Tuhan ... aku sedang kecewa
Betul Tuhan ... aku sedang marah
Betul Tuhan ... aku memang berprasangka
Dan betul Tuhan ... aku memang curiga
Kecewa atas semua do'a yang Ku rasa tak pernah terlaksana
Marah atas kesulitan yang menimpa dan solusi tak nampak ada
Prasangka bahwa akulah satu satunya Hamba yang tak pernah ingin Kau sapa
Curiga bahwa peduli Mu untuk Ku tak lagi nyata
Aku ini sedang buta ... butuh bimbingan bijaksana ... butuh semangat ... butuh juga belaian hangat ... serta kata kata sejuk penuh manfaat ...
Tuhan ... mengapa Kau biarkan Aku tersesat? Apakah Aku tak lagi kau genggam erat? Aku butuh jawaban Tuhan ... Jangan palingkan wajah Mu dan kau tutup pintu hati Mu rapat ...
Aku mungkin hina dan laknat, tapi bukankah tiap Hamba berhak dapat kesempatan dan limpahan rahmat?
Lihat wajah Ku Tuhan .... Jamah diriku .... Berikan jawaban, jangan biarkan aku sesat.
Tuhan ... apakah aku masih kau beri Kesempatan?
Tuhan ... Bila Aku ingin meraih Mimpi namun tidak juga tergapai, lalu aku marah dan kesal kepada Mu hingga aku enggan menghadap Mu, salahkah Aku ...?
Tuhan ... Bila aku sadar pilihan Ku salah, namun hatiku tak kuasa untuk berpaling, paling tidak belum untuk saat ini dan membuat Aku malu untuk menyapa Mu ... salahkah Aku ...?
Tuhan ... Bila harapan yang aku punya tetap berupa harapan belaka lalu aku kecewa kepada Mu dan berprasangka buruk tentang Mu, salahkah Aku ...?
Tuhan ... Bila aku berpaling dan bergantung pada Hamba Mu yang lain sebagai penenang hati dan penyejuk jiwa, salahkah Aku ...?
Tuhan ... bila saja ada jawaban dari semua kebingungan dan kebingungan Ku yang selalu saja membuat Ku gamang, bimbang dan tidak tenang, dimana harus ku cari ...?
Tuhan ... Bila memang ada Do'a yang dapat membuat semua keinginan dan mimpi mimpi Ku tercapai, dimana harus ku dapat ...?
Betul Tuhan ... aku sedang kecewa
Betul Tuhan ... aku sedang marah
Betul Tuhan ... aku memang berprasangka
Dan betul Tuhan ... aku memang curiga
Kecewa atas semua do'a yang Ku rasa tak pernah terlaksana
Marah atas kesulitan yang menimpa dan solusi tak nampak ada
Prasangka bahwa akulah satu satunya Hamba yang tak pernah ingin Kau sapa
Curiga bahwa peduli Mu untuk Ku tak lagi nyata
Aku ini sedang buta ... butuh bimbingan bijaksana ... butuh semangat ... butuh juga belaian hangat ... serta kata kata sejuk penuh manfaat ...
Tuhan ... mengapa Kau biarkan Aku tersesat? Apakah Aku tak lagi kau genggam erat? Aku butuh jawaban Tuhan ... Jangan palingkan wajah Mu dan kau tutup pintu hati Mu rapat ...
Aku mungkin hina dan laknat, tapi bukankah tiap Hamba berhak dapat kesempatan dan limpahan rahmat?
Lihat wajah Ku Tuhan .... Jamah diriku .... Berikan jawaban, jangan biarkan aku sesat.
Tuhan ... apakah aku masih kau beri Kesempatan?
Wednesday, February 6, 2008
Sayap Patah Manusia Lemah
Bukan Malaikat memang, namun aku juga punya sayap. Aku bisa terbang kemanapun aku mau, kapanpun aku mau. Sayapku indah, putih, lebar terbentang. Bila Malaikat melihat sayapku, mereka mungkin akan iri. Sayapku beda dengan sayap mereka. Sayapku tidak dimiliki mereka. Sayapku sayap harapan. Ia yang selama ini membawaku terbang mengarungi angkasa mimpi, meraih bintang cita cita, menembus kabut ragu, menerjang angin cobaan dan kemudian kembali membawaku ke daratan kenyataan. Aku bangga dengan sayapku. Sayapku bisa membuatku melakukan apapun yang aku mau. Tapi ... saat ini sayapku terluka; sepertinya patah. Terluka oleh parang prasangka dan panah amarah. Aku terjatuh dari terbangku dan terperosok ke dalam lubang putus asa.
Sudah lama aku disini, di lubang ini. Bahkan terlalu lama. Ku coba gerakan sayapku tapi tak bisa. Sayapku terluka, aku terluka. Dan di sekelilingku hanya ada gelap dan hampa. Di lubang ini tidak kulihat adanya cahaya, bahkan ketika aku melihat ke atas. Tetap gelap. Sepertinya disini tak pernah ada pagi dan hangatnya matahari. Selalu malam dengan sedikit temaram. Aku meringkuk di sudut lubang, aku menangis hinga tergugu. Berharap ada keajaiban sembuhkan sayapku. Biar aku bisa bebas, terbang keluar dari lubang sialan ini. Usahaku tinggal do'a. Pun, aku tidak tau apakah diijabah.
Tunggu ... Aku mendengar suara. Mungkin ada orang di atas sana. Mungkin mereka bisa melihat dan menolongku. Dan aku benar. Aku melihat beberapa orang. Aku kenal mereka, sangat kenal. Mereka para kerabat dekatku. Aku tersenyum dan mengucap syukur. Pertolongan akhirnya tiba. Namun ... aku salah. Mereka hanya melihat dengan tatapan iba, lalu menggelengkan kepala sambil mengelus dada. Kenapa? Apakah aku mahluk hina? Lalu mereka pergi. Kenapa mereka pergi? Harusnya mereka menolong aku. Teriakanku sepertinya hanyalah sunyi bagi mereka. Sayapku makin sakit ... sakit sekali. Kembali aku mencari sudut gelap di dalam lubang gelap untuk sembunyi. Aku menangis lagi. Lagi lagi tergugu. Meringkuk di sudut sambil mendekap sayapku yang terluka. Aku kecewa, aku ingin tiada. Seperti embun yang menguap kala fajar datang. Ia hilang ... tanpa jejak, tak terlacak.
Tiba tiba aku melihat satu sosok di dalam lubang. Seorang anak kecil berwajah lugu namun bermata sayu. Ia menghampiriku lalu mendekapku. Ia hapuskan air mata dari wajahku, lalu Ia berkata "Sayapmu bisa sembuh". Aku terkejut, lalu aku bertanya "Bagaimana bisa, aku tak temukan obat untuk sayapku. Mungkin ada di luar sana, tapi saat ini aku terperangkap dalam lubang jahanam ini. Mana mungkin aku bisa sembuhkan sayapku?". Anak kecil menjawab dengan tetap bermata sayu "Keyakinan!!" Bila kau yakin, maka pasti kau bisa keluar dari sini. Keyakinan bisa sembuhkan sayapmu. Selama ini kau sulit yakinkan dirimu untuk bisa keluar dari sini dengan usahamu sendiri". Aku terkejut lagi. Anak ini, muncul tiba tiba dan langsung menasihatiku. Memangnya siapa dia?. Berusaha tenang aku lalu bertanya "Sebenarnya siapa dirimu anak kecil?" Dan jawabannya menyentakan aku "Aku nuranimu, hati kecilmu. Aku adalah kamu, maka dengarkanlah aku, percaya aku."
Aku terdiam. Mencoba untuk memahami semua kejadian ini. Namun sebelum nalarku menemukan jawab, anak itu perlahan menghilang sambil bertanya "Mengapa selama ini kau punggungi Tuhanmu?" Lalu Ia menghilang. Betul betul hilang. Menyatu dengan udara yang kuhirup, melebur dengan gelap yang tetap pekat. Lagi lagi aku terdiam, namun kali ini aku berdiri dan berjalan menuju dinding pinggir lubang. Aku menunduk dan berkata " Nurani, Aku tak punggungi Tuhanku. Aku hanya malu atas jutaan khilafku." Aku terdiam sebentar, lalu kuhadapkan wajahku ke atas "Aku pasti bisa, aku yakin bisa!!" Sayapku terasa sakit, aku pun berasa lemah. Namun aku ingin coba panjati dinding hingga tiba di mulut lubang. Aku inign keluar dari sini .
Aku terperosok. Sekali, Dua kali,Tiga kali. Belum berhasil. Sulit ... sangat sulit. Apa aku menyerah saja? Tidak, nuraniku yakin aku mampu, maka aku harus terus berusaha. Saat ini aku hanya berpikir tentang kebebasan. Lepas dan keluar dari lubang terkutuk. Bila nanti aku berhasil, aku kan berjalan dan mencari obat untuk sembuhkan sayapku. Agar aku bisa kembali terbang dan meraih bintang cita citaku. Bintang impianku. Aku mendongak, sudah bisa kulihat bintang bintang mimpi bersinar. Aku masih memanjat lubang, belum juga separoh jalan. Tapi nanti aku pasti keluar. Nurani, percaya padaku. Tuhan ... bimbing hambaMu.
" When Things go wrong and they sometimes will; when the road your trudging seems all up hill; when the funds are low and you want to smile buat you have to sigh; when care is pressing you down a bit; Rest if you must, but don't you quit!! "
(Author Unknown)
Garis Takdir telah ditentukan, namun bukan berarti kepastian. Merubah takdir bukan hal mungkir. Walaupun sulitnya sangat dan sangat amat.
Ini Selasa, Aku tetap berusaha ...
Sudah lama aku disini, di lubang ini. Bahkan terlalu lama. Ku coba gerakan sayapku tapi tak bisa. Sayapku terluka, aku terluka. Dan di sekelilingku hanya ada gelap dan hampa. Di lubang ini tidak kulihat adanya cahaya, bahkan ketika aku melihat ke atas. Tetap gelap. Sepertinya disini tak pernah ada pagi dan hangatnya matahari. Selalu malam dengan sedikit temaram. Aku meringkuk di sudut lubang, aku menangis hinga tergugu. Berharap ada keajaiban sembuhkan sayapku. Biar aku bisa bebas, terbang keluar dari lubang sialan ini. Usahaku tinggal do'a. Pun, aku tidak tau apakah diijabah.
Tunggu ... Aku mendengar suara. Mungkin ada orang di atas sana. Mungkin mereka bisa melihat dan menolongku. Dan aku benar. Aku melihat beberapa orang. Aku kenal mereka, sangat kenal. Mereka para kerabat dekatku. Aku tersenyum dan mengucap syukur. Pertolongan akhirnya tiba. Namun ... aku salah. Mereka hanya melihat dengan tatapan iba, lalu menggelengkan kepala sambil mengelus dada. Kenapa? Apakah aku mahluk hina? Lalu mereka pergi. Kenapa mereka pergi? Harusnya mereka menolong aku. Teriakanku sepertinya hanyalah sunyi bagi mereka. Sayapku makin sakit ... sakit sekali. Kembali aku mencari sudut gelap di dalam lubang gelap untuk sembunyi. Aku menangis lagi. Lagi lagi tergugu. Meringkuk di sudut sambil mendekap sayapku yang terluka. Aku kecewa, aku ingin tiada. Seperti embun yang menguap kala fajar datang. Ia hilang ... tanpa jejak, tak terlacak.
Tiba tiba aku melihat satu sosok di dalam lubang. Seorang anak kecil berwajah lugu namun bermata sayu. Ia menghampiriku lalu mendekapku. Ia hapuskan air mata dari wajahku, lalu Ia berkata "Sayapmu bisa sembuh". Aku terkejut, lalu aku bertanya "Bagaimana bisa, aku tak temukan obat untuk sayapku. Mungkin ada di luar sana, tapi saat ini aku terperangkap dalam lubang jahanam ini. Mana mungkin aku bisa sembuhkan sayapku?". Anak kecil menjawab dengan tetap bermata sayu "Keyakinan!!" Bila kau yakin, maka pasti kau bisa keluar dari sini. Keyakinan bisa sembuhkan sayapmu. Selama ini kau sulit yakinkan dirimu untuk bisa keluar dari sini dengan usahamu sendiri". Aku terkejut lagi. Anak ini, muncul tiba tiba dan langsung menasihatiku. Memangnya siapa dia?. Berusaha tenang aku lalu bertanya "Sebenarnya siapa dirimu anak kecil?" Dan jawabannya menyentakan aku "Aku nuranimu, hati kecilmu. Aku adalah kamu, maka dengarkanlah aku, percaya aku."
Aku terdiam. Mencoba untuk memahami semua kejadian ini. Namun sebelum nalarku menemukan jawab, anak itu perlahan menghilang sambil bertanya "Mengapa selama ini kau punggungi Tuhanmu?" Lalu Ia menghilang. Betul betul hilang. Menyatu dengan udara yang kuhirup, melebur dengan gelap yang tetap pekat. Lagi lagi aku terdiam, namun kali ini aku berdiri dan berjalan menuju dinding pinggir lubang. Aku menunduk dan berkata " Nurani, Aku tak punggungi Tuhanku. Aku hanya malu atas jutaan khilafku." Aku terdiam sebentar, lalu kuhadapkan wajahku ke atas "Aku pasti bisa, aku yakin bisa!!" Sayapku terasa sakit, aku pun berasa lemah. Namun aku ingin coba panjati dinding hingga tiba di mulut lubang. Aku inign keluar dari sini .
Aku terperosok. Sekali, Dua kali,Tiga kali. Belum berhasil. Sulit ... sangat sulit. Apa aku menyerah saja? Tidak, nuraniku yakin aku mampu, maka aku harus terus berusaha. Saat ini aku hanya berpikir tentang kebebasan. Lepas dan keluar dari lubang terkutuk. Bila nanti aku berhasil, aku kan berjalan dan mencari obat untuk sembuhkan sayapku. Agar aku bisa kembali terbang dan meraih bintang cita citaku. Bintang impianku. Aku mendongak, sudah bisa kulihat bintang bintang mimpi bersinar. Aku masih memanjat lubang, belum juga separoh jalan. Tapi nanti aku pasti keluar. Nurani, percaya padaku. Tuhan ... bimbing hambaMu.
" When Things go wrong and they sometimes will; when the road your trudging seems all up hill; when the funds are low and you want to smile buat you have to sigh; when care is pressing you down a bit; Rest if you must, but don't you quit!! "
(Author Unknown)
Garis Takdir telah ditentukan, namun bukan berarti kepastian. Merubah takdir bukan hal mungkir. Walaupun sulitnya sangat dan sangat amat.
Ini Selasa, Aku tetap berusaha ...
Wednesday, January 30, 2008
Kisah Sepanjang Rel Kereta
Kesialan seseorang adalah keberuntungan orang lain. Atau kalo mau diartiin dengan bahasa yang lebih ekstrim, Musibah seseorang adalah Rejeki bagi orang lain. Mau contoh? Penggali kuburan, Dokter, Pemadam Kebakaran, Tukang bunga sampe Supir Metro Mini (kan suka nganterin rombongan orang meninggal). Kalo udah berpikir seperti ini, mau gak mau kita harus bilang " Tuhan itu adil yaa... " Sama seperti yang baru aja saya alami hari ini. REncana mau tiba di kampus sore hari cuma jadi cita cita aja. Gimana enggak, Setelah nganterin Mamah n Adek muter muter kesana kemari, akhirnya baru bisa ke Stasiun Kota sekitar jam 6 sore. Lengkap dengan basahan gerimis yang sama sekali gak diundang, bikin rambut lepek dan keringat berlebih karena gerah. Jangan tanya penampilan, udah gak peduli juga. Yang penting sampe di kampus. Walau sebenernya dah telat n bingung harus ngapain nanti disana. Seperti biasa, Jakarta pasti NgeHang bin Ngadat kalo basah dikit. Gak cuma mobil aja yang macet, kereta pun ikutan macet. Jadwal kereta jadi berantakan karena kereta terlambat datang. Why? dont ask me. Dont wanna know anyway. Saya pikir, daripada saya gak jelas juntrungannya, mendingan sholat. Dah maghrib pula, N udah kewajiban juga sih. Selain bisa bikin sejuk badan, sangat ampuh untuk bikin sejuk hati n menjernihkan pikiran. Biar nanti gak maen gampar orang cuma gara gara mukanya gak enak diliat. Saya naik kereta kedua yang datang ke Stasiun Kota. Buat yang sering naik kereta pasti tau alasannya kenapa. Gak lain gak bukan karena yang pertama lebih penuh N lebih sesak (Kenapa .... Yaa karena kereta datengnya telat. Kan tadi dah dibilangin!!). Itu juga berarti mengurangi resiko dicopet, dijambret, dirampok sampe digrepe grepe (Cowok juga berpotensi jadi korban grepean lho ... mending sama cewek, nah kalo cowok? Mending kalo ganteng ... LHO!!). Jujur yaa, kereta kedua sebenarnya gak terlalu lapang juga, tapi paling nggak masih bisa regangin kaki dikit, lampu keretanya masih nyala, tukang jualan masih bisa lewat (walaupun jualannya maksa banget. Alesannya ... butuh duit. Yah ... siapa yang gak butuh. Hare gennneee!!). Tapi pastinya di kereta kedua saya gak sampe diketekin. MAaf yaa kalo kata katanya gak sopan, tapi menurut saya itu salah satu pelanggaran HAM yang agak sulit untuk diperkarain. Anyway, kereta berangkat. LEga lah perasaan. Jalannya lambat tapi pasti ... pasti bikin telat, pasti bikin pegel, pasti bikin dongkol n pasti bikin mo buru buru sampe. Tapi ternyata eh ternyata sodara sodara yang dikasihi Tuhan ... Di Kalibata kereta tiba tiba Mogok (Yaa iyalah Tiba Tiba. Bego aja kalo udah tau kereta bakal mogok tapi tetep naek). N it takes almost one hour untill the train moved again. The machine was still broken. So to make the broken train moving, the other train had to pushed the train from behind. By the time we arrived in PAsar Minggu Station, we have to switched train. Apakah kereta selanjutnya penuh ... Well, U can guess lah. Untill I decided to take the last train to Bogor, which was -again - not too spacious, but better than the other train before it. Di Stasiun Pasar Minggu, penumpang sudah pasti menumpuk. Dan rencana orang orang yang mau pulang ke rumah mereka dengan cepat - minimal jam pulangnya gak barengan sama jam keluarnya banci - sudah pasti Gagal Total. Mereka sial (Mereka itu termasuk gue yaa!!). Tapi kebanyakan dari para penjual makanan dan minuman di Stasiun Pasar Minggu mendapat rejeki yang sedikit lebih dari biasanya. Para penumpang yang kelelahan dan pastinya hausssss berat karena kegerahan yang tiada tara di dalam gerbong, membeli minuman yang mereka jual. Again, termasuk Gue!! Mereka pun keliatan begitu repot melayani beberapa pembeli yang memang mau dilayani secepat mungkin. Gak bisa dipungkiri, mereka pasti senang dengan kejadian ini. Gak mau nuduh kalo mereka rame rame berdo'a supaya kereta hari ini mogok jadi mereka bisa dapet rejeki lebih (berlebihan yaa). Pastinya KEsialan para penumpang kereta di hari ini adalah keberuntungan para penjual di Stasiun Pasar Minggu. See, Tuhan Memang Adil.
Tapi ... Keadilan bisa jadi hal yang rancu, bahkan semu bagi beberapa orang. Bagi mereka yang memang sudah dalam kesulitan, tapi ternyata masih ada kesulitan lain yang bertamu. Padahal mereka mendamba solusi. Tragis? Gak berani ngomong gitu juga. Pastinya sih, ada hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari kondisi seperti ini. Sabar lagi lagi harus digunakan sebagai jurus pamungkas sekaligus pijakan. Dan salut buat orang orang yang masih bisa tersenyum dalam himpitan tragedi. Kalo ada yang kenal dengan orang yang seperti itu, tolong dikenalin. Saya mau belajar banyak dari dia. Belajar menggunakan dan mengoptimalkan sabar. Lagi lagi persis seperti kejadian hari ini. Tadi siang saya, Mamah dan Adek pergi ke Pasar Baru. Di samping Bank Mandiri ada seorang penjual Soto dan penjual minuman botol. Tadinya lokasi mereka gak persis disitu, tapi karena di Pasar Baru mau dibangun Apartemen, Jadilah posisi mereka digeser sedikit. Walhasil, mereka jadi kurang terekspose dari biasanya. Dampaknya ... yaa kurangnya pendapatan. Orang jadi banyak yang gak engeh dengan mereka. Saya aja yang sebelumnya pernah makan disitu sempat mengira kalo mereka udah gak jualan lagi. Singkat cerita, makanlah kita disana. Tiga soto dan Tiga teh botol. Selesai makan, kita pergi dan gak lupa bilang terima kasih ke Penjual soto dan penjual teh botol. Si penjual soto menanggapi ucapan terima kasih kita. Tapi, si penjual teh botol menanggapi ucapan terima kasih kita agak sedikit berlebihan. Bukan berlebihan yang norak, tapi berlebihan yang didasari kegetiran dan kepahitan hidup. Dia bilang terima kasih ke setiap orang dari kita. Artinya, dia 3 kali ngucapin terima kasih sewaktu kita lewat di depan si penjual teh botol. Pertama ke Mamah. Dia bilang " Terima kasih yaa Bu ... Ucapan kedua dialamatkan ke Adek ... " Terima kasih Dek ... Dan yang terakhir dialamatkan ke saya " Terima kasih yaa Dek ... sambil mengelus pundak saya. Terenyuh ... sumpah. Raut wajah tua si Bapak dan Uban putih di kepalanya menyimpan berjuta cerita. Mungkin juga beban hidup yang buat dia terasa berat untuk dipikul, tapi dia tetap bertahan. Saya tau di kepalanya ada pikiran bila nanti dia digusur. Dia pasti gak ada daya apapun untuk mempertahankan tempat yang sudah bertahun tahun mungkin jadi sumber rejeki bagi dia dan keluarganya. Malu ... ternyata daya juang saya gak ada seujung kukunya si Bapak penjual teh botol. Saya yakin ada keadilan bagi si Bapak tadi dan orang orang yang bernasib sama. Paling tidak, kesulitan mereka akan diganjar dengan pahala dan dihapuskannya dosa. Hari ini memang melelahkan, tapi paling tidak ada pelajaran yang bisa saya petik. Cuma sekedar ingin bercerita. Intinya sih mo mengajak untuk sedikit berlapang dada dan berpikir positif aja dalam melihat suatu kegetiran. Pastinya sih mencoba mengajak diri sendiri dulu. Ingin Coba melihat dengan sudut pandang yang berbeda, biar bisa sedikit bersyukur.
Sudah larut ... tapi mata malas terpejam. Biar saya merenung sebentar. Mungkin akan ada hikmah lain yang bisa saya petik. Agar pikiran tidak tumpul. Agar hati tidak tumpul.
Tapi ... Keadilan bisa jadi hal yang rancu, bahkan semu bagi beberapa orang. Bagi mereka yang memang sudah dalam kesulitan, tapi ternyata masih ada kesulitan lain yang bertamu. Padahal mereka mendamba solusi. Tragis? Gak berani ngomong gitu juga. Pastinya sih, ada hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari kondisi seperti ini. Sabar lagi lagi harus digunakan sebagai jurus pamungkas sekaligus pijakan. Dan salut buat orang orang yang masih bisa tersenyum dalam himpitan tragedi. Kalo ada yang kenal dengan orang yang seperti itu, tolong dikenalin. Saya mau belajar banyak dari dia. Belajar menggunakan dan mengoptimalkan sabar. Lagi lagi persis seperti kejadian hari ini. Tadi siang saya, Mamah dan Adek pergi ke Pasar Baru. Di samping Bank Mandiri ada seorang penjual Soto dan penjual minuman botol. Tadinya lokasi mereka gak persis disitu, tapi karena di Pasar Baru mau dibangun Apartemen, Jadilah posisi mereka digeser sedikit. Walhasil, mereka jadi kurang terekspose dari biasanya. Dampaknya ... yaa kurangnya pendapatan. Orang jadi banyak yang gak engeh dengan mereka. Saya aja yang sebelumnya pernah makan disitu sempat mengira kalo mereka udah gak jualan lagi. Singkat cerita, makanlah kita disana. Tiga soto dan Tiga teh botol. Selesai makan, kita pergi dan gak lupa bilang terima kasih ke Penjual soto dan penjual teh botol. Si penjual soto menanggapi ucapan terima kasih kita. Tapi, si penjual teh botol menanggapi ucapan terima kasih kita agak sedikit berlebihan. Bukan berlebihan yang norak, tapi berlebihan yang didasari kegetiran dan kepahitan hidup. Dia bilang terima kasih ke setiap orang dari kita. Artinya, dia 3 kali ngucapin terima kasih sewaktu kita lewat di depan si penjual teh botol. Pertama ke Mamah. Dia bilang " Terima kasih yaa Bu ... Ucapan kedua dialamatkan ke Adek ... " Terima kasih Dek ... Dan yang terakhir dialamatkan ke saya " Terima kasih yaa Dek ... sambil mengelus pundak saya. Terenyuh ... sumpah. Raut wajah tua si Bapak dan Uban putih di kepalanya menyimpan berjuta cerita. Mungkin juga beban hidup yang buat dia terasa berat untuk dipikul, tapi dia tetap bertahan. Saya tau di kepalanya ada pikiran bila nanti dia digusur. Dia pasti gak ada daya apapun untuk mempertahankan tempat yang sudah bertahun tahun mungkin jadi sumber rejeki bagi dia dan keluarganya. Malu ... ternyata daya juang saya gak ada seujung kukunya si Bapak penjual teh botol. Saya yakin ada keadilan bagi si Bapak tadi dan orang orang yang bernasib sama. Paling tidak, kesulitan mereka akan diganjar dengan pahala dan dihapuskannya dosa. Hari ini memang melelahkan, tapi paling tidak ada pelajaran yang bisa saya petik. Cuma sekedar ingin bercerita. Intinya sih mo mengajak untuk sedikit berlapang dada dan berpikir positif aja dalam melihat suatu kegetiran. Pastinya sih mencoba mengajak diri sendiri dulu. Ingin Coba melihat dengan sudut pandang yang berbeda, biar bisa sedikit bersyukur.
Sudah larut ... tapi mata malas terpejam. Biar saya merenung sebentar. Mungkin akan ada hikmah lain yang bisa saya petik. Agar pikiran tidak tumpul. Agar hati tidak tumpul.
Friday, November 30, 2007
Bila Saja ...
Malam ini benar benar dingin. Cukup dingin hingga terasa menusuk tulang. Tapi aku tidak berharap akan kehangatan. Malah, aku ingin dingin tetap tinggal dan temani aku. Hati ini sedang luka ... bukan hal yang baru. Aku hanya berpikir dingin bisa menandingi nyerinya hati karena angan yang sepertinya kembali pupus dan harapan kembali hampa.
Berat kuseret langkahku ... menuju kemana aku pun tak tau. Pulang ... saat ini rumah hanya sekedar bangunan pelindung, tidak lebih. It's just a House, not a Home. Not anymore ... Maybe it will be Home again someday. But surely not now ... nor tommorow. Not for sometime near. Saat ini aku terus berusaha mencoba untuk menerka nerka siapa yang akan menjadi peredam gundah, cahaya hati. Siapa yang akan memberi hangat pada jiwa yang tersudut di dalam dinginnya sepi. Melow .... Cengeng .... Picisan ... Norak ... Tapi aku Jujur.
Sudahlah, angan tidak boleh diperlakukan seperti nyata. Angan hanyalah acuan dan pemicu bagi harap yang terus menyemangati jiwa untuk maju dan meraih mimpi. Bila angan tidak teraih, maafkan takdir. Wajar bila sedih ... tak apa bila kecewa. Namun jangan terlalu lama. Biarkan saja semua berjalan apa adanya. Ada kala dimana kita memang harus membiarkan semua berjalan seperti yang telah digariskan ... dan kita tidak perlu bahkan tidak boleh untuk turut campur. Sadarlah ... Inilah hidup dan segala peraturannya. Lepaskan, angan bukan beban. Maka jangan jadikan itu beban. Tidak meraih angan bukan berarti kalah atau pecundang. Mungkin waktunya saja yang belum tepat ... angan pun perlu waktu. Semua perlu waktu. Walau terdengar klise namun sabar adalah kunci. Jadikan sabar pijakan.
Aku tetap muram .... hati tetap temaram. Mungkin karena angan dan harap yang dimiliki sudah terlalu lama mendekam dan tidak juga berubah jadi nyata. Bila memang tidak akan pernah jadi nyata, apa salah untuk tetap berharap dan berusaha? Takdir bisa diubah kan? Ataukah aku memang harus jalani garis yang sudah terbuat tanpa sebelumnya ada kompromi dan mufakat? Saat ini aku terduduk dan mencoba untuk kembali berkhayal akan hal yang sama, akan angan yang sama, akan orang yang sama. Haruskah aku menangis ...? Salahkah bila aku menangis hanya karena aku lelaki? Urusan hati tidak bisa dipukul rata, jadi aku tak peduli.
Bila saja bintang jatuh bisa mengabulkan harap, maka aku berharap ... pertemukan aku dengan kekasihku.
Saat ini, lagi lagi aku sedih ....
Berat kuseret langkahku ... menuju kemana aku pun tak tau. Pulang ... saat ini rumah hanya sekedar bangunan pelindung, tidak lebih. It's just a House, not a Home. Not anymore ... Maybe it will be Home again someday. But surely not now ... nor tommorow. Not for sometime near. Saat ini aku terus berusaha mencoba untuk menerka nerka siapa yang akan menjadi peredam gundah, cahaya hati. Siapa yang akan memberi hangat pada jiwa yang tersudut di dalam dinginnya sepi. Melow .... Cengeng .... Picisan ... Norak ... Tapi aku Jujur.
Sudahlah, angan tidak boleh diperlakukan seperti nyata. Angan hanyalah acuan dan pemicu bagi harap yang terus menyemangati jiwa untuk maju dan meraih mimpi. Bila angan tidak teraih, maafkan takdir. Wajar bila sedih ... tak apa bila kecewa. Namun jangan terlalu lama. Biarkan saja semua berjalan apa adanya. Ada kala dimana kita memang harus membiarkan semua berjalan seperti yang telah digariskan ... dan kita tidak perlu bahkan tidak boleh untuk turut campur. Sadarlah ... Inilah hidup dan segala peraturannya. Lepaskan, angan bukan beban. Maka jangan jadikan itu beban. Tidak meraih angan bukan berarti kalah atau pecundang. Mungkin waktunya saja yang belum tepat ... angan pun perlu waktu. Semua perlu waktu. Walau terdengar klise namun sabar adalah kunci. Jadikan sabar pijakan.
Aku tetap muram .... hati tetap temaram. Mungkin karena angan dan harap yang dimiliki sudah terlalu lama mendekam dan tidak juga berubah jadi nyata. Bila memang tidak akan pernah jadi nyata, apa salah untuk tetap berharap dan berusaha? Takdir bisa diubah kan? Ataukah aku memang harus jalani garis yang sudah terbuat tanpa sebelumnya ada kompromi dan mufakat? Saat ini aku terduduk dan mencoba untuk kembali berkhayal akan hal yang sama, akan angan yang sama, akan orang yang sama. Haruskah aku menangis ...? Salahkah bila aku menangis hanya karena aku lelaki? Urusan hati tidak bisa dipukul rata, jadi aku tak peduli.
Bila saja bintang jatuh bisa mengabulkan harap, maka aku berharap ... pertemukan aku dengan kekasihku.
Saat ini, lagi lagi aku sedih ....
Tuesday, November 6, 2007
Catatan Perasaan di Kala Hujan
Takdir ... banyak yang menganggap bahwa itu adalah sebaris garis lurus tanpa lengkung dan sudut dimana kita berjalan di atasnya. Pilihan adalah nihil, perubahan itu mustahil. Takdir populer dengan pasti dan harusnya. Tidak kompromi dan tidak basa basi.
Hari ini hujan ... tiap tetes airnya membuatku merenung tentang takdir. Hembusan angin dingin membawa aku ke alam pikir untuk mencari satu kesimpulan. Sebuah hipotesa dari banyaknya teori yang diutarakan orang mengenai takdir. Heran ... mengapa lembab udara malah membuat aku ingin terawangi takdir? Mungkin perpaduan sejuk, gelap dan semilir sangat kondusif menghadirkan melankolis ke dalam kepalaku. Atau mungkin karena situasi diri akhir akhir ini yang terasa lepas dari pasti. Gantung ... di ayun oleh tali galau yang kian erat. Kucoba sekuat tenaga mencari harap, agar bisa terlepas dari galau. Tapi ... aku belum menemukan harap. Lelah juga lama lama ... dan aku pun terduduk hingga akhirnya rebah dan tertidur. Masih diikat oleh tali galau. Bahkan sekarang aku mulai diselimuti oleh kabut ragu. Atau mungkin itu hanyalah fatamorgana yang diciptakan oleh parasit putus asa yang perlahan namun pasti datang dan bersarang di hati juga pikiranku.
Masih hujan ... kelas pun tidak ada tanda tanda untuk bubar. Sang dosen masih terlihat semangat untuk berbicara di depan kelas sebagai moderator dari teman teman lain yang sedang presentasi. Banyak yang bertanya, walau menurutku topiknya tidak terlalu menarik. Bukan salah mereka, tetapi hasil undian yang ditulis di kertas, dimasukan ke dalam sedotan, diamsukan lagi ke dalam gelas kosong yang di atasnya ditutupi kertas yang dibolongi. Seperti arisan, kelompok itu mengambil kertas yang dilapisi sedotan itu untuk melihat tema mereka, dan itulah yang mereka dapat. Topik yang membosankan. Entah karena aku tidak terlalu suka atau memang aku tidak menyimak. Tapi yang pasti ada 1 orang teman yang sangat mencari perhatian dosen. Mencoba bermain aman sepertinya. Aku terdiam dan berpikir. Salah satu cara untuk merubah takdirkah? Karena dia itu mengulang mata kuliah yang ini. Takdir ... kenapa topik itu yang muncul di kepalaku? Seperti orang yang tidak bersyukur saja. Tapi apa salah kalau berkesah karena lelah?
Sudah sudah ... usaha adalah cara efektif untuk memanggil dan mengundang harap untuk datang. Semakin besar usaha, maka semakin besar harap. Agak berbanding lurus, bukannya pasti. Walaupun kemungkinan besarnya seperti itu. Namun tidak selalu. Pun, ada hal yang bisa menguatkan harap untuk makin cepat datang. Do'a. Sayang ... Tuhan saat ini sedang aku kebelakangkan. Suatu kebodohan terlalu tolol. Tapi ternyata aku bukan satu satunya orang yang melakukan kebodohan macam itu. Bukan tak ingin kembali, hanya saja ada malu dan sungkan menutupi hidayah dan cahaya Tuhan yang diperuntukkan pada hati.
Masih saja hujan. Ku ambil HP yang Aku selipkan di dalam kantong celana. Jam 8 kurang. Masih lama sekali kita akan dibubarkan. Di dalam kelas aku mulai tidak merasa nyaman. Bukan karena aku duduk di pojokan, sendirian dan diasingkan. Aku malah duduk di barisan tengah agak ke belakang, dan di apit oleh beberapa teman di kanan dan di kiri Ku. Namun, saat ini aku sedang ingin sendiri, tidak lebih. Berharap bisa mengadu kepada yang mau mendengar, namun sepertinya tidak ada.
Akhirnya kelas bubar. Hujan juga mulai reda. Aku mulai berpikir untuk menghubungi Ibu, karena Ibu sedang berada di rumah Bude, kakak Ibu. Ibu meminta aku untuk kesana untuk menjemput dia. Namun sewaktu Ibu menghubungi aku, percakapan terhenti. Baterai Ku habis. Dua buah HP yang aku miliki semuan baterainya habis. Apa ini juga bagian takdir? Atau hanya kecerobohan karena tidak memprediksikan situasi yang mungkin hadir. Hasilnya ketika aku menghubungi Bude, sepupuku yang mengangkat telefon Ku. Dia tidak marah, namun aku merasakan ada kekesalan karena baru menghubungi setelah sekian lama. Selain juga karena Ibu sudah pulang dengan Taksi seorang diri ke rumah yang jaraknya jauh dari rumah Bude.
Aku mencoba merubah takdir, namun sulit. Ataukah memang tidak bisa lagi diubah? Atau aku telah membuat pilihan salah? Ingin rasanya terbang ke angkasa dengan sayap merentang lebar. Seperti Malaikat. Namun, saat ini aku hanya merenung dan mencoba mencari privasi dalam sendiri. Khayal, tolong temani aku. Sepi, tolong lindungi aku. Sedih, kamu boleh lagi bertamu. Air mata, silahkan kau basahkan pipiku .... temani tetesan hujan yang mulai lagi menyapa bumi.
Hari ini hujan ... tiap tetes airnya membuatku merenung tentang takdir. Hembusan angin dingin membawa aku ke alam pikir untuk mencari satu kesimpulan. Sebuah hipotesa dari banyaknya teori yang diutarakan orang mengenai takdir. Heran ... mengapa lembab udara malah membuat aku ingin terawangi takdir? Mungkin perpaduan sejuk, gelap dan semilir sangat kondusif menghadirkan melankolis ke dalam kepalaku. Atau mungkin karena situasi diri akhir akhir ini yang terasa lepas dari pasti. Gantung ... di ayun oleh tali galau yang kian erat. Kucoba sekuat tenaga mencari harap, agar bisa terlepas dari galau. Tapi ... aku belum menemukan harap. Lelah juga lama lama ... dan aku pun terduduk hingga akhirnya rebah dan tertidur. Masih diikat oleh tali galau. Bahkan sekarang aku mulai diselimuti oleh kabut ragu. Atau mungkin itu hanyalah fatamorgana yang diciptakan oleh parasit putus asa yang perlahan namun pasti datang dan bersarang di hati juga pikiranku.
Masih hujan ... kelas pun tidak ada tanda tanda untuk bubar. Sang dosen masih terlihat semangat untuk berbicara di depan kelas sebagai moderator dari teman teman lain yang sedang presentasi. Banyak yang bertanya, walau menurutku topiknya tidak terlalu menarik. Bukan salah mereka, tetapi hasil undian yang ditulis di kertas, dimasukan ke dalam sedotan, diamsukan lagi ke dalam gelas kosong yang di atasnya ditutupi kertas yang dibolongi. Seperti arisan, kelompok itu mengambil kertas yang dilapisi sedotan itu untuk melihat tema mereka, dan itulah yang mereka dapat. Topik yang membosankan. Entah karena aku tidak terlalu suka atau memang aku tidak menyimak. Tapi yang pasti ada 1 orang teman yang sangat mencari perhatian dosen. Mencoba bermain aman sepertinya. Aku terdiam dan berpikir. Salah satu cara untuk merubah takdirkah? Karena dia itu mengulang mata kuliah yang ini. Takdir ... kenapa topik itu yang muncul di kepalaku? Seperti orang yang tidak bersyukur saja. Tapi apa salah kalau berkesah karena lelah?
Sudah sudah ... usaha adalah cara efektif untuk memanggil dan mengundang harap untuk datang. Semakin besar usaha, maka semakin besar harap. Agak berbanding lurus, bukannya pasti. Walaupun kemungkinan besarnya seperti itu. Namun tidak selalu. Pun, ada hal yang bisa menguatkan harap untuk makin cepat datang. Do'a. Sayang ... Tuhan saat ini sedang aku kebelakangkan. Suatu kebodohan terlalu tolol. Tapi ternyata aku bukan satu satunya orang yang melakukan kebodohan macam itu. Bukan tak ingin kembali, hanya saja ada malu dan sungkan menutupi hidayah dan cahaya Tuhan yang diperuntukkan pada hati.
Masih saja hujan. Ku ambil HP yang Aku selipkan di dalam kantong celana. Jam 8 kurang. Masih lama sekali kita akan dibubarkan. Di dalam kelas aku mulai tidak merasa nyaman. Bukan karena aku duduk di pojokan, sendirian dan diasingkan. Aku malah duduk di barisan tengah agak ke belakang, dan di apit oleh beberapa teman di kanan dan di kiri Ku. Namun, saat ini aku sedang ingin sendiri, tidak lebih. Berharap bisa mengadu kepada yang mau mendengar, namun sepertinya tidak ada.
Akhirnya kelas bubar. Hujan juga mulai reda. Aku mulai berpikir untuk menghubungi Ibu, karena Ibu sedang berada di rumah Bude, kakak Ibu. Ibu meminta aku untuk kesana untuk menjemput dia. Namun sewaktu Ibu menghubungi aku, percakapan terhenti. Baterai Ku habis. Dua buah HP yang aku miliki semuan baterainya habis. Apa ini juga bagian takdir? Atau hanya kecerobohan karena tidak memprediksikan situasi yang mungkin hadir. Hasilnya ketika aku menghubungi Bude, sepupuku yang mengangkat telefon Ku. Dia tidak marah, namun aku merasakan ada kekesalan karena baru menghubungi setelah sekian lama. Selain juga karena Ibu sudah pulang dengan Taksi seorang diri ke rumah yang jaraknya jauh dari rumah Bude.
Aku mencoba merubah takdir, namun sulit. Ataukah memang tidak bisa lagi diubah? Atau aku telah membuat pilihan salah? Ingin rasanya terbang ke angkasa dengan sayap merentang lebar. Seperti Malaikat. Namun, saat ini aku hanya merenung dan mencoba mencari privasi dalam sendiri. Khayal, tolong temani aku. Sepi, tolong lindungi aku. Sedih, kamu boleh lagi bertamu. Air mata, silahkan kau basahkan pipiku .... temani tetesan hujan yang mulai lagi menyapa bumi.
Monday, September 24, 2007
Kisi Kisi Sisi
Sudah semakin jelas saja ... sekuat apapun usaha untuk memaklumi, mengerti, bahkan berempati, tetap tidak bisa untuk merubah kenyataan yang ada. Memang sebaiknya berhenti menjadi naif, karena tidak akan mengubah paham. Bahkan bisa membuat salah paham. Status adalah acuan awal kebanyakan orang ketika mengenal seseorang. Bahkan Ia selalu terlintas ketika kita melihat orang lain, walau sekilas. Statuslah yang membuat perbedaan perlakuan, perbedaan tanggapan, perbedaan perhatian hingga perbedaan kesempatan. Suatu hal yang harusnya bisa dan sangat boleh untuk dirasakan dan didapatkan serta diberikan secara adil dan rata. Memang Manusia bukan Malaikat, Dewa apalagi Tuhan. Wajar jika manusia tidak bisa berada di tengah. Namun paling tidak mereka punya pilihan untuk bersikap. Sayang, lebih banyak yang memilih untuk bersikap memihak; memihak pada yang berstatus lebih elit, lebih mapan, lebih populer. Ada pamrih tersembunyi di balik sikap ramah dan senyum manis; harapan agar bisa masuk ke dalam lingkaran orang orang pujaan. Sangat palsu, tak ubahnya badut dengan make up tebalnya yang selalu saja dianggap lucu. Padahal wajah aslinya terletak di balik senyum lebar dan baju gombrongnya. Siapa yang tau ekspresi asli si Badut? Siapa yang bisa menebak ukuran tubuh si Badut?
Lebih sedih, pandangan sinis yang diiringi sikap cemooh dan ucapan hardik adalah paket lengkap yang dialamatkan bagi para pemilik status dengan kondisi cukup dan kurang. Seolah mereka adalah kelompok kasta rendahan, penyakitan dan parasit bagi orang di sekitarnya. Padahal usaha keras dan banting tulang adalah kegiatan mereka sehari hari. Mungkin kebanyakan dari mereka lebih banyak menggunakan otot daripada otak, tetapi bukan berarti mereka tidak pernah berpikir. Picik ternyata lebih sering datang dan bersarang pada orang orang yang bertitel dan berpendidikan. Ironi sekaligus refleksi betapa moral telah di peti es kan oleh banyak pribadi. Walaupun tiap pribadi masih punya hati, tetapi hati telah ditempatkan di balik jeruji iri, dengki dan serakah. Kepalsuan adalah wajah populer, dimana basa basi dan formalitas harus diutamakan. Curang adalah tindak profesional, karena sangat sah untuk berhasil dengan segala cara.
Tidak adil bila saya memukul rata semua orang dari sudut pandang ini. Itu pikiran yang sangat dangkal. Namun sekedar ekspresi kesal yang terlalu memuncak atas sikap kebanyakan. Mungkin saya yang sudah jauh dari orang orang yang masih menggunakan wajah asli dan berprinsip pada moral. Mungkin Saya terdampar di antara orang orang palsu dan picik, bahkan licik. Mungkin tanpa sadar saya sudah menjadi seperti mereka. Ataukah memang ini wajah kenyataan? Mungkin ini adalah fase yang harus dilalui oleh tiap individu, semacam tahapan sebelum bisa melanjutkan ke tahapan yang lebih serius. Untuk tetap Netral adalah sulit. Untuk bisa mengubah mereka menjadi baik jauh lebh sulit. Namun, itu ternyata tuntutan pada tiap manusia. Apakah kita cukup peduli dan mau beraksi? Pertanyaan yang bila ditujukan ke saya akan saya respon dengan diam atau saya alihkan pada topik yang lain. Berat memang, namun mulia telah dijanjikan pada manusia yang peduli dan beraksi.
Macam macam bentuk usaha ... ini hanya salah satu bentuk yang termudah dan terletak di urutan paling bawah. Namun mungkin saja bisa dijadikan penambah wacana. Terlalu Naif bila berharap Dunia akan bebas dari orang orang palsu nan picik dan licik, namun paling tidak kita bisa berusaha untuk tidak terbawa dan terwarnai. Lebih baik lagi, kita memberi warna. Warna warni kebenaran yang dilukis dengan kuas moral, dihias dengan malu dan dibingkai dengan santun. Semoga ....
Lebih sedih, pandangan sinis yang diiringi sikap cemooh dan ucapan hardik adalah paket lengkap yang dialamatkan bagi para pemilik status dengan kondisi cukup dan kurang. Seolah mereka adalah kelompok kasta rendahan, penyakitan dan parasit bagi orang di sekitarnya. Padahal usaha keras dan banting tulang adalah kegiatan mereka sehari hari. Mungkin kebanyakan dari mereka lebih banyak menggunakan otot daripada otak, tetapi bukan berarti mereka tidak pernah berpikir. Picik ternyata lebih sering datang dan bersarang pada orang orang yang bertitel dan berpendidikan. Ironi sekaligus refleksi betapa moral telah di peti es kan oleh banyak pribadi. Walaupun tiap pribadi masih punya hati, tetapi hati telah ditempatkan di balik jeruji iri, dengki dan serakah. Kepalsuan adalah wajah populer, dimana basa basi dan formalitas harus diutamakan. Curang adalah tindak profesional, karena sangat sah untuk berhasil dengan segala cara.
Tidak adil bila saya memukul rata semua orang dari sudut pandang ini. Itu pikiran yang sangat dangkal. Namun sekedar ekspresi kesal yang terlalu memuncak atas sikap kebanyakan. Mungkin saya yang sudah jauh dari orang orang yang masih menggunakan wajah asli dan berprinsip pada moral. Mungkin Saya terdampar di antara orang orang palsu dan picik, bahkan licik. Mungkin tanpa sadar saya sudah menjadi seperti mereka. Ataukah memang ini wajah kenyataan? Mungkin ini adalah fase yang harus dilalui oleh tiap individu, semacam tahapan sebelum bisa melanjutkan ke tahapan yang lebih serius. Untuk tetap Netral adalah sulit. Untuk bisa mengubah mereka menjadi baik jauh lebh sulit. Namun, itu ternyata tuntutan pada tiap manusia. Apakah kita cukup peduli dan mau beraksi? Pertanyaan yang bila ditujukan ke saya akan saya respon dengan diam atau saya alihkan pada topik yang lain. Berat memang, namun mulia telah dijanjikan pada manusia yang peduli dan beraksi.
Macam macam bentuk usaha ... ini hanya salah satu bentuk yang termudah dan terletak di urutan paling bawah. Namun mungkin saja bisa dijadikan penambah wacana. Terlalu Naif bila berharap Dunia akan bebas dari orang orang palsu nan picik dan licik, namun paling tidak kita bisa berusaha untuk tidak terbawa dan terwarnai. Lebih baik lagi, kita memberi warna. Warna warni kebenaran yang dilukis dengan kuas moral, dihias dengan malu dan dibingkai dengan santun. Semoga ....
Subscribe to:
Posts (Atom)